Rabu, 29 Agustus 2018

BERKEPRIBADIAN SEPERTI BAPA

BERKEPRIBADIAN SEPERTI BAPA


Pdt. Erwan Musa

Setiap orang percaya dituntut untuk memiliki kepribadian atau berkarakter seperti Bapa, yang sama dengan ungkapan  ‘ Like father like son ‘. 
Jadi panggilan orang percaya sesungguhnya adalah " Menjadi sempurna seperti Bapa.". 
Itulah  Gol  yang  tidak boleh digantikan dengan hal-hal yang lain. Penyimpangan dari tujuan ini berarti penyesatan atau kesalahan yang tidak bisa ditolerir. 
Seperti halnya yang telah kita pahami bahwa, maksud dari keselamatan ialah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula-Nya atau membentuk makhluk yang berkualitas seperti diri Allah Bapa. 

Yohanes  1:12  berkata, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya”.     
               
Artinya Allah memberikan kuasa supaya orang percaya menjadi anak-anak Allah, maksudnya ialah kita mempunyai potensi untuk memiliki kepribadian seperti Allah Bapa. 

Kita akan mempelajari makna dari beberapa kata dalam Yohanes 1:12 di atas :
■ Kata ‘menerima’ (yun) elabon (ἔλαβον) dari akar kata lambano (λαμβάνω). 
Selain berarti menerima (to accept), juga berarti to get hold of (berpegang tetap). 
Jadi  Kata "menerima" memiliki makna proses panjang, di mana seseorang harus selalu hidup di dalam segala fasilitas yang Tuhan berikan ( penebusan yang Tuhan sudah berikan, Injil Keselamatan, Roh Kudus, dan  penggarapan yang Tuhan kerjakan melalui pergumulan dan perjalanan hidup setiap saat), agar orang percaya terus diproses hingga benar-benar mencapai keberadaan sebagai anak-anak Allah.
Pergumulan untuk menjadi anak-anak Allah merupakan jantung kekristenan yang harus di kerjakan dalam hidup ini, karena hal tersebut merupakan tanggung jawab setiap orang percaya.   
    
Fil.2:12-13 berkata : 
“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,  karena Allah lah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya”.

Seseorang yang mengaku anak Allah harus mengusahakan dirinya untuk berkualitas sebagai anak-anak Allah, yang berkeadaan seperti Allah Bapa.  Jadi ciri dari orang Kristen yang mengaku sebagai anak Allah adalah mereka yang memiliki karakter Bapa.


■ Kata ‘anak’ pada ayat tersebut memakai kata  teknon (τέκνον), 
(bukan : paidion, huios, nothos, nephios)

Dalam bahasa Yunani terdapat 5 kata yang diterjemahkan sebagai anak yaitu:                                            
#• Nephios (νήπιος) 
Kata ini memiliki pengertian bayi atau anak usia sangat dini (Mat. 11:25 ; Gal. 4:1)
#•Paidion (παιδίον) 
Kata ini memiliki pengertian anak usia 7 sampai 14 tahun, usia yang sangat efektif dididik (Mat. 18:3).                                                  
#• Huios (υἱός)
Artinya anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship). 
Dalam Ibrani 12:5-10, berarti anak dalam didikan.  
Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Bapa. Jadi, anak yang berstatus sebagai anak sah yang akan mewarisi kekayaan dan keagungan orang tuanya, atau seperti Pangeran.               
#• Nothos (νόθος)
Artinya anak yang tidak resmi (anak haram/ Ing. illegitimate son ). 
Dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai anak gampang (Ibr.12:8) atau anak yang tidak dalam didikan Tuhan.
• Kata terakhir adalah teknon (τέκνον)
Artinya anak dalam arti keturunan (Matius 15:26).                                
Kata teknon (τέκνον) pada Yoh.1:12 artinya anak atau keturunan yang menyiratkan adanya pewarisan gen atau sifat-sifat orang tua kepada anak atau  pewarisan karakter yang menunjuk adanya potensi untuk berkepribadian seperti Allah. 
Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus agar kita menjadi sempurna seperti Bapa. 

Sebagai orang percaya kita harus memiliki ke 4 sifat dan sikap anak  (Nephios, paidion, huios, teknon) kecuali Nothos.
Proses menjadi anak-anak Allah ini adalah proses yang dilahirkan oleh Allah (Yoh 1:13). 
Hanya melalui proses kelahiran kembali, maka perlahan tapi pasti seseorang akan mengenakan keserupaan seperti Kristus atau berkepribadian seperti Allah. 
Dan  Proses kelahiran ini bisa terjadi dengan melakukan Firman Tuhan yang benar (murni) dan  melalui penggarapan Tuhan lewat pergumulan-pergumulan hidup setiap hari.  

1 Petrus 1:23  "Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal." 

Juga dikatakan dalam Roma 12:2b : ..." tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu “.. yaitu melalui Firman Kebenaran, dalam teks asli dikatakan berubahlah oleh pembaharuan pikiran.  

Pikiran  adalah pusat kehendak manusia atau pusat pengambilan keputusan tertinggi  yang menentukan tindakan seseorang.  
Firman Tuhan berkata, pembaruan hidup dikerjakan oleh Roh Kudus (7:6; 8:4).  
Namun, di ayat ini  Paulus tegaskan bahwa manusia sendiri juga harus berusaha membarui dirinya, artinya : kita harus (brainwashing) mencuci otak kita dengan kebenaran yang murni atau benar. 
Devinisi Brainwashing = upaya rekayasa yang dilakukan untuk mengubah doktrin, dengan  menanamkan doktrin yang benar bagi orang kristen baru atau petobat baru,  kemudian bagi orang kristen lama cara tersebut bermakna mengganti pemahaman yang salah, dan sekaligus membentuk filter  dalam firi seseorang. 
Contohnya,  Brainwashing  di rumah dengan membaca kebenaran, mendidik anak, mendengarkan kotbah di gereja, dll   
Tujuannya ialah supaya kita dapat membedakan manakah kehendak Allah,

Roma 12:2b :
tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Kata " membedakan " (Yun) dokimazein/bentuk kk, artinya : memeriksa, menguji 
maksudnya adalah untuk seseorang dapat mengerti kehendak Allah tidak dengan sendirinya  (otomatis), karena dalam kehidupan sehari-hari setiap orang diperhadapkan dengan berbagai keadaan, sehingga sering mengalami kesulitan untuk menentukan sikapnya. 
Jadi dengan berusaha memperbarui pikiran setiap hari dengan kebenaran firman yang benar dan murni, maka kita akan dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Jadi setiap orang percaya harus terus berusaha untuk bertumbuh dalam perubahan pola berpikir sehingga membuatnya mampu memiliki pola berpikir seperti Allah Bapa (Fil. 2:5)
Dengan demikian secara tidak langsung ia tidak memberi pangkalan untuk  Iblis atau filosofi dunia dalam pikirannya. 
Oleh karena itu kalau seseorang mengaku anak Allah tetapi tidak merasa memiliki tanggung jawab, untuk mengerjakan keselamatannya, maka ia tidak akan pernah mengalami kelahiran baru. 
Hal ini dipicu oleh doktrin bahwa kalau seseorang sudah percaya kepada Tuhan Yesus berarti sudah menjadi anak Allah dan kelahiran baru akan terjadi secara otomatis. 

Matius 13:18-23 (Lihat juga Lukas 8:4-8, 11-15)
Melalui "Perumpamaan tentang Seorang Penabur Benih, " Tuhan Yesus mengajar agar setiap orang percaya selalu membangun sikap hati yang benar, sehingga benih Firman Tuhan dapat bertumbuh dan menghasilkan buah.
Matius 13:23 : Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat."

Kata ‘mendengar’ (yun) akouo ; ak-oo'-o : mendengar, mempelajari, mengerti, mentaati.
Proses  dari benih sampai menghasilkan buah pasti membutuhkan waktu yang panjang. Tidak otomatis berbuah pada saat ketika seseorang  mendengarkan atau belajar Firman Tuhan. 
Oleh karena itu, kita harus terus menerus memperhatikan dan menjaga agar tanah hati kita tetap subur  di mana pun dan apa pun yang  kita kerjakan, dimana kita harus menjaga hidup supaya benih bertumbuh dan berbuah. 

Firman Tuhan juga berkata, “ Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka  menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini."  (1 Petrus 1:17). 

Kata ‘ketakutan’ (yun) phobos ; fob'-os : rasa takut, hormat, takut berbuat salah. 
Dalam terj Shellabear 2000 berkata : 
Ia adalah Allah yang menghakimi masing-masing orang setimpal dengan perbuatannya tanpa memandang muka. Jika kamu memanggil-Nya Bapa, maka hendaklah kamu hidup dengan rasa takut kepada-Nya selama kamu masih tinggal di dunia ini.  

Tuhan Memberkati

Jumat, 03 Agustus 2018

Yang Terbesar dalam Kerajaan Sorga

Yang Terbesar dalam Kerajaan Sorga    

Oleh : Pdt. Erwan Musa





Matius 18:1-5
18:1 Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?"
18:2  Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka
18:3  lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
18:4  Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.
18:5 Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."

Injil Matius 18:1-5 menceritakan bahwa, suatu ketika murid-murid Yesus bertanya kepadaNya perihal siapa yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.
Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkan di tengah-tengah mereka, serta berkata,  "...sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.  Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga."  (ayat 3,4).
Jawaban Yesus pada saat itu benar-benar mengejutkan mereka semua ...

Pertanyaannya, mengapa Yesus menjawab pertanyaan murid-muridNya dengan memberikan contoh anak kecil, bukan yang lain?

Sebelum kita membahas hal tersebut, mari kita pahami terlebih dahulu penggunaan kata "anak " yang di pakai Yesus pada ayat-ayat tersebut.
Seluruh kata anak atau anak kecil pada ayat 2-5 (yunani) παιδίον ; paidion : kata ini memiliki pengertian anak usia 7 sampai 14 tahun, usia yang sangat efektif untuk di dididik.

Note : Dalam teks atau bahasa Yunani terdapat 5 kata untuk kata anak dengan makna yang berbeda :
▪ Kata pertama adalah *nephios (νήπιος)*, kata ini memiliki pengertian bayi atau anak usia sangat dini (Mat. 11:25).
▪ Kata kedua adalah *paidion (παιδίον)*, kata ini memiliki pengertian anak usia 7 sampai 14 tahun, usia yang sangat efektif dididik (Mat. 18:3).
▪ Ketiga adalah *huios (υἱός)* yang artinya anak dalam arti anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah (Ing. kinship).
Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah.
Jadi, anak yang berstatus sebagai anak sah yang akan mewarisi kekayaan dan keagungan orang tua, atau seperti Pangeran (Ibr. 12:8).
▪ Kata keempat adalah *nothos (νόθος)*
Dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan anak gampang.
Kata nothos ini artinya anak yang tidak resmi (Ing. illegitimate son).
Kata ini juga bisa berarti anak haram (Ing. bastard).
▪ Kata terakhir adalah *teknon (τέκνον)*
Adapun kata teknon artinya anak dalam arti keturunan (Matius 15:26)
Di dalam kata teknon menyiratkan adanya pewarisan gen atau sifat-sifat orang tua kepada anak.

Jadi mengapa Yesus menggunakan kata anak (paidion) pada ayat tersebut untuk memberi gambaran dalam ajarannya ?

Yang pertama, yang harus kita pahami ialah bahwa sifat anak kecil yang dapat kita teladani, pada usia 7-14 th di antaranya:
Menurut Dr. Maria Montessori 
(seorang pendidik, ilmuwan, dan dokter berkebangsaan Italia)
Ia adalah seorang yang konsen dengan pendidikan dan pada akhirnya ia mengembangkan metode pendidikan anak yang dikenal dengan sebutan Metode Montessori, berkata : 
Pada usia seperti itu anak memasuki masa abstrak, artinya dimana anak mulai memperhatikan masalah kesusilaan, mulai berfungsi perasaan etisnya yang bersumber dari kata hatinya dan ia mulai tahu atau mengerti akan kebutuhan orang lain.

Intinya anak usia 7-14 th sangat efektif untuk di dididik dalam segala hal, artinya ia percaya penuh kepada bapanya dan mudah dibentuk dan diajar (taat).

Pada ayat 3 : Yesus berkata, “Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga…”

~ Kata Bertobat (yun) strepho ; berarti membanting setir; mengubah arah, berbalik dari jalan salah untuk menempuh jalan yang benar

Kesimpulannya :
Jadi orang yang terbesar dan layak memerintah kelak bersama Yesus dalam Kerajaan Sorga adalah mereka yang bersedia dididik atau berkriteria sebagai sorang murid yang benar benar murid Ktistus, seperti yang tertulis dalam Injil Yohanes 8:31-32 :

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku ; dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu

Oleh karena itu selagi masih ada kesempatan, semestinya kita jadikan kesempatan tersebut sebagai satu-satunya kesempatan untuk membangun hidup sebagai murid yang berkenan kepadaNya.

Tuhan Memberkati




Kamis, 26 Juli 2018

MAKNA MISKIN DIHADAPAN TUHAN


MAKNA MISKIN DI HADAPAN TUHAN 

Oleh : Pdt. Erwan Musa



Memiliki Orientasi atau mengingini Tuhan dan Kerajaan-Nya merupakan esensi hidup bagi setiap orang percaya, karena hal tersebut merupakan kehendak Tuhan. Namun tidak mudah bagi seseorang untuk membangun hidup berorientasi kepada Tuhan dan kerajaan-Nya secara konsisten. Karena sesungguhnya tidak banyak orang yang memiliki orientasi atau tujuan hidup sungguh-sungguh kepada Tuhan walaupun orang atau hamba Tuhan yang aktif pelayanan di gereja. Mereka belum mengerti bahkan tidak memiliki tujuan hidup yang benar.

Tanda orang yang memiliki tujuan hidup kepada Tuhan adalah:
~ ia pasti berjuang membangun hidup serupa Kristus,
~ mengalami pertumbuhan secara rohani
~ pasti terlihat dalam menjalani hidupnya ia berjuang untuk tidak memberi ruang kepada hal-hal duniawi.
~ menghadirkan Kerajaan Allah atau pemerintahan Tuhan yaitu kebenaran/Kehendak Tuhan di mana pun ia berada.

Orientasi adalah sebuah ‘gol yang menentukan sikap atau arah hidup dan yang mendasari pikiran, perhatian atau kecenderungan seseorang.
Contohnya seseorang yang menginginkan bergelimang harta kekayaan, jabatan, kedudukan, kesuksesan di dunia ini.

Tuhan menghendaki agar tujuan hidup atau orientasi setiap orang percaya harus dan hanya kepada "Tuhan dan Kerajaan-Nya". Artinya adalah kita harus terus berjuang untuk mengarahkan hidup ini kepada hal-hal yang permanen sifatnya !!!

Mengapa kepada Tuhan? Karena Tuhan adalah sang pemilik hidup kita, sehingga kita wajib hidup sesuai dengan kehendak-Nya yaitu membangun keserupaan dengan Kristus.
Kemudian, mengapa kepada Kerajaan Allah? Karena Kerajaan Allah berbicara pemerintahan Tuhan (kehendak-Nya) dan Kerajaan Surga berbicara suatu wilayah kekuasaan Tuhan, dan penyataan secara fisiknya akan dinyatakan pada saat di Langit Baru Bumi Baru atau di Yerusalem Baru/Sorga.

Jika seseorang memiliki tujuan atau orientasi hidup yang benar seperti disebutkan di atas maka pasti semua gol hidupnya yang lain yang bersifat sementara, yang dibangun untuk menentukan arah hidupnya selama di dunia ini, pasti kualitasnya benar. Orang-orang seperti ini akan memerintah bersama Tuhan dalam kekekalan kelak.

Pertanyaannya adalah “bagaimana seharusnya sikap hidup kita dalam menjalani hidup ini, supaya kita tetap berorientasi pada Tuhan dan Kerajaan-Nya?

Kalau kita perhatikan , sesungguhnya Kotbah Tuhan Yesus di bukit, semua berisikan ajaran dan nasehat agar supaya semua pendengar pada saat itu memiliki orientasi hidup kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Sehingga mereka kembali kepada Tuhan, dan menghidupi nilai-nilai kebenaran. Karena Tuhan sedang merancang supaya mereka memiliki harta yang sesungguhnya.
Dengan kata lain, dari ayat dan pasal demi pasal ( Matius 5-7 ) mengarahkan orang untuk membangun manusia batiniah !

Untuk kita dapat memahami ajaran Tuhan Yesus tersebut ( Matius 5-7 ) dengan benar, maka kita harus memahami terlebih dahulu bahwa pada saat itu (zaman Tuhan Yesus), keadaan orang-orang Israel sangat menderita .... Karena setelah masa pembuangan bangsa Israel di Babilonia, enam abad/ 600 th sebelum Yesus lahir, Israel berada di bawah kekuasaan kerajaan Persia, Yunani, dan kekaisaran Romawi. Jadi secara internal, masyarakat Israel dikuasai oleh raja-raja dan pejabat boneka yang ditunjuk oleh penguasa Roma.

Bentuk penderitaan yang dialami oleh penduduk Israel pada saat itu adalah tertindas karena dijajah, harta benda mereka di ambil, di perlakukan tidak adil, terintimidasi, di kenakan pajak dan pungutan hingga 40% yang ditujukan untuk angkatan perang Roma, aristokrat dsb. Sehingga mereka merindukan "Mesias" menurut konsep mereka (pribadi yang bisa membebaskan mereka dari perbudakan tersebut, seperti Daud dll ), dan bukan Mesias rohani seperti Yesus (bahkan hingga saat ini mereka tidak percaya Yesus sebagai sang Mesias yang telah datang yang di janjikan Allah melalui para nabi).

Jadi dengan situasi dan kondisi tersebut, Yesus memberi ajaran dan nasehat-Nya melalui Kotbah-Nya di Bukit, supaya mereka kembali dan memautkan hidup mereka hanya kepada Tuhan dan bukan kepada manusia. Sesungguhnya sejak zaman dahulu Tuhan berusaha ingin mengembalikan umat Israel supaya mereka berbalik dari jalan-jalan mereka yang jahat.

Kita juga harus memahami bahwa Kotbah Tuhan Yesus di Bukit (Matius 5-7) merupakan “landasan hidup” atau Golden Role (Undang-undang Emas) bagi orang percaya yang hidup pada zaman Tuhan Yesus dan orang percaya yang hidup di zaman Perjanjian Baru (saat ini)

Para pakar Teolog yang lain juga berpendapat bahwa Kotbah Tuhan Yesus di bukit (Mat.5-7) merupakan Magna Carta Kerajaan artinya Perjanjian atau Komitmen yang menjadi undang-undang sebuah Kerajaan kepada rakyatnya.
ex : Magna Carta Kerajaan Inggris th. 1215 (sumber : Historipedia)

Landasan berarti :
~ Alas; bantalan; paron (alas untuk menempa, terbuat dari besi)
~ Lapangan terbang: tempat pesawat mendarat dengan selamat
~ Dasar atau tumpuan Jadi Landasan adalah dasar tempat berpijak atau tempat di mulainya suatu perbuatan. ex : menikah, berpuasa, dsb (landasannya harus kebenaran firman)

Dalam bahasa Inggris, landasan disebut dengan istilah foundation, yang dalam bahasa Indonesia disebut fondasi yang merupakan bagian terpenting untuk mengawali sesuatu (seperti mendirikan rumah).

Jadi Kotbah Tuhan Yesus di bukit (Matius 5-7) merupakan fondasi penting dalam membangun Kekristenan yang sejati. Kita mulai membahas Kotbah Tuhan Yesus di bukit dari Matius 5 secara benar, komprehensif dan proporsional supaya kita memahami Firman Tuhan dengan benar dengan makna yang sebenarnya.

Matius 5:3, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga (LAI)

Terjemahan AYT dan terjemahan alkitab versi lainnya umumnya memakai : “Diberkatilah orang yang miskin dalam roh sebab mereka yang mempunyai Kerajaan Surga”.
Makna kalimat ini khususnya pada kata dalam roh sulit di definisikan atau dipahami (yang bagaimana miskin dalam roh)

Tetapi dalam terjemahan BIS : "Berbahagialah orang yang merasa ‘tidak berdaya dan hanya bergantung pada Tuhan saja’ mereka adalah anggota umat Allah!
Terjemahan LAI pada ayat ini sangat menolong kita untuk memahami maknanya, jika kita hubungkan atau bandingkan dengan teks aslinya.

● Kata berbahagialah (yun) μακαριοι ; makarioi ; bentuk adjective - nominative plural masculine ; yang berasal dari akar kata “bahagia” (yun) makarios, mak-ar'-ee-os ; yang berarti blessed atau “sukacita.”

▪Kata “bahagia”, di sini mempunyai makna bernuansa rohani (kekristenan) yang menunjuk pada sukacita dari hati yang di miliki oleh seseorang dan nampak dari kehidupan orang tersebut, dan bukan ditentukan dari faktor luar atau lahiriah, melainkan karena adanya karya Tuhan yang di karuniakan kepada orang tersebut.
▪Kata bahagia dalam ke 8 ucapan bahagia (Matius 5:3-12) ini berbentuk kata seru. Dengan demikian ucapan bahagia ini bukan suatu pengharapan. Artinya, kebahagiaan yang dimaksud tidak hanya akan didapatkan nanti, di masa depan, ketika Tuhan datang untuk menyempurnakan Kerajaan-Nya, melainkan dialami di dunia ini juga. Dan, kebahagiaan ini menunjuk pada kebaikan Allah yang menjadi nyata dalam situasi dan aksi tertentu dari kehidupan manusia.
▪Kata makarioi yang diterjemahkan dengan berbahagialah, merupakan kata yang secara khusus berhubungan dengan dunia Ilahi. Jadi, kebahagiaan yang terkandung dalam perkataan ini adalah kebahagiaan Ilahi, yang tidak tergantung pada sesuatu yang ada di luar dan kebahagiaan yang tidak semu.

● Kata “Miskin di hadapan Allah.” Dalam bahasa Yunani ada tiga (3) kata untuk kata “miskin,” :
1. Kata πενιχρός ; Penichros :/ pen-ikh-ros' ; yang bermakna orang yang mengalami kekurangan harta secara umum Luk.21:2 Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.
2. Penes, yaitu miskin dalam arti tidak kaya, tidak mempunyai banyak harta, hidup sederhana. Orang miskin ini adalah orang yang bisa bekerja dan menghasilkan pendapatan, namun pemasukan dan pengeluarannya seimbang sehingga ia tidak memiliki sisa.
 3. Ptokhos, yaitu miskin dalam arti sangat miskin, tidak mempunyai apa-apa, apabila tidak ditolong ia akan mati kelaparan. Artinya orang yang sangat menggantungkan hidupnya pada belas kasihan orang lain. Kata ptokhos inilah yang dipakai oleh Tuhan dalam kalimat di atas: “miskin dalam roh atau di hadapan Allah.”

Kata pthokos umumnya berhubungan dengan kata ptossein yang berarti menundukkan badan, membungkuk (bermakna tak mampu, tak layak atau orang rendahan). Tradisi zaman dahulu, orang miskin tidak boleh melihat wajah pejabat secara langsung, dan batas orang miskin melihat seorang pejabat hanya sampai pada kancing baju paling tinggi ( konon sanksinya dibunuh).

Kita melihat kisah Yusuf yang tidak dikenal oleh saudara-saudaranya padahal mereka hanya 22 tahun berpisah mustahil tidak saling kenal.
Kej.42:8 : “Memang Yusuf mengenal saudara-saudaranya itu, tetapi dia tidak dikenal”.
Hal tersebut dikarenakan saudaranya tidak boleh melihat wajah Yusuf secara langsung. Sehingga saudara-saudaranya tidak mengenal Yusuf.

Makna kata miskin “dalam roh atau di hadapan Allah” adalah sebuah kesadaran bahwa seseorang tidak akan dapat hidup dengan kekuatannya sendiri, sehingga harus menggantungkan hidup sepenuhnya hanya kepada Allah.

Kalimat yang Tuhan Yesus pakai pada ayat ini miskin dalam roh/miskin di hadapan Allah bukan miskin saja (artinya tidak boleh dipahami hanya miskin secara fisik/materi/jasmani)
Jika kita salah memahami makna kata miskin pada ayat ini, maka kita juga akan salah memahami makna ajaran Yesus tentang "orang kaya sukar masuk kerajaan surga (Mat.19:16-26)

Maknanya sebenarnya adalah orang kaya yang sukar masuk surga adalah orang kaya yang tidak mengikuti jalan Tuhan atau yang menggantungkan hidupnya pada kekayaan/keberadaan/kehebatannya/merasa mampu hidup tanpa Tuhan, atau orang yang tidak menyadari ketidakberdayaannya di hadapan Tuhan.

Bukan hanya orang kaya, orang miskin juga rentan melakukan hal tersebut di atas. Masalahnya bukan jumlah kekayaan seseorang yang menjadi penentu surga atau neraka. Baik sekali jika seseorang kaya raya dan memiliki sikap hati yang tidak berdaya kepada Tuhan, bahkan memahami semua yang dimiliki berasal dari Tuhan dan untuk mendukung pekerjaan Tuhan.
Contohnya Abraham, Daud dll.

Kita belajar dari sebuah kisah cerita di Lukas 21:1-4 "Persembahan Seorang Janda Miskin"
▪ (ay 1) Ketika Yesus mengangkat muka-Nya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.
▪ (ay 2) Ia melihat juga seorang janda miskin (πgενιχρὰν) penichran ; ak: Penichros memasukkan dua peser ke dalam peti itu.
▪ (ay 3) Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin (πτωχὴ) ptōchē ; ak.ptokhos ini memberi lebih banyak dari pada semua orang. ▪ (ay 4) Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.” (Luk 21:1-4 LAI)

Pada ayat di atas terdapat 2 kata miskin yang memiliki perbedaan makna.
▪Kata miskin pada ayat 2 menggunakan kata ‘penichran’ dan ayat 3 menggunakan kata ‘ptokhe’
~ Pada ayat 2, janda itu orang miskin, memiliki uang, sekalipun sangat sedikit (bicara fisik).
Namun, setelah ia memasukkan uangnya dalam kotak persembahan, ia tidak memiliki uang sama sekali sehingga dikatakan ‘ptokhe’ yang berasal dari kata pthokos
Kata yang sama digunakan pada Matius 5:3 : kata ptokhos untuk kata miskin
Jadi gambaran seperti cerita janda di atas yang di harapkan Tuhan ketika berjumpa dengan seorang pemuda yang kaya (Mat.19:16-26)

Jadi penekanan pada cerita janda miskin ini ada pada ayat 3 yaitu sikap hatinya yang benar di hadapan Tuhan dengan penyerahan diri total mengikut Tuhan atau tidak berdaya tanpa Tuhan.
Bukan pada miskin harta jasmaninya, karena ada orang miskin secara jasmani tetapi sombong atau malah melakukan kejahatan untuk mengatasi kemiskinannya.
Dan kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan ialah kehidupan yang disertai dengan sikap yang tak berdaya di hadapan Allah.
Dengan kata lain, ucapan bahagia ini dapat berlaku pada siapa pun (baik kaya maupun miskin), selama orang itu menunjukkan penyerahan total hanya pada Allah.

Jadi makna miskin di hadapan Tuhan ialah MEMILIKI SIKAP HIDUP YANG TIDAK BERDAYA DI HADAPAN TUHAN. 
Di mana berarti ada unsur mematikan terus menerus kesombongan hidup (manusia daging/sinful nature).
Karena menyadari bahwa di luar Tuhan kita tidak bisa berbuat apa-apa dan memiliki sikap hidup membutuhkan atau bergantung hanya kepada Tuhan.
Hal inilah yang hendak Yesus ajarkan kepada umat Israel, supaya mereka memautkan hati mereka kepada Tuhan dan tidak tinggal pada kesusahan yang mereka sedang alami.

Dan konsekuensi orang yang demikian, alkitab katakan pasti mengalami kebahagiaan yang tidak semu atau sementara. Semua kebahagiaan di dunia ini bersifat sementara tetapi kebahagiaan yang kekal tidak akan berakhir sampai di Langit baru bumi baru.

 ● Kata “empunya” berbentuk present/sekarang, artinya pada waktu seseorang membangun sikap miskin di hadapan Tuhan, maka pada saat itulah ia memiliki Kerajaan Surga atau sedang memulai hidup dalam pemerintahan Tuhan Hal ini berbicara tentang aspek kekinian dari Kerajaan Surga.

Namun kita mengerti bahwa Kerajaan Surga mempunyai aspek yang akan datang atau future, yang berarti satu hari kelak kita pasti akan hidup dalam Kerajaan Surga yang penyataannya di Langit Baru dan Bumi yang Baru/Yerusalem baru.

Jadi konsekuensi yang akan dinikmati oleh mereka yang miskin di hadapan Allah adalah “merekalah yang empunya kerajaan surga.”

Kita sama-sama menyadari bahwa membangun hidup dengan tujuan hanya kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya tidaklah mudah, bahkan kita sering gagal dalam melakukannya..tetapi yang terpenting kita harus terus mau berjuang untuk bangkit kembali.

Oleh karena itu kita bersyukur untuk kesabaran Tuhan atas hidup kita.
Saat kita jatuh Dia senantiasa mengangkat dan menyembuhkan kita, seperti Alkitab juga katakan bahwa buluh yang terkulai takkan di patahkanNya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan di padamkanNya, justru Ia akan memulihkan hidup kita.

Tuhan Memberkati

Minggu, 22 Juli 2018

Perjalanan Kekal.

PERJALANAN KEKAL                                                             
Pdt. Erwan Musa

Sesungguhnya perjalanan hidup setiap orang di dunia ini adalah merupakan bagian dari membangun perjalanan kekalnya, seperti yang di katakan oleh Rasul Paulus :

" Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya " (2 Kor. 5:9)
Kata “berusaha” dalam teks φιλοτιμούμεθα ;     Philotimoumetha, artinya = ‘bersemangat dan bersungguh-sungguh untuk melakukan sesuatu’.

Pada ayat tersebut, Rasul Paulus membuat sebuah kesimpulan untuk menggugah dan menyemangatkan dirinya dan orang lain dalam menjalani kewajibannya selama di dunia ini dengan penuh tanggung jawab.

Harapan kepastian masuk Sorga akan mendorong orang untuk tidak hidup bermalas-malasan dan merasa aman-aman saja, namun sebaliknya harapan tersebut  pasti akan menggerakkan kita untuk penuh perhatian dan tekun dalam membangun keberkenanan kepada Tuhan.
Dengan kata lain ayat tersebut berkata : “Sebab itu juga, atau karena kami berharap untuk menetap pada Tuhan, kami (Philotimoumetha) berusaha dan berjerih lelah, kami berambisi, dan berusaha segiat mungkin seperti orang-orang yang paling berambisi untuk meraih apa yang kami inginkan, untuk berkenan di hadapan-Nya.

Rasul Paulus berjuang dengan gigih agar ia berkenan kepada Allah yang telah memilih dia, dalam keadaan hidup atau mati (entah diam di dalam tubuh atau diam di luarnya ). Dan  supaya Tuhan berkata baik sekali pekerjaanmu.
Inilah yang mereka idam-idamkan sebagai perkenanan terbesar dan kehormatan tertinggi.

Pemikiran akan penghakiman yang akan datang, 
ayat 10 : “ Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat ”
Pernyataan Paulus ini juga menjadi dasar ia berjuang dengan sungguh-sungguh supaya ia berkenan kepada Tuhan. Penghakiman adalah suatu hal yang pasti di mana setiap orang harus mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Tuhan, atas apa yang dilakukan di dalam tubuh ini, baik ataupun jahat.

Rasul Paulus meyakinkan orang supaya bertobat, dan menjalani hidup selama di dunia ini dalam kekudusan. Pada saat Kristus datang, kita bisa tampil di hadapan-Nya, dan Ia mengenal kesetiaan dan ketekunan kita  untuk memperjuangkan hal yang sesungguhnya yaitu membangun hidup serupa Kristus.

Oleh sebab itu kita tidak boleh berpikir bahwa perjalanan kekal, di mulai ketika seseorang telah mengalami kematian, justru sementara kita menjalani hidup di dunia ini merupakan langkah-langkah yang menentukan hidup kita dalam kekekalan kelak.

Jadi sementara kita menjalani hidup di muka bumi ini,  kita harus belajar kebenaran dan melakukan kebenaran tersebut dengan sungguh-sungguh, sebagai pelita dan terang bagi perjalanan kita menuju kepada kehidupan kekal.
Jika kita memiliki pandangan demikian, maka akan mengarahkan kita untuk membangun kehidupan yang benar dan berkenan kepada Bapa di Sorga.

Oleh karena itu, kita harus bersungguh-sungguh berjuang untuk membangun kehidupan kekal kita setiap waktu, karena tidak ada seorang pun yang tahu kapan saat dan waktunya tiba.

Tuhan memberkati

Selasa, 03 Juli 2018

KEHIDUPAN YANG IDEAL


KEHIDUPAN YANG IDEAL

Oleh : Pdt. Erwan Musa


Tuhan Yesus berkata dalam Injil Matius 5:48 :
Karena itu haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di Sorga adalah sempurna
Pertanyaannya adalah, bagaimana kesempurnaan Bapa di Sorga ?

Surat Kolose 1:15 berkata :
KRISTUS adalah GAMBAR ALLAH, kata Gambar (yun) eikon = hakekat, bentuk, rupa Allah.

Dan di ayat 19 pada Surat Kolose 1, berkata bahwa pada Kristus berkenan diam seluruh KEPENUHAN ALLAH,
kata KEPENUHAN (yun) pleroma = Kesempurnaan BAPA

Dari ke dua ayat diatas (Kol. 1:15 ; 19) dapat disimpulkan bahwa di dalam diri Tuhan Yesus terdapat Kesempurnaan Bapa di Sorga.
Dengan kata lain Yesus menjadi prototype atau model yang harus diikuti atau diteladani oleh setiap orang percaya, karena Ia adalah gambar atau kesempurnaan Allah.
Kitab injil mencatat seluruh teladan hidup dan ajaran Tuhan Yesus.

Sebagai ayat referensi, Tuhan Yesus juga berkata kepada murid-muridNya. Di dalam injil Yohanes 14:7-9 :
~ Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku, Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.
~ Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa

Jadi Sempurna seperti Bapa di Sorga adalah sama dengan menjadi serupa sepert Kristus, yang merupakan kehidupan ideal yang harus dikenakan oleh setiap orang percaya.

Kehidupan yang ideal adalah kehidupan yang dibangun dan diarahkan terus hingga serupa seperti Kristus, dengan kata lain keserupaan dengan Kristus harus menjadi pencapaian hidup bagi setiap orang percaya.

Jadi kesimpulannya ialah, hal yang sungguh-sungguh harus kita pahami sebagai orang percaya adalah kita dipanggil untuk mengenakan kualitas hidup seperti yang Tuhan Yesus kenakan, yaitu hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa di Sorga.

Yohanes 4:34, Yesus berkata : "MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya

Dengan demikian kita layak disebut sebagai orang Kristen atau pengikut Kristus yang sejati dan yang akan memerintah bersama Dia dalam KerajaanNya

Tuhan Memberkati