Jumat, 05 Juli 2024

MDK (Materi Dasar Kekristenan) 3 -- BAB 1 : KERAJAAN ALLAH

MDK (Materi Dasar Kekristenan) 3

BAB 1 : KERAJAAN ALLAH


Gambaran singkat pembahasan tema Kerajaan Allah
(1.) Pengertian Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga
(2.) Latar Belakang Kerajaan Allah Masa Perjanjian Lama dan Perjanjian baru.
(3). Kerajaan Allah dalan Injil Matuis dan Injil Markus
(4). Konsep Kerajaan Allah menurut Yesus,
(5). Kesimpulan

PENDAHULUAN

Tema “Konsep Kerajaan Allah Menurut Tuhan Yesus” adalah tema yang sangat menarik yang dapat kita pelajari dalam Alkitab, khususnya dalam kitab-kitab Injil.
Baik para rasul sebagai penulis Injil maupun langsung dari Yesus sendiri mulai dari kelahiran, karakter, pelayanan, kematian dan kebangkitan Yesus.

Kerajaan Allah adalah Kerajaan dalam rancang bangun (penggambaran/sketsa) oleh Yesus sendiri berdasarkan kesaksian Allah pada masa PL dan terealisasi secara langsung dalam diri Yesus Kristus.
Yesus menyatakan Kerajaan Allah bukan secara fisik tetapi dalam dunia rohani dan dapat dialami oleh semua orang percaya.

Kerajaan Allah menurut Yesus adalah kerajaan Allah untuk menyatakan Injil, untuk menegakkan kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus, pengampunan dosa, penyembuhan ilahi dan penghancuran kerajaan iblis beserta para pengikutnya.
Kerajaan Allah menyangkut masa kini di bumi dan masa yg akan datang (Langit Baru Bumi Baru/LB3).
Kerajaan Allah menuntut pertobatan dan kelahiran baru.

PENGERTIAN KERAJAAN ALLAH ATAU KERAJAAN SORGA

Orang Israel tidak asing dg istilah ”Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga”.
Secara etimologi, istilah Kerajaan dalam bahasa Ibrani “twklm, Mulkuth” berarti pemerintahan, peraturan yaitu : daerah kekuasaan sebuah kerajaan (Est 1:4), pengangkatan ke atas tahta (Est 4: 14), masa pemerintahan (Est 2: 16).
Selain itu ada istilah "hklmam, Mamlakah" yang berarti sama, hanya arti dasarnya adalah daerah dan sekelompok orang yang membentuk sebuah kerajaan.
Secara khusus menunjuk Israel sebagai Kerajaan Allah (Kel 19: 6, 2 Sam 7: 16; Yeh 37: 22), juga menunjuk kepada seorang raja tertentu yang memerintah sebuah kerajaan, ( 1 Sam 28: 17).

Dalam PB, Kerajaan dalam bahasa Yunani “Basileia”, istilah tersebut juga digunakan oleh Yesus dan para murid-Nya.
"Namun yang paling jelas terdapat dalam Matius 19: 23 dan 24, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya : Sukar sekali orang kaya masuk Kerajaan Sorga“ sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk dalam Kerajaan Allah”

Ide alkitabiah tentang Kerajaan Allah berakar dalam Perjanjian Lama dan didasarkan pada keyakinan bahwa ada satu Allah yang hidup dan kekal yang telah menyatakan diri-Nya kepada manusia dan yang mempunyai rencana bagi umat manusia dan Ia sudah memilih untuk melaksanakan rencana itu melalui orang-orang Israel”

Istilah “Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga” muncul dalam Injil Matius 4:17 dan Markus 1:15, Dua istilah tersebut, memiliki latar belakang yang berbeda tetapi memilki maksud yang sama.
Matius menggunaka Kerajaan Sorga, semata-mata sebagai suatu cara untuk menghindari penggunaan nama Allah, sebagaimana hal itu dilarang dalam hukum ketiga dari sepuluh hukum (Keluaran 20:7), mengingat para pembacanya adalah orang Kristen Yahudi yang masih berpegang pada hukum tersebut.
Sorot pandang Kerajaan Sorga dipengaruhi oleh konsep Yahudi, Matius ingin menegaskan bahwa nama “Allah” sangat mulia dan terlampau suci, sehingga tidak boleh secara sembarangan menyebutkan nama Allah tersebut.

Kerajaan Allah sama artinya dengan Kerajaan Sorga yaitu : “Allah yang datang ke dunia untuk menyatakan kuasa, kemuliaan, dan hak-hakNya melawan kekuasaan Iblis, Allah mengungkapkan diri-Nya dengan penuh kuasa dalam semua karya-Nya”
Kerajaan Allah adalah kerajaan rohani.
“Allah dengan kerajaan-Nya menegakkan Kerajaan Rohani di dalam dunia ini dengan Kristus sebagai Raja di atas segala Raja.
Kristuslah yang mendirikan Kerajaan Allah dan sekaligus Raja di dalam Kerajaan tersebut”.
Kerajaan-Nya akan mengalahkan segala kuasa apapun termasuk kekuasaan Iblis dan roh-roh jahat di dunia.

LATARBELAKANG KERAJAAN ALLAH MASA PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU

▪Latar Belakang Kerajaan Allah Masa Perjanjian Lama dapat kita telusuri dari rencana Allah atas bangsa Israel masa PL.
Israel adalah bangsa pilihan Allah, kepada Abraham diberitahukan janji tentang Mesias.
Galatia 3:16," adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya.
Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang : "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.
Allah memanggil Abraham (Kej.12:1-3), Allah berjanji bahwa Abraham akan menjadi bangsa yang besar dan memberkatinya.

Dari nubuatan tersebut, Daud sebagai raja Israel juga mendapatkan pesan akan lahirnya Mesias yang akan menegakkan Kerajaan-Nya dengan pemerintahan yang tidak berkesudahan (2 Sam 7: 12-16).
Bagi orang Israel, makna Kerajaan Allah sangat melekat dalam iman mereka, para nabi juga memberitakan tentang hadirnya Kerajaan Allah yang akan nyata di dunia ini.
Allah dilukiskan sebagai Raja yang akan memerintah atas Israel dan seluruh bumi (Kel 15:18 ; Yes 43:15).

Kerajaan yang bersifat Teokrasi (bentuk pemerintahan dimana prinsip-prinsip ilahi memegang peran utama).
Hal ini sangat nyata dalam pola Allah di Taman Eden, pada masa Nuh, para bapa leluhur Israel atau jaman Patriakh, masa Hakim-hakim dan para nabi.

Dalam PL konsep Kerajaan Allah sangat jelas :

1). Allah sebagai hakim yang akan mengadili seluruh umat manusia, (Yesaya 4;2-4 ; Yeremia 29: 10 ; Yeremia 23;5-8 ; Yehezkiel 20:34-38)
2). Pengharapan Mesianik atau kelahiran Yesus, pelayanan Yesus sampai kematian dan kebangkitan-Nya (Yesaya 7:10-14; Yesaya 53).
3). Kedatangan Tuhan Yesus dan karakteristik pemerintahan-Nya di dunia ini (Yesaya 11).
4). Pemerintahan Yesus sebagai Raja dalam Kerajaan Sorga (I Tes 4: 13-18, Wahyu 21-22)

▪Latar Belakang Kerajaan Allah Masa Perjanjian Baru, dapat kita lihat dari sejarah bangsa Israel saat dijajah oleh bangsa Romawi.
Selain menjajah Israel, Romawi juga memperluas jajahannya atas bangsa-bangsa seperti Eropa, Asia, Afrika dan bangsa-bangsa di sekitar Laut Tengah”
Dari penjajahan tersebut bangsa Israel mengalami penderitaan.
Berulang kali bangsa Israel berusaha memerdekakan diri tetapi sia-sia belaka.

Berikut sejarah singkat bangsa Israel :
Pada saat itu, sekitar 100 tahun sM, Israel dipimpin oleh seorang raja dari suku Makabeus.
Setelah Makabeus meninggal pada tahun 76 sM, Aleksandra permaisurinya menggantikan kepemimpinannya dari tahun 76-69 sM.
Setelah Aleksandra mati, kedua anaknya yang bernama Hirkanus anak sulung dan Aritobulus anak bungsunya bertengkar merebutkan tahta kekuasaan di Israel.
Dari pertengkaran tersebut terjadilah perang yang sangat hebat dan dahsyat.
Hirkanus dan Aristobulus meminta pertolongan kepada jendral Roma yang bernama Pompeyus yang pada saat itu bersama para tentaranya berada tidak jauh dari perbatasan daerah Israel. Pompeyus dapat meleraikan pertengkaran tersebut dan memihak Hirkanus menjadi raja dan berakhirlah kekuasaan Aristobulus.
Dari peristiwa tersebut sekitar tahun 63 sM, bangsa Romawi dengan bebas masuk dan berkuasa atas Israel.
Hirkanus diangkat menjadi raja, tetapi dalam segala kepemimpinannya harus tunduk kepada orang-orang Romawi.

Hirkanus tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghadapi bangsa Romawi yang kuat itu.
Setiap raja-raja Israel yang memerintah harus mendapat ijin dan mendapatkan mahkota kerajaan dari tangan Kaisar Romawi.

Pada saat pemerintahan raja Hirkanus, di sebelah selatan di daerah Edom, memerintah seorang wakil pemerintah bernama Antipater.

Antipater mempunyai seorang anak bernama Herodes, keturunan bangsa Edom memerintah di Galilea, Herodes berusaha sekuat tenaga untuk menjadi raja di Israel.
Suatu kali Israel diserang oleh bangsa Partia.
Herodes secepat mungkin minta bantuan kepada bangsa Roma dan datanglah bala tentara Roma yang kuat.

Yerusalem akhirnya direbut kembali dan Hirkanus dibebaskan dari tawanan.
Setelah Yerusalem bebas dan aman, Herodes diangkat menjadi raja Israel oleh bangsa Roma.

Herodes dapat mengambil hati bangsa Roma sehingga tercapailah cita-citanya untuk menjadi raja Israel menggulingkan raja Hirkanus.
Pada usianya yang ke 80, Hirkanus dibunuh oleh raja Herodes.

Herodes keturunan bangsa Edom, akhirnya berkuasa di Israel sampai pada kelahiran Tuhan Yesus. Para Majus mencari raja orang Yahudi atau Mesias, yaitu seorang raja orang Yahudi keturunan raja Daud, yang telah lahir di Israel.
Hal itu sangat menggetarkan hati raja Herodes, sehingga dia memerintahkan bayi-bayi di Yerusalem yang berumur dua tahun ke bawah harus dibunuh ( Mat 2: 1-18).
”Herodes adalah raja yang sangat bengis, Herodes juga membunuh istrinya sendiri, ke tiga anak kandungnya dan masih banyak lagi keluarganya yang dibunuh”.
Herodes juga memiliki niat yang kuat untuk disembah.
Herodes menyuruh rakyatnya membuat gedung dan bangunan yang indah-indah di tanah Yehuda dan di Yerusalem. Bait Zerubabel yang sangat besar dan indah dibangun selama empat puluh enam tahun lamanya (Yoh 2:20).
Pintunya berlapis dua bertahtakan emas dan permata, pemberian seorang Yahudi dari Aleksandria atau Mesir.
Tetapi Herodes meninggal sebelum bangunan tersebut selesai.

Setelah Herodes meninggal, Israel dipimpin oleh ketiga anak-anaknya : Arkhelaus, Herodes Antipas dan Filipus.
Bangsa Israel sangat benci pada keluarga Herodes.
Salah satu anaknya yang bernama Arkhelaus, seorang yg sangat bengis dan keras, shgg bangsa Israel sangat membencinya. Ia memerintah di Yudea selama sepuluh tahun.
Namun , akhirnya Arkhelaus dibuang oleh kaisar Roma.

Sejak kejadian itu tidak ada raja di Yudea dan akhirnya Israel langsung diperintah oleh wakil-wakil pemerintah Romawi yang selalu diangkat oleh Kaisar.

Salah satu pemicu penderitaan dan kesengsaraan Israel adalah adanya bea pajak atas rakyat Israel, oleh sebab itu rakyat sangat menetangnya.
Orang-orang Yahudi membuat gerakan-gerakan politik.
Gerakan kemerdekaan Israel dipimpin oleh orang-orang Zelot dan didukung oleh orang-orang Farisi.

Karena mereka benci terhadap orang-orang Romawi, yang juga penjajah bg mereka.
Perjuangan bangsa Israel untuk merdeka semakin kuat dan dipromotori oleh orang-orang Farisi, yang cinta kemerdekaan.
Walaupun mereka menyadari tidak mungkin dapat mengalahkan Romawi, tetapi mereka percaya bahwa hanya Allah sendiri yang dapat mengalahkannya.
Allah hadir dalam nubuatan Mesias yang akan membebaskan umat Israel.

Oleh karena penderitaan bangsa Israel tersebut, maka mereka sangat merindukan Raja yang dijanjikan oleh Allah yaitu Mesias.
Mesias akan datang dan menegakkan kejayaan dan kemuliaan bangsa Israel seperti Daud bapa leluhurnya.

Adapun ciri-ciri Mesias yang dirindukan adalah sebagai berikut :
Mesias akan datang pada hari yang ditentukan Allah, Dia adalah Raja yang diutus dari Sorga, Mesias adalah Anak Daud, yang artinya Mesias adalah keturunan raja Daud, Mesias tidak berdosa dan tidak lemah di hadapan Allah.
Mesias penuh Roh Kudus, tidak dapat dikalahkan dan akan mempersatukan Israel, Dia akan seperti yang dinubuatkan oleh Musa Ul 18: 15, Mesias akan banyak mengadakan tanda-tanda mujizat, memberikan roti dari sorga Yoh 6: 30-31, dengan pedang Firman-Nya, Dia akan menghalau musuh-musuhnya, membersihkan Israel dari penindasan dan penjajahan, Israel akan jaya dan tidak menderita lagi, inilah pengharapan orang-orang Yahudi terhadap Mesias yang dijanjikan tsb.

KERAJAAN ALLAH DALAM INJIL MATIUS DAN INJIL MARKUS

▪Injil Matius memandang Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga (sudah diterangkan di atas) menunjuk kepada Yesus yang secara radikal menyatakan Kerajaan Allah hadir dan nyata dalam pelayanan-Nya.

Secara jelas dapat dibandingkan antara Kerajaan Allah dengan Kerajaan dunia :
a). Yesus menyatakan Kerajaan Allah sudah datang, dengan bukti mengusir setan dan roh-roh jahat ( Mat 12: 28).
b). Pelayanan Yesus penuh kuasa dari Sorga sangat berbeda dengan pelayanan orang Yahudi yang justru melawan kerajaan-Nya.
c). Yesus lebih besar dari Abraham, Yunus dan Salomo, dalam arti Yesus menegaskan diri-Nya datang karena menggenapi nubuatan Allah di PL, yang datang sebagai mesias atau Raja dan berkuasa atas segala yang ada, (Mat 12:41-42).
d). Yesus datang sebagai gembala yang menggembalakan umat-Nya, (Mat 26:31).

▪Injil Markus memandang Kerajaan Allah sebagai kontinuitas pada waktu lampau dan sampai masa kini tetap berlangsung (peplerotai ho kairos).
Pada masa pelayanan Yesus dan dalam diri Yesus Karajaan Allah sudah tiba dan terus berlangsung sampai masa kini (Markus 1:15).
Inilah masuknya Kerajaan Allah dalam sejarah manusia.
Kerajaan Allah sudah dekat (Basileia tou Theou), yang menunjuk pada pemerintahan atau kedaulatan Allah yang dalam pemenuhannya secara sempurna belum tiba atau masih di depan.
Tuhan Yesus menyatakan Kerajaan Allah dengan bukti adanya konflik atau konfrontasi dengan kerajaan Iblis.

Contoh-contoh dalam kitab Markus yang menyatakan kuasa Yesus lebih besar dan menang terhadap kerajaan Iblis
a). Yesus berhadapan dengan Iblis dan menang dalam pencobaan (Mrk 1:12-13)
b). Yesus berkonfrontasi dengan Iblis dan di usirnya setan tersebut dari orang yang kerasukan setan (Mrk 1: 23-26)
c). Yesus tidak berkompromi dengan Setan walaupun setan mengetahui misi Yesus, Yesus menghardik dan mengusirnya, (Mrk 1: 23-26)
d). Yesus mencari dan menyelamatkan orang yang hilang oleh karena cengkraman setan dan Yesus mengusir roh jahat di Gadara (Mrk 5; 1-20)
e). Setan-setan takut dan tunduk dengan Kerajaan Allah Mrk 3:11

KONSEP KERAJAAN ALLAH MENURUT TUHAN YESUS

Kerajaan Allah menurut Tuhan Yesus mengarah pada dua masa yaitu masa kini dan masa mendatang atau masa Eskatologi.
Kerajaan Allah masa sekarang yang dapat dirasakan dan dialami pada masa kini.
Kerajaan Allah masa mendatang yang dapat dialami pada masa pengangkatan orang-orang percaya ke dalam sorga, yang mana secara mutlak Yesus bertahta sebagai Raja selama-lamanya dalam kerajaan-Nya.

Kerajaan Allah masa kini menyatakan Yesus sudah datang ke dunia.
Jadi, pemerintahan Allah beserta segala sesuatunya sudah hadir dan tersedia bagi kita melalui pribadi Yesus.
Suatu fakta yang sangat jelas dalam ajaran Yesus, bahwa di dalam pelayanan-Nya pada abad pertama, Kerajaan Allah sudah benar-benar ada di dunia ini.

Beberapa hal yang dapat kita pelajari dan sangat nyata akan Kerajaan Allah masa kini dari Yesus
adalah :
a). Pengakuan Yesus sendiri tentang hadirnya Kerajaan Allah pada masa kini dalam pelayanan-Nya di bumi.
“Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara Kita, Allah ada di antara kamu”( Luk 17: 21).
b). Kerajaan Allah nyata dalam diri Yesus dengan bukti Dia mengalahkan dunia ini dengan kuasa Allah (Yoh 16: 33).
c). Yesus membuktikan Kerajaan Allah dengan cara mengalahkan dan menghancurkan setan dengan kuasa Roh Allah (Mat 12: 28).
d). Yesus menegaskan bahwa Kerajaan Allah itu secara langsung pada masa kini dapat dinikmati oleh orang-orang percaya, (Yoh 18: 36, Fil 3: 20)
e). Kerajaan Allah dinyatakan Yesus di bumi ini sebagai wujud pelaksanakan kehendak Bapa-Nya, pekerjaan Bapa adalah pekerjaan-Nya di bumi, ini menunjukkan seluruh mujizat dan kehidupan Yesus adalah untuk merealisasikan kehadiran Kerajaan Allah dari Sorga, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang maka Akupun bekerja juga” (Yoh 5: 17).
Yesus mengakui bahwa Dia tidak dapat berbuat apa-apa jika tidak diberi mandat oleh Bapa-Nya, dan apa yang dilakukan Yesus adalah seluruhnya dari Bapa yang mengajarkan-Nya dan Bapa berkenan kepada-Nya (Yoh 8 : 28,29 ; 14:10).
f). Kerajaan Allah yang Yesus nyatakan adl Kerajaan yg berasal dari atas atau Sorga.
Yesus mengalahkan semua kerajaan yang ada di bumi ini dengan kekuatan Roh Kudus bukan dengan kekuatan militer atau politik.
Yesus sangat faham dan mengetahui bahwa bangsa Israel hidup dalam penderitaan akibat penjajahan Romawi, juga Raja Herodes dan keturunannya adalah raja-raja yang sangat jahat dan bengis (sudah disinggung di atas) yang sangat merugikan bangsa Israel.
Sebagai Mesias atau Raja Yahudi Yesus dan pelayanan-Nya justru tidak mengusik dan berusaha secara fisik menandingi dan mengalahkan Romawi, tetapi Yesus justru lebih berurusan dengan membangun kerajaan-Nya dan orang-orang percaya untuk memandang ke Sorga dan dengan segala pengharapannya.
Kerajaan-Nya sangat menuntut pertobatan dan penyerahan hidup secara total kepada Allah.
Pertobatan yang mutlak dan percaya kepada Injil, yang pada dasarnya adalah percaya kepada Tuhan Yesus sendiri (Mrk.1: 15), Yesus sangat tegas dalam menyatakan kerajaan-Nya.
Hanya orang yang bertobat, lahir baru dan suci hatinya mereka akan melihat Kerajaan Allah, (Yoh 3:3).
g). Kerajaan Allah yang Yesus maksudkan selain untuk masa kini atau sekarang juga menyangkut masa mendatang atau eskatologis.
Yesus tekankan dengan perumpamaan-perumpamaan yang dapat kita baca dalam kitab Injil.
h). Kerajaan Allah menurut Yesus adalah Kerajaan yang Allah rancangkan sejak dunia dijadikan bagi orang-orang percaya.
“Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu, ke dalam kerajaan yang disediakan bagi kamu sebelum dunia dijadikan.”
i). Yesus dengan tegas memberi peringatan dan selalu waspada kepada para penyesat yang mengatas namakan diri-Nya dan menganggap dirinya mesias, ini sebagai bukti bahwa Yesus adalah Raja yang sudah menggenapi nubuatan Allah dan hanya Dia sajalah Raja dan Tuhan atas segala makluk (Mrk. 13: 14-23, Mat 24: 15-28, Luk 21: 20-24).

KESIMPULAN

Konsep Kerajaan Allah menurut Tuhan Yesus adalah Kerajaan yang sudah dinubuatkan oleh Allah pada masa Perjanjian Lama (PL).
Kerajaan itu sebagai penggenapan akan kehadiran Mesias yang akan memerintah Israel dan seluruh dunia, dengan pemerintahan yang tidak akan berkesudahan.
Kelahiran Yesus di bumi ini sebagai penggenapan nubuatan Allah telah nyata, Yesus adalah Mesias dan datang untuk menyelamatkan umat-Nya, tetapi orang-orang Yahudi tidak dapat menerima Yesus sebagai Raja mereka dan meragukan kemesiasan-Nya.
Pengharapan mereka sangat bertolak belakang dengan konsep mereka secara politik atau militer. Inilah yang membuat perbedaan konsep Kerajaan menurut Tuhan Yesus dengan konsep kerajaan menurut orang-orang Yahudi.
Dengan demikian kita dapat belajar bagaimana Yesus menyatakan diri sebagai Penyelamat, Raja dan Tuhan di atas segala tuan, yang tidak hanya membebaskan manusia dari jajahan fisik saja tetapi juga secara roh dan jiwa.
Dengan pribadi, pelayanan, pengajaran kematian dan kebangkitan Yesus, terbukti Kerajaan Allah sudah nyata dan sempurna di bumi dan di Sorga.


Erwan Musa : ☎️ 082157116469


Kamis, 30 Mei 2024

RAHASIA KEKUATAN PAULUS MENJALANI HIDUP DAN PELAYANANNYA -- FILIPI 4:10-20 (eksposisi)

 

RAHASIA KEKUATAN PAULUS MENJALANI HIDUP DAN PELAYANANNYA -- FILIPI 4:10-20 (eksposisi)


Filipi 4:10-20 (TB)
10. Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu.
11. Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.
12. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.
13. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
14. Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil bagian dalam kesusahanku.
15. Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaat pun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu.
16. Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.
17. Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.
18. Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.
19. Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.
20. Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin.

PENDAHULUAN

Surat Filipi, Efesus, Kolose dan surat Filemon dikenal sebagai surat penjara, karena ditulis saat Paulus dipenjara di Roma pada tahun 60 an M.
Dari sini kita dapat simpulkan bahwa justru di tengah penderitaan karena pemenjaraan, Paulus tetap menulis surat dengan maksud mendorong orang percaya agar tetap bersukacita dalam segala hal dan supaya menyadari bahwa Allah adalah sumber kekuatan di tengah hidup yang semakin sangat sulit.

Paulus dan Silas juga sempat dipenjara di Filipi karena Injil (Kis 16).
Mereka dipenjara dengan tangan dan kaki yang terbelenggu, namun sekalipun demikian dengan mulutnya yang tak terbelenggu itu, mereka tetap memuji Allah. Sehingga kemudian terjadilah gempa bumi yang menyebabkan belenggu mereka terlepas dan pintu penjara terbuka.
Sekalipun demikian, Paulus dan Silas tetap tinggal dalam penjara dan tidak melarikan diri.
Mereka justru menjadi berkat dan menyelamatkan kepala penjara yang ketakutan dan hendak bunuh diri, karena berpikir bahwa tahanannya yaiu Paulus dan Silas telah melarikan diri.

Paulus kemudian mengajak kepala penjara untuk percaya dengan pernyataan yang terkenal :
"Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu" (Kis 16:31)

Jadi Paulus bukan hanya mengajar, tetapi ia juga mempraktekkan apa yang ia ajarkan dan bahkan menjadi teladan bagi setiap orang percaya dalam menghadapi hidup yang penuh dengan tantangan.

ISI TEKS

Surat Filipi ditulis oleh Paulus dan yang menjadi salah satu tujuannya adalah karena ia hendak berterimakasih atas perhatian dan dukungan jemaat Filipi saat ia dipenjarakan di Roma.
Jemaat Filipi mengutus Epafroditus untuk melayani Paulus di penjara dan juga mengirimkan bantuan dana bagi Paulus.
Ucapan trima kasih tersebut dijelaskan oleh Paulus dalam Fil 4:10-20, dan Paulus bahkan merasa perlu untuk melakukan dua hal yaitu "ia perlu berterimakasih atas pemberian dari jemaat Filipi dan ia juga merasa perlu untuk menekankan prinsip-prinsip rohani untuk menghadapi tantangan hidup dengan penekanan agar orang percaya bersandar penuh kepada Tuhan lebih dari pada pertolongan manusia."

Kita akan membahas beberapa pokok pengajaran yang kita bagi menjadi 3 bagian dari perikop ini, dan kita dapat melihat pengajaran tersebut sebagai "Rahasia Kekuatan Paulus dalam menjalani hidup dan pelayanannya."

3 Bagian tersebut adalah sbb :
I. Kemampuan untuk mencukupkan diri (Fil 4:10-12)
Il. Sumber kekuatan dalam menghadapi kesulitan (Fil 4:13-18)
Ill. Allah yang memelihara kita (Fil 4:19-20)


I. Kemampuan untuk mencukupkan diri (Fil 4:10-12)

Paulus mengawali bagian ini dengan bersukacita atas pemberian jemaat Filipi dan ia memakai kata dalam kata yunani yang secara literal bermakna "engkau terus memperhatikan aku" (you have concerned of me).

Jemaat Filipi begitu memperhatikan Paulus, sehingga Paulus merasa perlu berterimakasih atas perhatian melalui pemberian mereka yang adalah merupakan buah dari pelayanan Paulus.
Sekalipun pemberian mereka adalah sukacita dan penghiburan bagi Paulus, tetapi ia tidak menyandarkan diri pada hal itu, demikian juga dengan menuliskan hal ini bukan berarti ia mengharapkan bantuan lagi.
Justru yang diucapkan Paulus adalah “aku sangat bersukacita di dalam Tuhan” (echarēn en kyriō megalōs).

Paulus sangat menyadari bahwa ada intervensi tangan Allah di balik kemauan dan kemampuan jemaat Filipi dalam mendukung tugas pelayanannya dalam pekerjaan Injil.

Kata “sangat” (megalōs) disini menyiratkan bahwa setiap pemberian adalah hal yang istimewa.

Ayat 10 mengajar kepada kita bahwa kebaikan sekecil apapun yang dilakukan orang terhadap kita, merupakan sebuah hal yang istimewa dari Tuhan, sehingga membuat kita harus memandang kebaikan seseorang bukan sebagai sesuatu yang biasa.

Secara jujur ia berkata bahwa ia telah belajar rahasia untuk mencukupkan diri dalam menghadapi berbagai keadaan, baik itu kekurangan maupun kelimpahan (ayat 12)
Ia tahu bahwa Tuhan tidak pernah gagal dalam menyediakan apa yang dia butuhkan dan bahkan Tuhanlah yang menguatkan dia dalam menghadapi setiap situasi dan keadaan.

Dalam menjelaskan hal ini, Paulus menggunakan tiga kata yang mempunyai arti penting secara religius dan filsafat pada masa itu.

1). Kata "aku telah belajar" (yun) menggunakan kata kerja ἔμαθον ; ematon (ay 11) yang secara literal berarti belajar atau menemukan sesuatu baik dari proses pendidikan, melalui pengalaman hidup dan dari praktek.

Dalam Yoh 7:15, kita menemukan kata "mempunyai pengetahuan tanpa belajar" (yun) εμαθηκώς ; memathēkōs dari kata μανθάνω ; manthanó ; belajar, memahami (dengan cara apa pun) yang dapat juga diartikan belajar melalui pendidikan formal di sekolah Rabbi-rabbi.

Dengan demikian Paulus hendak menegaskan bahwa ia telah belajar, baik dari orang-orang yang telah memberikan pendidikan kepadanya dan dari pengalaman serta praktek dalam kehidupannya.
Hal ini menunjukkan bahwa Paulus bukan sekedar menerima segala keadaan apa adanya, tetapi ia juga belajar dan berjuang untuk dapat menyesuaikan diri sehingga akhirnya dia dapat mengatakan bahwa "Saya telah belajar."

2). Pada ayat 11, (LAI) Kata "mencukupkan diri" (yun) αὐτάρκης ; autarkēs ; secara literal berarti "mencukupkan diri atau merasa puas."
Dari kata benda "autarkeia," biasa dipakai untuk menjelaskan orang yang melalui proses pendisiplinan mampu bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai kondisi atau tekanan dari luar dan yang pada akhirnya menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri untuk menghadapi situasi sulit.

Kata ini banyak dipakai dalam Filsafat Stoa yang pada dasarnya menekankan bahwa manusia harus puas dan mampu mencukupkan diri dalam segala keadaan dan dengan kekuatan serta kehendak mereka sendiri mampu bertahan dalam menghadapi segala keadaan yang menekannya.

Keterangan :
Pemahaman Stoa, berakar kepada Socrates (seorang filsup) yang pernah bertanya "Siapakah orang kaya itu?"
Ia adalah orang yang dapat merasa puas atau mencukupkan diri dengan apa yang minimal, karena merasa cukup adalah natur dari kekayaan.

Hanya saja ada perbedaan penting antara "merasa puas" yang Paulus sebutkan disini berbeda dengan "merasa puas" dari filsafat Stoa, dimana Paulus mampu merasa puas dalam menghadapi segala keadaan karena kebersandarannya kepada Allah.

3) Ayat 12, kata "tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku" Paulus memakai kata (yun)
μεμύημαι ; memuēmai

Kata "memuēmai" yang dalam PB hanya di temukan dalam ayat ini, secara literal berarti "telah dimasukkan atau disahkan" (have been initiated).
Kata "memuēmai" berasal dari agama misteri pada saat itu untuk suatu upacara yang diadakan saat seseorang disumpah ketika masuk ke dalam agama tersebut, agar mereka dapat lebih memahami rahasia dan keistimewaan dalam agama tersebut.

Kata ini dipakai oleh Paulus untuk menunjukkan komitmen dan kesiapannya, yang sangat mendalam dalam menghadapi segala situasi baik itu kekurangan atau kelimpahan.

Disini Paulus juga hendak mengatakan bahwa dia telah masuk kedalam semua misteri kehidupan dan ia telah menemukan rahasia tentang realitas kehidupan.
Tuhan telah banyak mengajar ia melalui keadaan yang baik dan buruk, serta bagaimana dia dapat menyesuaikan diri dengan kelaparan dan kekurangan dan juga dengan banyak makanan maupun kelimpahan.

Jadi pada ayat 12, kita dapat melihat penggunaan tiga kata kerja yaitu kata kerja οιδα ; oida, οιδα ; oida dan μεμύημαι ; memuēmai
― oida ... oida ... memuēmai (saya tahu bagaimana … tahu caranya … saya telah mempelajari rahasianya), yang bisa dikatakan paralel dan merupakan juga penjelasan lebih lanjut bagi kata "aku sudah belajar" (―I have learned - 11), dan kata "aku mampu/bisa" (I am able - ay 13).
Secara literal, kata oida berarti "aku tahu bagaimana" (I know how) dan kata ini dipakai untuk menunjukkan bagaiman ia telah belajar, sehingga dapat diterjemahkan "Aku tahu bagaimana menghadapi" (I know how to cope).

Kembali pada ayat 11, pemakaian kata αὐτάρκης (autarkēs) yang secara literal berarti "menurunkan atau merendahkan" (to lower) yg merupakan penjelasan pertama hal "mencukupkan diri".

Artinya ia tahu bagaimana harus hidup dalam tingkatan yang rendah dikarenakan keterbatasan atau bahkan kemiskinan.
Dalam situasi seperti itu, ia telah belajar untuk menyesuaikan diri.

Menjelaskan kata oida kedua, Paulus memakai kata περισσεύειν ; perisseuein, yang secara literal berarti kelimpahan (ayat 12)
Melalui kata kedua ini, Paulus hendak mengatakan bahwa dia juga telah belajar bagaimana menyesuaikan dirinya dengan kelimpahan.
Dari sini, Paulus hendak menjelaskan bahwa hidupnya bukan hanya diwarnai dengan kekurangan saja, tetapi juga ada saatnya dimana ia mengalami kelimpahan.

Paulus kemudian melengkapi penjelasannya dengan memakai kata "memuēmai" yang secara literal berarti "saya telah belajar rahasia" (I have learned the secret).
Sebagaimana telah dijelaskan diatas, Paulus belajar dari pendidikan yang ia pernah terima, dari pengalaman dan praktek dan semuanya itu memampukan dia untuk menghadapi segala situasi yang sulit sekalipun.
Rahasia kehidupan Paulus tersebut adalah rahasia yang terbuka untuk semua orang yang mau belajar untuk menjalani kehidupan bersama Kristus.
Sebagai orang percaya, kita tentunya juga perlu belajar untuk menemukan rahasia dan kekuatan dalam mencukupkan diri tersebut yang kita yakini semuanya itu bersumber pada Allah.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa Paulus sendiri menyadari fakta bahwasanya kita memerlukan hikmat dari Allah, agar kita dapat menghadapi kehidupan kita baik itu dalam hal kekurangan ataupun kelimpahan.

Seperti yang disebutkan dalam Amsal "Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan.
Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan.
Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku (Amsal 30:8-9).


Il. Sumber kekuatan dalam menghadapi kesulitan (Fil 4:13-18)

Paulus kemudian menegaskan rahasia kemampuannya dalam mencukupkan diri dalam teks yunani yang secara literal diterjemahkan "Aku mampu melakukan segala sesuatu didalam Dia yang menguatkan aku" (I can do all things in Him who give me stragth).

Pada ayat 13, Kata "dapat kutanggung" paulus menggunakan kata yunani ἰσχύω ; ischuo ; yang artinya "aku dapat atau mampu melakukan" dalam pengertian bahwa ia mampu menghadapi atau mengatasi segala keadaan.

Kata ἰσχύω ; ischuo ; secara literal berarti memiliki kuasa atau kekuatan (to have power) dan dengan memakai kata ini Paulus hendak mengatakan bahwa aku memiliki kuasa atau kemampuan untuk menghadapi semua kondisi kehidupan.

Lalu Paulus menambahkan dengan pernyataan yang sangat penting yaitu "DI DALAM DIA YANG MENGUATKANKU"

Sekalipun Paulus sangat menekankan prinsip-prinsip dasar dalam bersandar kepada Tuhan, Paulus juga ingin menegaskan bahwa dia menghargai kebaikan jemaat Filipi yang telah mendukung dia ditengah kesulitan yang dia hadapi.
Paulus kemudian mengatakan bahwa pada saat pertama kali Paulus memberitakan Injil kepada jemaat Filipi dan kemudian Paulus melanjutkan perjalanannya dari Makedonia ke Tesalonika, jemaat Filipi adalah satu-satunya jemaat yang terus memberikan dukungan bagi pelayanan Paulus. Paulus melihat dukungan tersebut sebagai sebuah kerjasama (partnership) dimana Paulus memberitakan Injil bagi jemaat Filipi dan kini ia menerima dukungan finansial dari mereka.


Ill. Allah yang memelihara kita (Fil 4:19-20)

Jemaat Filipi, dalam keterbatasannya telah berbagi dengan Paulus dan sebagai gantinya, Paulus memberikan janji dan jaminan bahwa Allah yang akan menyediakan apa yang menjadi kebutuhan mereka (ay 19).


Pada ayat 19 ini, Paulus memulai dengan kata "ALLAHKU," yang merupakan kesaksian hidup pribadi dan pengalaman iman Paulus, dimana ia mengalami bagaimana kuasa Allah telah memenuhi kebutuhan pribadi dia melalui Yesus Kristus.

Secara literal, dapat dipahami bahwa "Allah yang telah memakai jemaat Filipi sebagai instrument dalam memenuhi kebutuhan Paulus, akan memenuhi semua kebutuhan jemaat Filipi.

Dengan demikian Paulus hendak menegaskan bahwa bukan dia yang akan membalas kebaikan orang Filipi, tetapi Allah yang menjadi sumber kekuatan Paulus dalam menghadapi segala situasi tersebut yang akan memenuhi keperluan mereka.
Paulus memberikan jaminan bahwa Allah yang menjadi sumber kekuatannya dalam menghadapi segala situasi dan Allah yang selama ini menyediakan kebutuhannya yang juga akan memperhatikan dan menyediakan apa yang menjadi kebutuhan mereka.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang mau berbagi dengan orang lain karena kasih Allah dan khususnya dalam mengembangkan pekerjaan Allah, maka Allah akan memenuhi kekurangan mereka karena kemurahan hati mereka (Prov 11:25; 19:17; Matt 5:7).

Penyediaan Allah dijelaskan lebih lanjut dengan preposisi (kata yg menerangkan kata-kata atau bagian kalimat yaitu kalimat "menurut atau sesuai dengan" (according to).

Kata ini disatu sisi memiliki arti bahwa penyediaan Allah atas kebutuhan jemaat Filipi bukan semata-mata berdasarkan kekayaan Allah, tetapi sesuai atau mencukupi apa yang menjadi kebutuhan mereka.
Disisi lain, preposisi kata ini yang secara literal artinya berdasarkan kemuliaan kekayaan Kristus.
Hal ini berarti bahwa berkat Allah diberikan kepada kita bukan hanya berdasarkan apa yang kita butuhkan dan inginkan, tetapi berdasarkan kekayaan dan kemuliaan Kristus.
Allah tahu apa yang terbaik buat kita dan Ia akan berikan yang terbaik bagi kita.
Dan dibagian akhir suratnya paulus menutup dengan kalimat yg memuliakan Allah.

Filipi 4:20 : Dimuliakanlah Allah dan Bapa kita selama-lamanya! Amin.


KESIMPULAN

Di tengah situasi yang semakin sulit ini, mari kita belajar seperti Paulus yang melihat kehidupan ini sebagai kesempatan untuk belajar menyesuaikan diri dengan segala situasi baik itu kekurangan atau kelimpahan, kenyang atau lapar dan mudah atau sukar.
Kalau kita bersedia belajar menghadapi hidup ini apa adanya, maka kita akan mampu menghadapi segala situasi tersebut.
Bukan karena kita hebat atau mampu secara manusia, tetapi karena Allah yang menguatkan dan memampukan kita.

Jika kita mau belajar menghadapi segala situasi tersebut, bahkan mau berbagi dengan saudara-saudara seiman dan bahkan sesama kita, Allah memberikan janji dan jaminan-Nya bahwa Ia akan memenuhi keperluan kita sesuai dengan kekayaan dan kemuliaan-Nya.


ErwanMusa  ☎️ 082157116469

Sabtu, 18 Mei 2024

PENTAKOSTA DAN MAKNA KEPENUHAN ROH KUDUS -- KISAH PARA RASUL 2:1-13 (Eksposisi)

PENTAKOSTA DAN MAKNA KEPENUHAN ROH KUDUS -- KISAH PARA RASUL 2:1-13 (Eksposisi)


📚 Kisah Para Rasul 2:1 (TB)
Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.

"Pentakosta" (yun) πεντηκοστης - pentêkostê, bentuk feminin dari πεντηκοντα - pentêkonta (Markus 6:40 ; Lukas 7:41, 9:14, 16:6, Yohanes 8:57, 21:11; Kisah Para Rasul 13:20), secara harfiah berarti lima puluh.

Pentakosta Perjanjian Lama (PL) dirayakan pada setiap hari kelima puluh (50) sesudah Hari Raya Paskah - פֶּסַח ; PESAKH.
Karena 50 hari = 7 minggu, hari itu juga disebut "khag syavu'ot" / Hari Raya Tujuh Minggu (Keluaran 34:22, Ulangan 16:9). Hari Pentakosta tersebut menandakan selesainya menuai jelai yang dihitung mulai dari sejak pertama kalinya menyabit gandum (Ulangan 16:9), dan waktu imam mengunjukkan berkas tuaian itu "pada hari sesudah Sabat itu" (Imamat 23:11). Hari Pentakosta tidak hanya dirayakan pada zaman Pentateukh, bahkan hingga zaman Salomo pun Hari Pentakosta masih dirayakan (2 Tawarikh 8:13) sebagai hari raya kedua dari ketiga pesta tahunan (bandingkan Ulangan 16:16). Tiga hari raya besar yang diperingati bangsa Israel adalah: Hari Raya Roti Tidak Beragi (Paskah), Hari Raya Tujuh Minggu (Pentakosta), dan Hari Raya Pondok Daun

Beberapa hal yang perlu diketahui tentang Pentakosta Perjanjian Lama adalah :
▪ 1) Hari ke 50 setelah Paskah (Paskah Perjanjian Lama) yaitu hari bebasnya bangsa Israel dari Mesir (bdk. dengan Ul 16:1 tentang Paskah Perjanjian Lama).
▪ 2) Hari unt memperingati 2 hal, yaitu : 
a) Peringatan hari dimana Allah memberikan 10 HukumTaurat kepada seluruh bangsa Israel yang berkumpul di Gunung Sinai,
Sesudah masa pembuangan (th. 538 sM) bahkan dalam abad II sM barulah perayaan itu "dihistorisasikan", artinya dihubungkan dengan peristiwa penting dalam sejarah penyelamatan Israil. "Jadi Pentakosta atau "perayaan tujuh minggu" menjadi peringatan akan kejadian itu.
Menurut Keluaran 19:1 maka Israil tiba digunung Sinai dalam bulan ketiga setelah bulan pertama berangkat dari Mesir. Bulan ketiga itu ialah kurang lebih 50 hari.

b) Perayaan syukur karena panen gandum/hari raya bungaran "khag haqqatsir" / Hari Raya Menuai dan "yon habbikkurim" (Ul 16:10, 15; Kel 23:16 ; 34:22) dan menyatakan rasa takut dan hormat kepada Tuhan ( Yer 5:24)
▪ 3) Pada hari itu orang Israel tidak boleh melakukan pekerjaan berat (Im 23:21 ; Bil 28:26).

"Pentakosta" dalam Perjanjian Baru (PB) adalah hari turunnya Roh Kudus yang terjadi pada hari ke 50 setelah Paskah atau hari kebangkitan Yesus.
Tetapi "Pentakosta" pada Kis 2:1 ini adalah peringatan hari Pentakosta Perjanjian Lama.

📚 Kisah Para Rasul 2:2-4a
2:2  Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;
2:3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
2:4 LAI TB, Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa (GLÔSSAIS) lain (HETERAIS), seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya

Yunani :  kai {lalu} eplêsthêsan {mereka dipenuhi} apantes {semua} pneumatos {(oleh) Roh} hagiou {kudus} kai {dan} êrxanto {mulai} lalein {berkata-kata} heterais {lain/ asing, plural} glôssais {dalam bahasa-bahasa (lidah-lidah), plural} kathôs {menurut} to {(itu)} pneuma {Roh} edidou {memberikan} autois {kepada mereka} apophtheggesthai {untuk mengatakan}

Pada Pentakosta Perjanjian Baru (PB) terdapat pula mujizat yaitu karunia lidah (karunia bahasa).

Ketika murid-murid yang telah berkumpul dipenuhi dengan Roh Kudus, mulailah mereka "berkata kedalam bahasa-bahasa (glôssai) lain" seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakannya (Kisah 2:4-11).
Sehingga banyak orang Yahudi dari luar Yerusalem tercengang mendengar puji-pujian bagi Allah yang dalam bahasa (glôssais, Kisah 2:11) dan dialek-dialek (dialektos, Kisah 2: 6-8) yang dipakai di negeri mereka sendiri.
Yang dimaksud dengan bahasa lain (ay.4) disini adalah bahasa lidah atau bahasa yg di mengerti yang "benar-benar" merupakan karunia Roh Kudus, bukan bahasa lidah yang dipelajari, atau ditiru dan ditampilkan pada ibadah dalam pujian dan penyembahan dalam gereja masa kini.

Jadi, Pentakosta Perjanjian Lama (PL) menjadi Pentakosta Perjanjian Baru (PB), karena ada hal yang luar biasa terjadi dalam Kis 2:1-13, dan hal yang luar biasa tsb adalah sbb :

▪1) Turun dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras (ay 2).
Alkitab sering menggambarkan Roh Kudus sebagai angin (Yoh 3:8 ; Yeh 37:9,10,14 ; Yoh 20:22).
Kata "angin" (yun) PNEUMA memang bisa diartikan sebagai ‘roh’, ‘angin’ atau ‘nafas’ (sama seperti hal nya dalam kata Ibrani RUACH).
Jadi, sebelum Roh Kudus turun Ia didahului oleh suatu bunyi "seperti" tiupan angin keras.

▪2) Tampaklah lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing (ay 3).
Roh Kudus juga sering digambarkan sebagai api karena Ia berfungsi untuk menyucikan atau menguduskan.
Karena itu, tanda dari orang yang mempunyai Roh Kudus atau dipenuhi Roh Kudus adalah adanya perubahan hidup ke arah yang positif, baik dan benar seturut kebenaran (bukan kemampuan untuk berbahasa Roh).

"Api" disini melambangkan penyucian dan pemisahan orang-orang percaya kepada Allah bagi pekerjaan untuk memuliakan Kristus (Yoh 16:13-14). PL (
Api dlm PL dab PB (Kel,3:2 ; 13:21-32 ; Ibrani 12:29) sering dikaitkan dg kehadiran Allah
Penyataan ini mendahului baptisan dalam Roh dan tidak pernah diulang lagi di Kisah Para Rasul.

▪3) Roh Kudus turun dan memenuhi mereka (ay 4a).
Ay 4a, terjemahan Indonesia kurang lengkap terjemahannya, seharusnya ada kata ‘semua’.
NIV: ‘All of them were filled with the Holy Spirit’ (= Mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus).

Jadi, bukan hanya rasul-rasul saja yang menerima atau dipenuhi dengan Roh Kudus, tetapi semua orang percaya pada saat itu.
Roh Kudus diberikan bukan hanya kepada orang percaya tertentu saja, tetapi kepada semua orang yang percaya kepada Kristus.

=> Makna dari kepenuhan Roh Kudus pada hari Pentakosta adalah :

1). Penggenapan janji Allah atau nubuat dalam kitab Yoel 2:28-29 bahwa Roh Kudus di curahkan atas semua manusia pada hari-hari terakhir (bd. Kis 1:4-5; Mat 3:11; Luk 24:49; Yoh 1:33)

Yoel 2:28-29 (TB) -- Nubuat
"Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan.
Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu.

Kis 2:17-18 -- Penggenapan
Kisah Para Rasul 2:17-18 (TB)
Akan terjadi pada hari-hari terakhir — demikianlah firman Allah — bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi.
Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.

Jadi Nubuat Nabi Yoel setelah kembali dari pembuangan di babel, sudah di genapi dalam Kis.2:17-18 dalam kurun waktu kl. 700 th, sehingga sekarang kapan saja orang percaya bisa di penuhi Roh Kudus karena Ia sudah datang ke dalam dunia sampai kedatangan Tuhan Yesus kedua kali.

2). Para murid "diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi" (Luk 24:49; bd. Kis 1:8), yang memampukan mereka bersaksi untuk Kristus, menginsafkan orang akan dosa, kebenaran dan penghakiman Allah sehingga mereka berbalik dari dosa kepada keselamataan dalam Kristus (bd. Kis 4:13,33; 6:8; Rom 15:19)
Jadi, hari Pentakosta (PB) merupakan awal dari penginjilan dunia (ayat Kis 2:6-11,39; Kis 1:8).

~> Kisah Para Rasul 1:8 (TB)
Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

~> Yohanes 16:8 (TB)
Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; ...

3). Para pengikut Kristus menjadi orang-orang yang melanjutkan karya Kristus dalam dunia ini. Dalam kuasa Roh Kudus, mereka terus melakukan dan mengajarkan hal-hal yang sama "yang dikerjakan dan diajarkan Yesus".

~> Kisah Para Rasul 1:1 (TB) Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus.
 

📚 Kisah Para Rasul 2:4b-13
Tentang Bahasa Lain atau Lidah (ay 4b)
..., lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa (GLÔSSAIS) lain (HETERAIS), seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Bahasa Lain atau bahasa lidah pada ayat ini adalah suatu karunia Roh Kudus yang menyebabkan rasul-rasul bisa berbicara dalam bahasa-bahasa yang sebelumnya tidak mereka kenal atau tidak pernah mereka pelajari.

Ref :
Markus 16:17 - LAI TB
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa (GLÔSSAIS - lidah-lidah) yang baru bagi mereka,

Tidak semua orang yang memiliki Roh Kudus/dipenuhi Roh Kudus harus berbahasa roh.
Karena Kis 2:4 adalah bagian Kitab Suci yang bersifat descriptive (menggambarkan apa yang terjadi pada saat itu).
Bagian seperti ini tidak bisa dijadikan rumus, metoda atau acuan.
 
=> Penekanan dari Pentakosta.

Banyak orang jika membahas Pentakosta selalu menekankan pada bahasa roh.
Padahal sebetulnya yang paling harus ditekankan dalam Pentakosta bukan bahasa roh tetapi Pekabaran Injil, hal ini dapat terlihat dari :

▪1) Roh Kudus diberikan utk memberitakan Injil.
Kisah Para Rasul 1:8 :
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi”.

Bandingkan dengan Yoh 15:26 yang berbunyi :
“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku”.

▪ 2) Semua ini terjadi di Yerusalem pada hari Pentakosta.
Mengapa Allah memilih kota Yerusalem dan memilih hari Pentakosta?
Karena pada hari Pentakosta kota Yerusalem penuh sesak, karena orang-orang Yahudi dari semua penjuru wajib datang ke Yerusalem.
Mereka semua kembali ke Yerusalem karena hal ini memang diperintahkan oleh Tuhan (Kel 23:14-17 ; Kel 34:22-23).

Ayat 5, mengatakan :
"Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit".
 
Kata "diam" tidak berarti bahwa mereka tinggal di sana, tetapi hanya berarti bahwa pada saat itu mereka berada di sana.

Kata "dari segala bangsa" artinya dari negara-negara lain.

Jadi ayat 5, menunjukkan bahwa pada saat itu Yerusalem dipenuhi oleh orang-orang Yahudi dari bangsa-bangsa lain.

Lalu ayat 6, mengatakan :
"Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak".

Kata "turun" pada ayat ini terjemahannya kurang tepat, seharusnya adalah "terjadi".
Bandingkan : terjemahan NASB : 
"And when this sound occurred"  (= Dan ketika bunyi itu terjadi).

Bunyi yang dimaksud pada ayat 6 adalah "bahasa roh dari rasul-rasul"

Jadi orang-orang Yahudi dari negara-negara lain, ikut berkerumun dan mendengar bahasa lidah tersebut.
Dan yang mereka dengar ucapan rasul-rasul itu adalah "perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah" (ay 11).
Ini jelas menunjuk pada Injil atau Gospel.

Allah memilih saat itu, supaya mereka semua bisa mendengar Injil (ay 11 - "perbuatan besar yang dilakukan Allah") dan supaya setelah mereka kembali ke negara asal mereka, mereka juga menyebarkan atau membertakan Injil.
Jadi semua ini jelas menunjukkan bahwa Pentakosta menekankan "Pekabaran Injil."

▪ 3) Pada saat itu terjadi bahasa Lain/Lidah

Saat itu harus terjadi bahasa lain/lidah karena orang-orang Yahudi dari negara-negara lain itu mempunyai bahasanya masing-masing.
Adanya banyak bahasa menghalangi Pekabaran Injil dan kalau Injil hanya diberitakan dalam 1 bahasa saja, maka orang akan beranggapan bahwa Injil itu memang ditujukan hanya untuk satu bangsa atau bahasa saja (Yahudi).
Allah tidak mau hal itu terjadi dan Ia lalu memberi bahasa Lidah.
Dengan cara ini maka :
a) Batasan bahasa dihancurkan dan Injil bisa tersebar.
b) Orang tahu bahwa Injil bukan hanya untuk satu bangsa/bahasa saja.

Semua hal-hal di atas ini jelas menunjukkan bahwa penekanan dari Pentakosta adalah Pekabaran Injil!
 
=> Hal-hal penting tentang Pemberitaan Injil.
Kisah Para Rasul 2:13 (TB)
Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis."

1) Umumnya ketika dlm pemberitaan Injil selalu ada reaksi negatif (ayat 13).

Dikatakan pada ayat 13, bahwa ada sebagian orang yg bukan hanya sekedar menolak Injil tetapi bahkan mengejek orang yang memberitakan Injil (ayat 11)

2) Mujizat atau hal-hal yg supranatural tidak menjamin pertobatan.

Catatan pada ayat 13, sementara injil di beritakan dan mujizat terjadi, namun ada orang-orang tidak mau menerima pemberitaan tsb atau bertobat bahkan sebaliknya menentang.
Dalam Kis 2 ini, sekalipun ada banyak yang bertobat (itupun terjadi karena khotbah Petrus, bukan karena mujizat), tetapi ada banyak yang tidak bertobat sekalipun mereka melihat mujizat bahasa Lidah yang luar biasa (bdk. Luk 17:11-19  Mat 11:20-24  Luk 16:27-31).
 
Kata "anggur manis" (yun) gleukos ; pada umumnya yang dimaksudkan adalah sari buah anggur yang tidak difermentasi.
Dalam hal ini ejekan mereka diucapkan dengan nada sarkastik.
(Sarkastik merupakan kata sifat dari sarkasme, dan Sarkasme biasanya digunakan untuk menutupi kemarahan, rasa malu, canggung, iri hati)

PENUTUP/KESIMPULAN

Mari kita buktikan dengan rajin/tekun memberitakan Injil krn kita telah memiliki dan dipenuhi Roh Kudus.
Dan dalam memberitakan Injil, jangan takut pada reaksi negatif dan di tolak.
Teruslah memberitakan Injil krn itu tugas semua orang percaya.


 ErwanMusa : ☎️ 082157116469

Minggu, 12 Mei 2024

MDK (Materi Dasar Kekristenan) 2 -- BAB 5 : ROH KUDUS

MDK (Materi Dasar Kekristenan) 2


BAB 5 : ROH KUDUS



PENDAHULUAN

Alkitab mengajarkan bahwa untuk menyembah Allah harus dalam roh dan kebenaran, karena Dia adalah Roh (Yoh.4:24)
• Yohanes 4:24 (TB) Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."

Di sisi lain, Alkitab berkata juga bahwa manusia biasa tidak dapat menerima apa yang berasal dari Roh Allah (1 Kor.2:14)
• 1 Korintus 2:14 (TB) Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.

Tetapi Tuhan telah memberikan pengertian kepada orang-orang yang mengasihi Dia, dan yang telah menerima Roh Kudus (Rm. 8:5; 1Kor. 2:12).
• Roma 8:5 (TB) Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.
• 1 Korintus 2:12 (TB) Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.

Dan kita dapat merasa yakin karena mengetahui bahwa pada suatu hari, kita akan melihat gambaran yang lengkap dan sempurna ketika kita bertemu dengan Allah sendiri (1Kor. 13:12).
• 1 Korintus 13:12 (TB) Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

KEPRIBADIAN ROH KUDUS

Dalam terjemahan Yunani, kata “Roh” itu pneuma, mempunyai arti yang sama dengan “nafas” atau “angin”.
Jadi, secara hurufiah kita dapat menerjemahkan “Roh Kudus” sebagai “Nafas Kudus” atau “Angin Kudus”, tetapi itu tidak akan sesuai dengan seluruh kepribadian Roh Kudus.
Tuhan Yesus pernah berkata bahwa menghujat Roh Kudus adalah dosa yang jauh lebih serius daripada menghujat Anak Allah (Mat. 12:31-32).
Kerasnya peringatan ini membuat kita sulit menerima bahwa Roh Kudus hanya sekadar kekuatan dari luar diri manusia yang dikendalikan Allah sebagai alat ilahi.
Mengenai hal ini, dalam kitab Yohanes 4:24 Yesus menyamakan Allah dengan Roh, dan karena itu Roh Kudus pastilah merupakan pribadi yang sama dengan Allah sendiri.

Dalam Yohanes 14-16, Yesus menggunakan kata ganti orang “Dia”, sebanyak lima kali untuk menyebutkan Roh Kudus (Yoh. 14:26; 15:26; 16:8; 13,14).
Dengan demikian Yesus menjelaskan kepribadian Roh Kudus.
Paulus juga menjelaskan kepribadian Roh Kudus dengan berkata, “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, sama seperti yang dikehendaki-Nya” (1Kor. 12:11).

Dari Alkitab, kita dapat melihat bahwa Roh Kudus secara pribadi mewujudkan diri-Nya sendiri melalui tiga hal: hikmat, perasaan dan kehendak.
• Melalui hikmat-Nya, Roh Kudus membedakan yang baik dan jahat (Ef. 4:30); memberi kesaksian tentang kebenaran dan Yesus Kristus (Yoh. 14:6; 15:26); menyelidiki hal-hal terdalam dari Allah (1Kor. 2:10); mengajar dan melatih umat Allah (Neh. 9:20; Yoh. 14:26); memimpin orang percaya kepada seluruh kebenaran (Yoh. 16:13); dan menyatakan rahasia-rahasia Kristus (Ef. 3:5).
• Dalam hal perasaan, Roh Kudus mengasihi (Rm. 15:30), memberikan anugerah (Ibr. 10:29), berduka (Yes. 63:10; Ef. 4:30), menghibur (Kis. 9:31) dan menjadi perantara bagi orang-orang percaya (Rm. 8:27).
• Dalam hal kehendak-Nya, Roh Kudus mempunyai “maksud” (Rm. 8:27), membuat keputusan (Kis. 15:28), memberi perintah (Kis. 8:29), menugaskan pekerja kudus (Kis. 13:1-4), mengarahkan pekerjaan gereja (Kis. 16:6), mengurapi pekerja kudus (Kis. 20:28), membagi-bagikan karunia kepada jemaat (1Kor. 12:11), menginjil dan mengembalakan (Why. 2:7; 11, 17, 29; 3:6, 13, 22; 22:17).

SIAPA ROH KUDUS

Alkitab seringkali memakai istilah “Roh Kudus” dan “Roh Allah” secara bergantian, untuk menjelaskan bahwa Roh Kudus adalah Roh Allah.
Dari petunjuk ini, kita mengetahui bahwa Roh Kudus tidak terpisahkan dari Allah, karena Roh Kudus adalah Allah sendiri.

Mengenai upaya memahami perkara-perkara rohani, Rasul Paulus berkata, “Siapa gerangan di antara manusia yang tahu apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia?
Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah” (1Kor. 2:11).
Jadi, untuk memahami sifat ke-Allah-an membutuhkan hikmat dan wahyu rohani melalui Roh Kudus Allah.
Karena itu, kita harus bersandar pada Roh Kudus, dan bukan pada hikmat duniawi, untuk mendapatkan pengetahuan yang benar tentang Dia (Yoh. 14:26; 16:13; Ef. 1:17).

Dalam Kejadian 1:1 tertulis bahwa “Allah menciptakan langit dan bumi”, sementara pada Kejadian 1:2 tertulis, “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” sebelum segala sesuatu diciptakan.

Pada Perjanjian Lama, Allah berjanji untuk mencurahkan Roh Kudus kepada umat-Nya.
Dengan demikian Allah menyatakan lagi bahwa Roh Kudus adalah Roh-Nya (Yeh. 36:27; 37:14; Yoel 2:28-29).
Ketika kita merenungkan pesan-pesan dalam nubuat Perjanjian Lama, kita hanya dapat merasa takjub karena Allah sampai berpikir untuk tinggal di dalam diri manusia.
Alkitab mencatat, Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, yang menyebabkan Rasul Petrus menyatakan bahwa nubuatan dalam kitab Yoel Allah telah digenapi (Kis. 2:16-18).
1 Yohanes 3:24, "Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita”.
1 Yohanes 4:13 juga tertulis, “demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam Roh-Nya.”

Tulisan-tulisan Rasul Paulus menunjukkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Allah.

a) “Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (1Kor. 12:6);
b) “Karena Allah-lah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp. 2:13);
c) “Satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang…dan di dalam semua” (Ef. 4:6);
d) “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu” (1Kor. 6:19).

Paulus juga berbicara tentang karunia-karunia rohani dari Roh Kudus :
“Tetapi semua ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1Kor. 12:11).

Yakobus menambahkan, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang” (Yak. 1:17).

Seluruh ayat Alkitab di atas menunjukkan satu hal mendasar : Roh Kudus adalah Roh Bapa Surgawi sendiri.

ROH KUDUS TIDAK DIBATASI RUANG DAN WAKTU

Hal penting yang perlu dimengerti tentang ke-Allahan adalah bahwa Roh Kudus tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Sebagai manusia, kita tahu bahwa benda-benda materi dibatasi oleh kedua hal ini.
Contohnya, suatu benda tidak dapat berada di dua tempat pada saat yang sama.
Sebaliknya, Roh Kudus dapat melampaui rintangan fisik seperti ini, karena Dia memenuhi seluruh alam semesta (Mzm. 139:7-10; Yer. 23:23-24).

Ketika Yesus datang ke dunia dalam rupa manusia, Ia dibatasi oleh ruang dan waktu sebagai akibat dari kemanusiaannya.
Oleh karena dalam injil kita melihat bahwa Yesus tidak pernah muncul di dua tempat secara bersamaan, tetapi setelah Yesus bangkit, Ia mengenakan tubuh rohani.
Karena itu Yesus dapat menampakkan diri dan hilang dari hadapan murid-murid-Nya (Luk. 24:36, 31) dan tiba-tiba dapat masuk ke dalam rumah tempat mereka berkumpul (Yoh. 20:19-26).
Catatan dalam Alkitab ini menunjukkan perbedaan antara keberadaan-Nya dalam rupa manusia dan keberadaan-Nya dalam tubuh rohani.

Dari Alkitab, kita melihat bukti lebih lanjut bahwa Allah adalah Roh yang melampaui ruang dan waktu:

• Roh Kudus turun kepada Maria sehingga ia mengandung, memungkinkan perwujudan Allah dalam rupa manusia (Mat. 1:18; Luk. 1:35; Yoh. 1:14; 1Tim. 3:16).
• Ketika Yesus dibaptis, Roh Kudus turun dalam rupa burung merpati, dan Bapa berbicara dari surga (Mat. 3:16-17).
Contoh praktis dari pengalaman kita untuk menunjukkan bagaimana Roh melampaui ruang dan waktu, jika 100 orang percaya berdoa pada saat yang sama dari tempat yang berbeda, mereka semua dapat menerima dan dipenuhi Roh Kudus karena Ia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Alkitab memberitahukan kita bahwa oleh “satu Roh”, kita semua dibaptis ke dalam satu tubuh dan minum dari “satu Roh” (1Kor. 12:13).
Allah mengaruniakan Roh tanpa batas (Yoh. 3:34), karena Dia tidak terbatas.

KESIMPULAN

Sebagai manusia yang terbatas, kita tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk sepenuhnya mengerti dan menjelaskan tentang Allah yang tidak terbatas.
Tetapi dengan petunjuk Roh Kudus, setidaknya kita dapat memperoleh pengertian tentang sifat ke-Allah-an.
Hal penting yang muncul dari Alkitab adalah, Allah menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus untuk menggenapi rencana keselamatan-Nya.


ErwanMusa ☎️ : 082157116469

MDK (Materi Dasar Kekristenan) 2 -- BAB 4 : KRISTOLOGI

MDK (Materi Dasar Kekristenan) 2


BAB 4 : KRISTOLOGI


Kristologi berasal dari dua kata, yaitu Khristós yang artinya Kristus dan logia yang artinya ilmu atau pengetahuan.
Maka Kristologi berarti ilmu pengetahuan tentang Kristus.
Dengan kata lain kristologi adalah bidang studi dalam teologi Kristen yang terutama berkaitan
dengan kehidupan Yesus (apa yang Ia lakukan), sifat dan pribadi Yesus Kristus dan ajaran-ajaran-Nya serta bgm peran yang dilaksanakan-Nya dalam rencana Allah bagi umat manusia seperti yang tercatat dalam Injil dan surat-surat dalam Perjanjian Baru.
Akan tetapi sebagai ilmu pengetahuan, Kristologi tidak berdiri sendiri tetapi merupakan bagian dari sebuah ilmu pengetahuan yang lebih luas, yakni teologi.

KE-TUHANAN YESUS

Untuk dapat menemukan Kristologi yang lengkap, mengenai ke-Tuhanan Yesus dalam kehidupan-Nya sebagai manusia, maka harus kembali kepada Alkitab.
Inti dari iman Kristen adl didasarkan pada kenyataan bahwa Yesus benar-benar Allah yang menjelma menjadi manusia.
Beberapa hal pokok yg akan kita pelajari berkenaan dg ke-Tuhanan Yesus antara lain : inkarnasi Kristus, gelar ke-Tuhanan Yesus, istilah Tuhan, bukti kebangkitan-Nya, dan serta implikasi dari ke-Tuhan Yesus.

INKARNASI YESUS

Ajaran tentang inkarnasi pada dasarnya ingin menunjukkan bahwa Yesus dari Nazaret adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia.
Manusia dapat mengenal Allah jika Allah mewujudkan diri-Nya dalam suatu bentuk yang dapat dipahami oleh manusia yaitu dengan menjadikan diri-Nya seorang manusia.
Rasul Paulus berkata bahwa di dalam Kristus berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allah-an.
Kristus menjadi manusia supaya manusia dalam batas-batas tertentu dapat memperoleh pengertian tentang Allah yang tidak terbatas.
Allah mau menjadi manusia untuk menjembatani jurang pemisah antara Allah dan manusia.
Seandainya Yesus Kristus "hanyalah" seorang manusia atau makhluk ciptaan, maka jurang pemisah antara Allah dan manusia - antara yang tidak terbatas dan yang terbatas, antara Pencipta dan yang diciptakan, antara Yang Kudus dan yang tidak kudus akan tetap ada.
Supaya manusia dapat mengenal Allah dan rencana besar Allah bagi manusia maka Allah harus turun kepada manusia dalam diri Yesus yang dikenal sebagai inkarnasi.
Jadi Inkarnasi Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah Allah sepenuhnya dan juga manusia sepenuhnya.

Istilah ”inkarnasi" berasal dari kata latin incarnatio (in: masuk ke dalam; dan carnis: daging) artinya ”masuknya Kristus ke dalam daging manusia”.

Yesus Kristus adalah firman Allah, yang dari luar, dari atas, masuk ke dalam dunia manusia.
Baik kata benda "inkarnasi" maupun kata sifatnya tidak terdapat dalam Alkitab.
Akan tetapi, padanan kata Yunani untuk bahasa Latin incarne, (Yunani, εν σαπκι - en sarki : dalam daging) terdapat pada beberapa pernyataan penting dalam PB tentang pribadi dan karya Yesus Kristus.

1 Timotius 3:16 ”...Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia (inkarnasi), …”. Kristus membuat karunia perdamaian-Nya "di dalam tubuh jasmani-Nya‟ (Kol. 1:22, bdk dengan Ef. 2:15), dan bahwa dengan mengutus anak-Nya "dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa‟.

Petrus berkata tentang Kristus yang mati untuk kita "dalam keadaan-Nya sebagai manusia‟ (σαπκι - sarki ; σαπξ - sarx : daging) 1 Petrus 3:18.

Ayat-ayat di atas tersebut dapat disimpulkan, bahwa ”inkarnasi” berarti ”di dalam daging” dan menunjuk pada tindakan dimana pribadi kedua dari Allah yang kekal mengambil bagi diri-Nya natur manusia, melalui kelahiran dari seorang anak dara.
Meskipun demikian, kemanusiaan-Nya adalah tanpa dosa.

Dia datang dalam nama Bapa-Nya, artinya Ia mewakili Bapa-Nya (Yohanes 5:43), dan karenanya semua yang diucapkan-Nya dan diperbuat-Nya adalah sesuai dengan perintah Bapa (Yoh. 7:16 dst. bnd 12:49 bnd; 14:10), maka hidup-Nya di dunia adalah menyatakan Bapa-Nya dengan sempurna (Yoh. 14:7).

▪ Tujuan Yesus berinkarnasi :

a). Untuk menyingkapkan Allah kepada manusia.
Jalan agar manusia dapat melihat Bapa ialah dengan mengenal Putra-Nya, dan cara kita dapat melakukannya sekarang ialah dengan mempelajari catatan tentang kehidupan-Nya dalam Alkitab.
b). Untuk memberikan suatu teladan bagi kehidupan kita.
Kehidupan Tuhan Yesus di dunia bagi kita sebagai suatu pola ( role model) untuk kehidupan kita sekarang (1 Pet.2:21; 1Yoh. 2:26).
Tanpa Inkarnasi maka manusia tidak akan memiliki contoh tersebut.
Sebagai manusia Ia mengalami perubahan kehidupan yang memberikan suatu contoh pengalaman bagi kita.
c). Mengorbankan diri-Nya bagi dosa.
Tanpa Inkarnasi tersebut, kita tidak akan memiliki seorang Juru Selamat.
Allah tidak dapat mati.
Jadi Juru Selamat itu harus manusia agar dapat mati untuk menebus dosa manusia.
d). Menjadi seorang Imam Besar yang penuh rasa simpati (Ibr. 4:14-16).
Imam Besar kita mampu merasakan kelemahan kita.
e). Menjadi seorang hakim yang memenuhi syarat.
Semua penghakiman akan dilakukan oleh Tuhan Yesus.

GELAR KE-TUHANAN YESUS

Gelar adalah sebutan yang menerangkan atau merujuk ke suatu tugas atau kedudukan khusus seseorang.
Jadi gelar bisa mengacu kepada kehormatan yang harus diberikan kepada seseorang tersebut. Seperti, Yohanes digelari "pembabtis‟ karena istilah ini khas mencirikan tugasnya.
Hal ini pun ada kaitannya dengan gelar-gelar yang diberikan kepada Yesus dalam Perjanjian Baru.

a). Anak Allah
Gelar "Anak Allah" ini disebutkan sampai dua kali kepada Maria.
Maksudnya sangat jelas, yaitu untuk meluruskan pengertian Maria yang tadinya masih berpandangan tentang anak sebagai pembuahan biologis.

”jawab Malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah”(Lukas 1:35).

Anak Allah yang dimaksud sama sekali bukan istilah insani, melainkan istilah rohaniah, yang artinya Yesus benar-benar Allah sejati.
Istilah ini tepat, karena memang terjadi suatu “kelahiran” (ke-anak-an), dimana Sang Firman telah ber-inkarnasi menjadi manusia dan diam di antara manusia (Yoh. 1:14).

Sebagai "Anak Allah", Ia berkarya untuk menyatakan diri Allah sedemikian lengkap dan
sempurnanya, sehingga Allah yang tadinya tidak dapat dipahami, menjadi dapat dipahami dan dapat diikuti keteladanan-Nya dan kedekatan-Nya.

Itulah sebabnya Yesus dapat berkata: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohanes 14:9).

Catatan :
Nama "Yesus" berasal dari nama Latin Iesus, transliterasi dari nama Yunani  Ἰησοῦς ( Iesous ). 
Bentuk Yunani tersebut merupakan terjemahan dari nama Ibrani ישוע ( Yeshua ; "Yesua" dalam bahasa Indonesia), suatu varian dari יהושע ( Yehoshua ; "Yosua" dalam bahasa Indonesia) yang adalah nama sebelumnya. 
Nama Yesua telah digunakan di Yudea pada waktu kelahiran Yesus. 

Matius 1:21@ (TB) Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, ...

Sejak awal Kekristenan, umat Kristen lazim menyebut Yesus sebagai "Yesus Kristus". 
Kata Kristus (Christ dalam bahasa Inggris) berasal dari kata Yunani Χριστός (Christos), yang adalah terjemahan dari kata Ibrani מָשִׁיחַ ( Meshiakh ), artinya yang "diurapi" dan biasanya ditransliterasi ke dalam bahasa Inggris sebagai "Mesias" ("Mesias" dalam bahasa Indonesia). 
Umat Kristen percaya bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dinantikan, yg dinubuatkan dalam Alkitab Perjanjian Lama ( Yohanes 4:25–26 ).

b). Raja dan Mesias
Pengharapan Yahudi berpusat akan didirikannya pemerintahan atau Kerajaan Allah, dan pengharapan ini sering dihubungkan dengan datangnya seorang tokoh yang mewakili Allah untuk menjalankan pemerintahan-Nya.
Tokoh seperti itu tentulah seorang "Raja‟, yang diurapi oleh Allah dan dari suku Daud.
Istilah "yang Diurapi" biasanya ditetapkan untuk raja, imam, atau nabi.
Gelar Mesias dipakai sebagai gelar resmi dari tokoh utama yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi, yang merupakan Juruselamat yang mereka tunggu.

Dalam Lukas 7:22, Yesus juga dengan secara tidak langsung menunjuk diri-Nya adalah Mesias. Namun Yesus mengajar murid-murid-Nya untuk mempercayai bahwa Dia-lah Mesias atau Kristus (artinya : Raja yang diurapi) yang datang dari Allah, tetapi bukan Mesias duniawi seperti yang diharapkan orang Yahudi (Yohanes 18:26).

ISTILAH TUHAN

Para penulis kitab dalam Perjanjian Baru menghubungkan istilah κύριος (Tuhan) dengan Yesus, khususnya setelah Ia bangkit dan naik ke surga.
Istilah ini menandakan ke-Allahan apabila di terapkan pada Yesus.
Dalam Septuaginta κύριος biasanya adalah terjemahan dari nama JHWH atau Yehovah.
Dalam Perjanjian Lama, Tuhan menyatakan nama-Nya sebagai YHWH atau Jehovah.
Dalam bahasa Indonesia ditulis sebagai TUHAN (dengan huruf besar semua).

Keluaran 6: 2-3, Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: Akulah TUHAN. Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri.

Selain daripada itu nama TUHAN (Kurios) juga berarti, bahwa Ia memiliki "kekuasaan raja‟, sebagaimana kaisar Roma juga memiliki kuasa raja.
Tuhan Yesus adalah Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala Tuan (1 Tim. 6:15).
Sebutan ini di berikan kepada Yesus sebagai Juru Selamat setelah Ia menyelesaikan karya penyelamatan-Nya, dengan bangkit dari antara orang mati.

Maka di Fil. 2:11 disebutkan, bahwa Allah telah meninggikan Dia, supaya segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan”, bagi kemuliaan Allah Bapa.

Beberapa perkataan Yesus yang menarik dipelajari: Yesus mengatakan, "Akulah gembala yang baik" (Yohanes 10:11), sedangkan Perjanjian Lama mengatakan, 'TUHAN adalah gembalaku' (Mazmur 23:1).

Yesus menyatakan Dia adalah hakim atas segala bangsa (Yoh. 5:27; Mat. 25:31), Perjanjian Lama mengatakan TUHAN adalah hakim segala bangsa (Yoel 3:12).

Yesus mengatakan, "Akulah terang dunia" (Yoh. 8:12), Perjanjian Lama mengatakan ''TUHAN akan menjadi penerang abadi bagimu" (Yesaya 60:19).

Yesus berdoa kepada Bapa untuk kemuliaan kekal-Nya, "Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada" (Yohanes 17:5)
Yesus mengatakan Dia adalah yang pertama dan yang akhir (Wahyu 1:17), sama seperti Yehovah dalam Perjanjian Lama (Yesaya 44:6).
Rujukan-rujukan ini menjelaskan bahwa para rasul bermaksud memberikan kepada Yesus gelar Tuhan dalam pengertian yang setinggi-tingginya.
Bagi orang Yahudi khususnya, istilah κύριος (Kurios) ini senantiasa menempatkan Kristus setara dengan Bapa.

BUKTI KEBANGKITAN YESUS

Bukti menetapkan ke-Allahan Yesus bertumpu pada kebangkitan Yesus dari kematian.
Sebab dalam kebangkitan itu dinyatakan benar-benar, siapa Yesus Kristus, yakni bahwa Ia adalah Anak Allah (Rm. 1:4).
Dalam Kebangkitan Yesus, sesungguhnya berarti bahwa Allah pada hakikatnya telah menyatakan diri di dalam Yesus.

Khotbah Petrus pada hari Pentakosta sepenuhnya dan seutuhnya dibangun atas dasar kebangkitan.
Kepercayaan teguh para rasul kepada Yesus berakar pada keyakinan bahwa Dia tidak tinggal dalam maut, tetapi telah dibangkitkan oleh Allah.
Bahwa Yesus sudah bangkit, adalah sama pastinya dengan kematian-Nya. Mereka adl saksi-saksi berdasarkan apa yang mereka alami bersama-Nya, tentu saja setelah mereka melihat-Nya sendiri, , dan menjadi unsur utama dari khotbah mereka tentang Dia.
Kebangkitan Kristus sejak dulu telah dianggap sebagai doktrin utama dari gereja.

Paulus menyerukan, ”Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” (1Kor. 15:17).

Yesus menegaskan bahwa kebangkitan-Nya dari antara orang mati akan menjadi ”tanda” untuk membenarkan pangakuan-Nya sebagai Mesias (Mat. 12; Yoh.2).
Kubur yang kosong adalah saksi dari kebangkitan Kristus yang tidak akan pernah terbantahkan.

IMPLIKASI DARI KE-TUHANAN YESUS


Terdapat beberapa implikasi penting yang berhubungan dengan doktrin mengenai ke-Tuhanan Kristus:
1). Manusia dapat memiliki pengenalan yang benar tentang Allah.
Yesus berkata, ”Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh. 14:9).
Apabila manusia ingin mengetahui bagaimana kasih Allah, kekudusan-Nya, maka kita hanya perlu melihat ajaran dan keteladanan Kristus hingga mati di kayu salib.
2). Penebusan tersedia bagi manusia.
Kematian Kristus memadai bagi semua orang berdosa yang pernah hidup, karena yang mati bukanlah manusia yang fana, melainkan Allah yang tak terbatas.
Dia, sumber hidup, yang memberi dan menopang kehidupan, yang sebenarnya tidak harus mati, telah mati karena kita.
3). Allah dan manusia telah bersekutu kembali.
Yang datang bukanlah malaikat atau manusia yang diutus oleh Allah kepada manusia, melainkan Allah sendiri yang telah melintasi jurang akibat dosa.
4). Menyembah Kristus merupakan hal yang layak.
Kristus bukanlah sekedar yang tertinggi dari semua makhluk ciptaan, tetapi Dialah Allah sendiri yang setara dengan Bapa.
Ia pantas menerima pujian, penyembahan dan ketaatan kita.

KESIMPULAN

Kristologi adalah bidang studi dalam teologi Kristen yang terutama berkaitan dengan sifat dan pribadi Yesus Kristus seperti yang tercatat dalam Injil dan surat-surat dalam Perjanjian Baru.
Kristologi sebagai ilmu pengetahuan merupakan bagian dari sebuah ilmu pengetahuan yang lebih luas, yakni teologi.
Kita tidak akan pernah menemukan sosok lain manapun, termasuk malaikat yang berani mengklaim diri-Nya menyatu dengan Allah Bapa.
Oleh karena itu, pemahaman bahwa Kristus adalah Allah dan juga manusia tidak bisa diragukan. Kristus merupakan Pribadi kedua dari Trinitas yang tidak pernah diciptakan, dan Ia sehakekat dengan Allah.


ErwanMusa ☎️ : 082157116469

MDK (Materi Dasar Kekristenan) 2 -- BAB 3 : DOKTRIN ALLAH

 

MDK (Materi Dasar Kekristenan) 2

BAB 3 : DOKTRIN ALLAH



PENGERTIAN DOKTRIN ALLAH

Doktrin ini mempelajari tentang pokok-pokok penting yaitu tentang eksistensi dan pengenalan pribadi Allah dan sekaligus supaya kita memiliki relasi dan hidup dalam keintiman dengan Allah.
Doktrin Allah disebut juga Theology Proper (studi tentang Allah dan sifat-sifat-Nya/Teologi yg berfokus pada Allah Bapa), yaitu untuk membedakan dengan teologi yang diartikan sebagai Ilmu tentang Allah secara umum dan luas, karena mencakup seluruh aspek kepercayaan Kristen.
Oleh karena itu, ketika kita mempelajari Pribadi Allah secara khusus, kita memakai istilah Teologi Proper.
Doktrin Allah dipahami sebagai usaha untuk mempelajari tentang Allah, yang mencakup keberadaan Allah, pengenalan akan Allah, kepribadian Allah, sifat-sifat Allah, nama-nama Allah, ketetapan Allah, dan karya-Nya dalam kehidupan manusia.
Usaha-usaha ini tidak boleh dilihat dari sudut pandang atau pengertian manusia, karena pada dasarnya manusia bukanlah sumber yang tepat untuk mengetahui segala sesuatu.

Pengkhotbah 8:17 (TB)
maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya.

Sumber utama yang tepat untuk kita mempelajari tentang Allah adalah Alkitab.
Alkitab adalah Firman Allah yang diinspirasikan oleh Allah Roh Kudus kepada para penulis Alkitab (2 Tim. 3:16).
Jadi, kita harus mempelajari Pribadi Allah dari apa yang Allah nyatakan kepada kita melalui Alkitab, yaitu firman-Nya.

Hubungan Doktrin Allah dengan Doktrin-Doktrin Lainnya

Tanpa pengenalan yang benar tentang siapakah Allah, kita tidak dapat melihat ajaran-ajaran Kristen lainnya secara tepat (Kristologi, Roh Kudus, Manusia, Dosa, Soteriologi, dll).

Misalnya, tentang Allah Tritunggal yang dipelajari sebagai salah satu natur Allah.
Jika kita tidak bisa menerima ajaran Allah Tritunggal, hubungan dari semua doktrin lainnya tidak akan memiliki kekuatan untuk bertahan sebagai satu sistem kepercayaan yang masuk akal.
Ajaran Allah Tritunggal tidak mungkin bisa dipisahkan dari doktrin Soteriologi (Keselamatan), doktrin Kristus, dan lain-lain.
Karena itu, doktrin Allah dapat dilihat menjadi pusat untuk memahami doktrin-doktrin lainnya secara komprehensif.

Pentingnya Mempelajari Doktrin Allah

Jika orang Kristen ditanya, "Apakah kamu percaya kepada Allah?", sebagian besar pasti akan menjawab, "Ya, saya percaya."
Akan tetapi, jika pertanyaan dilanjutkan dengan, "Jelaskan dengan kata-katamu sendiri, siapakah Allah?
Sifat-sifat apa yang Allah miliki dan apakah kamu dapat membuktikan sifat-sifat Allah itu?"
Banyak orang Kristen akan memiliki kesulitan untuk menjawab secara pasti, bahkan menjadi bingung.
Oleh karena itu, kita harus melihat dengan serius apa pentingnya bagi kita untuk mempelajari doktrin Allah.

SUMBER MEMPELAJARI DOKTRIN ALLAH

Mempelajari doktrin Allah bisa dilakukan dengan berbagai cara, karena ada banyak sumber yang tersedia.
Allah sendirilah yang telah menyediakan sarana-sarana tersebut.
Allah secara aktif bekerja hingga saat ini untuk menunjukkan kepada kita bagaimana kita bisa mengenal Dia dan mempelajari tentang Dia.

▪ Alkitab

Allah secara aktif telah menyatakan Diri-Nya dengan memilih, memanggil, dan memimpin para nabi dan para rasul (para penulis Alkitab) untuk menuliskan firman-Nya agar dapat dibaca dan dimengerti manusia dari zaman ke zaman.

Lukas 16:29, "Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

Segala sesuatu yang Allah ingin manusia tahu tentang Allah telah disampaikan-Nya kepada mereka dan dituliskan dalam Alkitab seperti yang telah kita terima saat ini.
Karena itu, Alkitab adalah sumber utama untuk manusia mempelajari dan mengenal Pribadi Allah serta hubungan-Nya dengan manusia serta semua ciptaan Allah lainnya.

Yohanes 1:1 (TB)
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

▪ Hamba-Hamba Tuhan yang Takut akan Tuhan

Alkitab diitulis oleh 40 penulis yang hidup pada tempat, waktu, dan latar belakang yang berbeda.
Melalui iluminasi Roh Kudus (Yoh. 14:26), Allah memakai para hamba-Nya, dari zaman ke zaman, untuk menjelaskan dan menafsirkan ajaran-ajaran penting tentang Pribadi Allah yang dituliskan dalam Alkitab.
Para ahli teologi juga mengumpulkan tema atau topik utama tentang Allah dalam seluruh Alkitab.
Lalu, mereka menyusunnya menjadi buku-buku pengajaran (doktrin) untuk menjadi salah satu sumber bagi orang Kristen belajar tentang Allah.
Namun buku-buku doktrin ini tidak memiliki otoritas seperti Alkitab (yang tidak ada salahnya).
Oleh karena itu, setiap doktrin harus diuji dan dipelajari dalam terang Firman Tuhan (Alkitab).

GARIS BESAR DOKTRIN ALLAH

Seiring dengan perkembangan sejarah ajaran iman Kristen dalam gereja, dan juga dengan banyaknya aliran teologia yang ada hingga saat ini, gereja harus mengajarkan pokok-pokok doktrin Allah secara benar menurut makna dan maksud Alkitab dengan sebenarnya.

Inti garis besar Doktrin Allah dapat disimpulkan sebagai berikut:
- Keberadaan Allah
- Pengenalan akan Allah
- Nama-Nama Allah dan Atribut-Atribut Allah (Karakter Allah)

Mempelajari doktrin Allah seharusnya menjadi bagian utama dalam kehidupan Kristen karena Allahlah yang memulai "segala sesuatu" (Kol. 1:16).
"Segala sesuatu" dimengerti benar-benar dalam arti yang sesungguhnya.
Tanpa Allah, manusia dan alam semesta tidak mungkin ada.
Dan tanpa Allah tidak ada sesuatu pun yang bisa kita ketahui dan pahami, karena Dialah sumber dari segala sesuatu yang dapat kita pikirkan.
Oleh karena itu, mempelajari doktrin Allah akan menjadi pijakan utama (fondasi yang kuat) untuk kita bisa melihat pertumbuhan iman Kristen dalam perspektif yang benar, yaitu melihat segala sesuatu dengan Allah sebagai pusatnya (1Kor. 2:14; Yoh. 16:13; 2Ptr. 1:20-21).

KEBERADAAN ALLAH

Alkitab menegaskan dalam Ibrani 11:6, "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

▪ Fakta-Fakta Alkitab tentang Keberadaan Allah

Penerimaan terhadap Doktrin Inspirasi Alkitab adalah dasar dari iman Kristen.
Melalui firman-Nya, kita percaya bahwa Allah telah memberitahukan kepada kita tentang keberadaan Allah.

Kej. 1:1 berkata, "Pada mulanya, Allah menciptakan langit dan bumi."
Hal ini menunjukkan bahwa penulis kitab Kejadian tidak meragukan tentang keberadaan Allah. Demikian juga penulis-penulis kitab lain yang menerima fakta keberadaan Allah secara alamiah.

Alkitab mengatakan bahwa hanya orang bodoh yang mengatakan bahwa Allah tidak ada (Mzm. 14:1).
Alkitab memberi tahu kita bahwa ada orang-orang yang secara aktif menyangkali campur tangan Allah dalam kehidupan manusia (Ayb. 22:12-14).

Alkitab juga memberitahukan bahwa, Roh Allahlah yang mengangkat kita menjadi anak-anak Allah, sehingga kita dapat memanggil-Nya "... Abba, Bapa!" (Rm. 8:15).

Melihat fakta-fakta di atas, sebagai orang Kristen kita harus menyadari dan memiliki kepastian bahwa Allah ada.
Allah terus bekerja hingga waktu yang ditentukan, menopang alam semesta dan aktif terlibat dalam kehidupan manusia.
Sementara itu, Alkitab juga menegaskan bahwa Roh Kudus terus menuntun orang yang belum percaya untuk mengenal Allah dengan memberikan kelahiran kembali saat mereka mendengar pemberitaan Injil (Rm. 1:16).
Hanya dengan demikian, orang berdosa dapat memperoleh pengetahuan yang sesungguhnya tentang Allah dan mengenal Dia secara pribadi.

PENGENALAN AKAN ALLAH

Pada umumnya seluruh gereja mengakui bahwa Allah adalah Pribadi yang dekat dan dapat dikenal oleh manusia.
Seperti yang tertulis pada Hos. 6:3, ".... 'Marilah kita mengenal, marilah kita mengejar untuk mengenal TUHAN.

Kemunculan-Nya seperti terbitnya fajar, dan Dia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi.'"
Dan juga kita mengakui bahwa Allah adalah Allah yang tidak terbatas, sedangkan manusia sebagai ciptaan adalah terbatas

Jadi, bagaimana seharusnya kita mengenal Allah yang kita sembah ?

▪ Mengenal Allah dengan Benar

Allah ingin dikenal oleh ciptaan-Nya, Ia memberikan perasaan batin dalam diri manusia untuk memiliki kerinduan mengenal Dia.
Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk dapat mengenal Dia.

a). Pengenalan akan Allah Menurut Alkitab

Allah adalah sumber pengetahuan untuk kita dapat mengenal Dia.
Melalui Alkitab, Allah telah menyatakan Diri-Nya dengan jelas melalui para nabi dan rasul.
Berikut beberapa pernyataan Alkitab yang menolong kita mengerti bagaimana mengenal Allah yang benar.
- Hikmat Dunia Tidak Mengenal Allah
Kita tidak dapat mengenal Allah melalui hikmat dunia (1Kor. 1:21).
- Allah Adalah Roh
Manusia tidak dapat melihat Allah karena Allah adalah Roh.
Akan tetapi, bukan berarti kita tidak dapat mengenal Allah.
Kita harus menjadi manusia rohani untuk mengenal Allah (Yoh. 4:24).
- Hanya Yesus Kristus yang Pernah Melihat Allah
Manusia rohani dapat melihat Allah melalui Yesus Kristus.
"Barang siapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami." (Yoh. 14:9b; 1Tim. 6:16)

b). Pengenalan akan Allah Hanya Melalui Yesus Kristus

"Segala sesuatu telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku. Dan, tidak seorang pun mengenal Anak, selain Bapa; tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Sang Anak
berkenan untuk mengungkapkan-Nya." (Mat. 11:27)
Alkitab mengatakan bahwa pengenalan akan Allah hanya bisa didapat melalui Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus (1Yoh. 5:20).

Mengenal Allah dan Yesus Kristus Akan Mendapatkan Hidup Kekal
"Inilah hidup kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Kristus Yesus yang telah Engkau utus." (Yoh. 17:3)

Allah tidak terbatas dalam segala hal, sedangkan manusia memiliki banyak keterbatasan.
"Besar Tuhan kita dan berlimpah dalam kuasa, pengertian-Nya tidak terbilang." (Mzm. 147:5) Demikian juga Paulus mengatakan bahwa kebijaksanaan dan pengetahuan Allah sungguh tak terselidiki (Rm. 11:33).
Karenanya, tidak mungkin ada manusia yang dapat mengerti atau memahami Allah secara penuh (Ayb. 11:7; Yes. 40:18; Ul. 29:29).
Namun, bukan berarti Allah tidak dapat dikenali.

Paulus menjelaskan dalam 1Kor. 2:11-12, bahwa Allah telah menganugerahkan kepada kita orang percaya, roh dari Allah untuk kita mengenal pengetahuan tentang Allah walaupun dalam porsi yang tidak sepenuhnya. "... tidak ada seorang pun yang mengetahui hal-hal dari Allah selain Roh Allah.

Sekarang, kita telah menerima bukan roh dari dunia, melainkan roh yang dari Allah supaya kita dapat mengetahui hal-hal yang dianugerahkan Allah kepada kita."
Alkitab memberikan pengetahuan tentang Allah kepada manusia rohani agar kita semakin mengenal Allah.
Apa yang Alkitab ajarkan adalah benar sehingga kita bersyukur bahwa sekalipun manusia memiliki keterbatasan, manusia masih memiliki kemampuan untuk mengenal Allah dengan benar(1Yoh. 4:8).

c). Berusaha terus Bertumbuh dalam Pengenalan akan Allah

Melalui Alkitab kita bisa mengenal kasih-Nya, rencana-Nya dan segala sesuatu tentang Dia.
Semakin akrab atau intim kita bergaul dengan Allah, maka semakin besar pengetahuan kita akan Allah.
Itulah sebabnya Paulus mendorong kita untuk terus menerus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah (Kol. 1:10).
Demikian juga, kita menjadi jelas bahwa tidak mungkin kita akan kehabisan pengetahuan tentang Allah karena Ia begitu dahsyat dan begitu tinggi (Mzm. 139:6).

▪ Penyataan Allah sebagai Syarat Mutlak untuk Pengenalan akan Allah

Berdasarkan sejarah, Allah memprakarsai untuk menyatakan Diri-Nya agar dikenali oleh manusia.

Kata 'Penyataan' berasal dari bahasa Yunani, "apokalupsi", yang berarti 'membuka selubung sehingga hal yang tersembunyi menjadi terbuka dan terlihat dengan jelas'.
Penyataan Allah adalah perbuatan Allah untuk menyatakan atau menunjukkan kebenaran-Nya kepada manusia.
Harus diakui bahwa sekian lama manusia telah dibutakan oleh dosa sehingga manusia tidak dapat lagi mengenal Allah yang sebenar-benarnya, bahkan terkadang menjadi salah.
Melalui Penyataan-Nya, Allah membuktikan bahwa Allah itu benar-benar ada dan manusia perlu untuk mengenal-Nya.
Apa yang Allah nyatakan tentang diri-Nya kepada manusia adalah benar dan cukup, bahkan berkelimpahan.

▪ Dampak Pengenalan akan Allah

Dampak Pengenalan Allah bagi kehidupan manusia adalah sbb :

a). Membuktikan Allahlah yang Memprakarsai segala sesuatu

Penyataan Allah menyadarkan kita bahwa tanpa Penyataan-Nya, manusia tidak mungkin dapat mengenal Allah dengan benar.
Pengenalan akan Allah bukanlah usaha manusia karena manusia pada dasarnya tidak mau mencari kebenaran.
Allahlah yang mencari manusia (Kej. 3:9) dan menyatakan Diri-Nya supaya manusia memperoleh pengenalan dan keselamatan yang datang dari Allah.

b). Allah Bertindak Sesuai dengan Rencana-Nya

Tindakan Allah untuk memperkenalkan Diri-Nya kepada manusia sesuai dengan rancanganNya.
Allah telah mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi atas manusia.
Karena itu, Allah telah menyediakan Diri-Nya dan membuat rencana untuk dikenal agar manusia kembali kepada Penciptanya dan hidup sesuai dengan rencana-Nya (Ef. 2:22).

c). Mengenal Kasih Allah yang Kekal

Setelah kejatuhan manusia dalam dosa, manusia seharusnya binasa, tetapi Allah berinisiatif untuk menyatakan Diri dan rencana-Nya kepada manusia melalui Penyataan Khusus, yaitu Alkitab. Seluruh isi Alkitab memiliki satu benang merah yaitu berita keselamatan dalam Yesus Kristus (Yoh. 3:16).
Allah melakukan hal tersebut karena kasih-Nya kepada manusia.

NAMA-NAMA ALLAH

Sering kali, nama dipakai untuk menunjukkan identitas seseorang.
Alkitab menyebutkan banyak sekali nama Allah.
Jika kita masukkan "nama Allah" dalam kotak pencarian Google, kita akan menemukan jumlah yang fantastis, yaitu antara sepuluh-an sampai seratus-an lebih.

▪ Nama Allah secara Umum

Ada beberapa prinsip yang perlu kita pelajari tentang nama-nama Allah.
Dalam Alkitab, nama-nama yang diberikan manusia kepada Allah, memiliki tujuan dan kepentingan tertentu.
Contohnya "Yehova Jireh", artinya "Allah Menyediakan" (Kej. 22:14).
Nama itu diberikan untuk menjelaskan apa yang telah Allah lakukan kepada Abraham ketika Allah menyediakan domba jantan untuk dikurbankan sebagai pengganti anaknya.
Nama-nama Allah juga diberikan oleh manusia, dalam hal ini umat Israel, untuk menggambarkan janji-janji Allah yang disebutkan dalam berbagai ayat dalam Alkitab.
Ada juga nama-nama yang diberikan sebagai tanda kuasa, kekuasaan, dan sifat-sifat Allah.
Jadi, pemberian nama memiliki kepentingan-kepentingan tertentu.
Nama juga menunjukkan identitas seseorang.
Oleh karena itu, jika kita menyebut nama Allah dengan sia-sia, itu berarti kita tidak menghormati Dia.
Para imam di Bait Allah menyelenggarakan upacara dalam nama Tuhan karena nama-Nya menjanjikan kelestarian bangsa Israel.
Nama-nama Allah tersebut merupakan suatu penyataan diri (latin : "nomen editum").
Dengan demikian, nama-nama Allah tersebut merupakan manifestasi dari Allah sendiri, baik itu sebagai penyataan akan sifat-sifat Allah atau hubungan-Nya dengan manusia.
Cara Allah memberikan nama atau sebutan kepada Diri-Nya sendiri adalah dengan merendahkan diri, menemui manusia, dan memakai bahasa manusia yang terbatas supaya manusia memahami dan mengerti.
Nama-nama Allah juga disampaikan dalam banyak kata atau ungkapan karena pribadi Allah tidak mungkin bisa diungkapkan hanya dengan satu nama atau ungkapan.

▪ Nama-Nama Allah dalam Perjanjian Lama (PL)

Kita tidak bisa menyebutkan semua nama Allah pada pelajaran ini karena sangat banyak.
Karena itu, kita akan menyebutkan nama-nama Allah yang umum saja.

1. YHWH = Yahweh
"YHWH" atau "Yahweh" adalah nama pribadi Allah yang dikenal oleh bangsa Israel.
Ini adalah nama yang paling sering dipakai karena tercatat kira-kira 5.424 kali dalam PL.
Setelah masa pembuangan, nama ini mulai dipandang sakral sehingga tidak diucapkan lafalnya. Sebagai gantinya, dipakai kata "Adonai" saat mereka harus menyebutkan nama "Yahweh".
Pada abad ke-6 dan ke-7 sesudah Kristus, huruf hidup "Adonai" digabung dengan huruf mati "YHWH" (menjadi Yehovah) untuk mengingatkan pembaca di sinagoge akan rasa hormat ketika mengucapkan nama Allah yang agung dan sakral itu.
Musa adalah orang pertama yang dikaruniai hak istimewa untuk mengenal nama pribadi Allah ini. Sebelumnya, nama Allah dikenal sebagai "Allah Abraham, Ishak, Yakub".
Namun kepada Musa, Allah menyatakan diri sebagai "YaHWeH" = "Aku adalah Aku" (Kel. 3:15). Kata "Yahweh" dalam bahasa Ibrani adalah "Ehyeh Asher Ehyeh" = "Aku akan ada yang Aku ada" atau "Aku akan menjadi yang Aku akan menjadi".
Nama ini menjadi nama yang sakral atau agung sebagaimana tercakup dalam Im. 24:16.

Imamat 24:16 (TB) Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati.

Pelanggaran terhadap hukum ini akan berakibat fatal.
Karena itu, umat Israel sangat menghormati nama "Yahweh".

Nama-nama gabungan yang dipakai dalam bentuk majemuk :
YHWH -- Yireh : Tuhan menyediakan (Kej. 22:14).
YHWH -- Nissi : Tuhan adalah panji-panjiku (Kel. 17:15).
YHWH -- Shalom : Tuhan itu damai sejahtera (Hak. 6:24).
YHWH -- Sabbaoth : Tuhan semesta alam (1Sam. 1:3).
YHWH -- Makkaadeshkem : Tuhan yang menguduskan (Kel. 31:13).
YHWH -- Roi: Tuhan adalah gembalaku (Mzm. 23:1).
YHWH -- Tsidkenu : Tuhan adalah keadilan kita (Yer. 23:6).
YHWH -- Shammah : Tuhan hadir di situ. (Yeh. 48:35).
YHWH -- Elohim-Israel : Tuhan, Allah Israel (Hak. 5:3; Yes. 17:6).

Nama-nama gabungan ini bukan nama-nama tambahan bagi Allah, tetapi gelar-gelar yang sering muncul untuk memperingati suatu peristiwa.
Nama-nama ini sesungguhnya menyatakan karakter Allah dan hal-hal lain yang telah diperbuat Allah bagi umat-Nya.

2. Adonai
"Adonai" berarti "Tuan" dalam bentuk tunggal, seperti yang dipakai sebagai tuan yang berhak terhadap budak-budak zaman dahulu.
Dalam bentuk jamak, "Adonai" sama dengan "Elohim".
Kata ini menunjukkan suatu otoritas mutlak bahwa Allah adalah Pemilik Israel atau umat-Nya.
Yosua mengakui otoritas Allah sebagai Panglima bala tentara Tuhan (Yos. 5:14), demikian juga Yesaya yang menyerahkan diri di bawah otoritas Tuhan sebagai "Tuan"nya (Yes. 6:8-11).
Perjanjian Baru menggunakan kata yang seimbang artinya, "Kurios" yaitu 'Tuan'.

3. El, Elohim, dan Elyon


Nama "El" atau 'Il, ditulis aleph-lamed (Ibrani: אל, ) adalah istilah dalam bahasa Semit barat laut yang berarti "ilah" atau "dewa", atau merujuk kepada (sebagai nama diri) siapa saja dewa tertinggi atau dewa utama di Timur Tengah kuno.
Sebutan yang lebih langka, "ila", merupakan bentuk predikat dalam bahasa Akadia dan bahasa Amorit.
Kata ini berasal dari Bahasa Protosemitik biliteral kuno, yang berarti "tuhan".
Nama "El" merupakan sebutan paling sederhana untuk Allah dalam PL, yang berarti menjadi pertama, menjadi tuan, dan bisa berarti kuat dan berkuasa.

Sedangkan "Elohim" adalah nama jenis dan berarti Allah (Ul. 6:4).
"YHWH adalah Elohim, YHWH itu Esa".
Kata “Elohim” (אֱלֹהִים) dalam bahasa Ibrani adalah kombinasi dari kata benda tunggal “Eloah” (אֱלוֹהַּ), yang ditambah dengan akhiran jamak “im”.
Jika diterjemahkan kata demi kata, “Elohim” berarti “Tuhan-Tuhan,” yang merupakan sebutan untuk Tuhan yang paling umum digunakan dalam Kitab Perjanjian Lama bahasa Ibrani.
Alkitab selalu menggunakan kata “Elohim (Tuhan-Tuhan)” saat menunjuk kepada Tuhan yang menciptakan segala sesuatunya, Tuhan yang membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dan menyatakan Kesepuluh Perintah, dan Tuhan yang dikenal oleh semua orang yang berada di dalam perjanjian baru, dari yang terkecil hingga yang terbesar (Kej 1:1-31; Kel 20:1; Yer 31:33).
Alkitab Ibrani menyebut Tuhan sebagai “Elohim”, menggunakan kata ganti jamak “Kita”

Baiklah “Kita” menjadikan manusia menurut gambar dan rupa “Kita” ... (Kej.1:26)

Elyon (Alkitab Ibrani עליון ) secara tradisional disebut di Samaria sebagai illiyyon, adalah julukan yang merujuk kepada Tuhan bangsa Israel.
Dalam Alkitab Ibrani. ʾĒl ʿElyōn biasanya diterjemahkan sebagai "Tuhan yang Maha Tinggi", atau tertulis dalam Septuagint sebagai "Ο ΘΕΟΣ Ο ΥΨΙΣΤΟΣ" ("Tuhan yang Maha Tinggi" ; Kej. 14:19-20; Bil. 24:16; Yes. 14:14).

4. Shaddai dan El-Shaddai

"Shaddai" adalah nama Allah yang diturunkan dari nama "shadad" yang memiliki arti penuh kuasa, yang merujuk kepada Allah yang berkuasa atas surga dan bumi.
Nama "Shaddai" berbeda dengan Elohim.
Kita mengenal bahwa "Elohim" menunjuk kepada Allah dari ciptaan dan alam semesta, sedangkan "Shaddai" menunjuk kepada Allah sebagai subjek dari semua kekuatan di alam dan memakai segala sesuatu yang ada di alam sebagai alat atau sarana bagi karya anugerah ilahi.
Meskipun nama ini menekankan kebesaran yang dimiliki oleh Allah, nama ini membawa kita kepada suatu pengertian bahwa Dia adalah sebagai sumber berkat dan kedamaian.
Dengan nama inilah, Allah datang kepada Abraham, bapa segala orang beriman.

Nama-nama gabungan :

a. El-Shadai.
Arti : Allah Yang Mahakuasa yang sedang berdiri seperti gunung, kuat, teguh, tidak goyah (Kej. 17:1; 28:3; 35:11; Kel. 6:3; Mzm.91:1-2).
b. El-Elyon.
Arti : Allah Yang Mahatinggi; kedaulatan Allah (Kej. 14:19).
c. El-Olam.
Arti : Allah yang kekal -- tidak berubah (Kej. 21:33; Maz. 100:5; 103:17).
d. El-Roi.
Arti : Allah yang melihat (Kej. 16:13).

▪ Nama-Nama Allah dalam Perjanjian Baru (PB)

Penyataan Allah melalui nama-nama Allah dalam PL terus berkembang sampai pada zaman PB. Beberapa nama Allah dalam PB.

1. Theos

"Theos" merupakan nama Allah dalam PB (Yunani) yang mempunyai bentuk setara dengan nama Allah dalam PL, "El", "Elohim", dan "Elyon" (Ibrani).
Sebutan "Theos" paling sering digunakan untuk merujuk kata "Allah" dalam PB dan terjemahan yang paling umum dalam Septuaginta untuk kata "Elohim".
"Elyon" sering disejajarkan dengan "Hupistos Theos" (Allah Maha Tinggi ; Mar. 5:7; Luk. 1:32, 35, 75; Kis. 7:48; 16:17; Ibr. 7:1).
Dalam hal ini, Yesus Kristus sebagai 'Theos', sang Pemilik umat-Nya.

2. Kurios/Kyrios (Yunani)

Dari 717 sebutan "Kurios" dalam PB, yang terbanyak terdapat dalam tulisan Lukas (210) dan Paulus (275) karena mereka menulis kepada orang-orang yang berkebudayaan dan bahasa Yunani.
Nama eksplisit (jelas/gamblang) Allah, seperti "YHWH" dalam PL, artinya : "Alfa dan Omega ; Yang dahulu ada, Yang sekarang ada, dan Yang akan tetap ada ; Yang awal dan Yang akhir (Why. 1:4, 8, 17; 2:8; 21:6; 22:13).
Arti kata ini menekankan supremasi (otoritas) Allah sebagai Tuan, Bapak, Pemilik, Penguasa, dan juga Suami (1Ptr. 3:6).
Kristus disebut sebagai "Kurios" = Tuhan, juga "Rabbi" atau "Tuan" (Mat. 8:6).
Pernyataan Tomas, "Tuhan dan Allahku" (Yoh. 20:28), Yesus disebut secara setara dengan Allah oleh orang Kristen mula-mula.

3. Bapa/Pater (Latin)

Kata "Bapa" yang menunjuk kepada Allah dipakai sebanyak 15 kali dalam PL dan 245 kali dalam PB.
Allah juga disebut dengan nama "Bapa" dalam PB, untuk menunjuk KeilahianNya.
Dalam PL, kata ini dihubungkan dengan sifat hubungan antara Allah dan bangsa Israel (Ul. 32:6; Mzm. 103:13; Yes. 63:16; 64:48; Yer. 3:4,19; Mal. 1:6; 2:10), Israel disebut sebagai anak Allah (Kel. 4:22; Ul. 14:1; 32:19; Yes. 1:2; Yer. 31:20; Hos. 1:10; 11:1). 

ErwanMusa ☎️ : 082157116469