Selasa, 03 Januari 2023

HIDUP DENGAN IMAN

 

HIDUP DENGAN IMAN


πŸ“š Ibrani 11:6a
Tetapi tanpa iman ; πιστΡως : pisteΓ²s (percaya,taat,setia melakukan kehendakNya) tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.

πŸ“– Artinya orang yang hidup tidak menyangkal diri (memadankan hidup pada kebenaran atau kehendak Tuhan), tidak mungkin dapat melekat pada Tuhan, dan mustahil bisa menghasilkan buah yg sejati (Mat.3:8)

πŸ“– Ayat ini menggambarkan keyakinan yang merupakan bagian dari iman yang menyelamatkan.

1) Kita harus percaya adanya Allah yang berkepribadian, tidak terbatas, dan kudus yang memperdulikan kita.
2) Kita harus percaya bahwa Allah akan memberikan pahala apabila kita dengan sungguh-sungguh mencari Dia sambil mengetahui bahwa pahala yang terbesar adalah sukacita dan kehadiran Allah sendiri. Dia adalah perisai kita dan pahala kita yang amat besar (Kej 15:1; bd. Ul 4:29)
3) Kita harus dengan tekun mencari Allah dan sungguh-sungguh menginginkan kehadiran dan kasih karunia-Nya.

HIDUP BIJAKSANA -- Mazmur 90:12

 


HIDUP BIJAKSANA -- Mazmur 90:12


πŸ“š TB (1974) ©
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana

πŸ“š HEBREW
לִמְΧ ֣Χ•ֹΧͺ Χ™ָ֭מֵΧ™Χ Χ•ּ Χ›ֵּ֣ן Χ”Χ•ֹΧ“ַ֑Χ’ Χ•ְ֝Χ ָΧ‘ִ֗א לְΧ‘ַ֣Χ‘ Χ—ָΧ›ְמָֽΧ”׃
Ajarkan kami untuk menghitung mundur usia kami, agar kami tahu dan sampai mencapai kepada hati yang berhikmat.


πŸ“– Catatan :
▪︎ Mazmur 90:1-17 merupakan doa Nabi Musa, ditulis sementara 40 tahun ketika Allah membuat Israel mengembara di padang gurun sebagai hukuman atas ketidaksetiaan mereka (Ul 8:15).
▪︎ Setelah mengakui semua pelanggaran mereka dan hukuman Allah, Musa mendoakan pemulihan perkenan dan berkat Allah.

▪︎ Hari-hari kita di bumi, paling lama 70-80 tahun (bd. ayat Mazm 90:10), adalah jangka waktu yang pendek dibandingkan dengan kekekalan.
▪︎ Kita harus berdoa memohon pemahaman yang memadai tentang singkatnya hidup kita ini supaya mempersembahkan hati yang bijaksana kepada Allah dalam menjalani hari-hari yang diberikan-Nya kepada kita (bd. Mazm 39:5).
▪︎ Hidup ini harus menjadi persiapan untuk hidup di akhirat, dan kita harus memutuskan apa yang ingin dicapai Allah bagi diri kita, keluarga kita dan orang lain melalui kesetiaan pelayanan kita. ▪︎ Ketika waktu kita di dunia ini sudah habis dan kita sampai di sorga, bagaimana kita hidup atau tidak hidup dalam pengabdian kepada Allah akan dinilai.
▪︎ Mengingat hal itu, kita harus berdoa memohon hati yang bijaksana, ketakutan yang benar akan Allah (ayat Mazm 90:11), dan perkenan Allah atas hidup dan pekerjaan kita bagi Dia (ayat Mazm 90:13-17).

Rabu, 28 Desember 2022

ORANG YANG LEMAH DAN ORANG YANG KUAT - Roma 15:1-7 (Eksposisi)

 


ORANG YANG LEMAH DAN ORANG YANG KUAT - Roma 15:1-7 (Eksposisi)
Disusn oleh : Pdt. Erwan


πŸ“– Tulisan pada Surat Roma 15:1-7, kita akan bagi pembahasannya menjadi dua bagian:
▪ Bag. 1. Roma 15:1-3: JEMAAT YANG SALING MENGUATKAN DAN MENYENANGKAN
▪ Bag. 2. Roma 15:4-7: KESATUAN JEMAAT

● Bagian 1 :
▪ Setelah menjelaskan bahwa anak Tuhan harus menjadi berkat dengan mengejar sesuatu yang mendatangkan damai dan saling membangun atau menguatkan pada Roma 14 :19-23, maka Paulus melanjutkan pembahasannya pada aplikasi bagaimana jemaat bisa saling menguatkan.
▪ Jadi Surat Roma 15 :1-6 merupakan kelanjutan dari Roma 14:19-23, karena di ayat 1, Paulus menggunakan kata “Maka” dalam teks aslinya.
▪ Terj. Baru LAI menerjemahkannya, “Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri.”
▪ Terj. Baru LAI ini tidak menunjukkan adanya kaitan tersebut.
▪ Beberapa terjemahan Inggris ada yang menerjemahkan dengan menambahkan kata "then" (kemudian), sedangkan beberapa terjemahan Inggris lainnya tidak menerjemahkannya.
▪ English Majority Text Version (EMTV), King James Version (KJV), Modern King James Version (MKJV), James Murdock New Testament, 1833 Webster Bible menerjemahkannya dengan menambahkan kata then (kemudian).
▪ God’s Word menerjemahkannya dengan menambahkan kata So (Oleh karena itu/Jadi).
▪ Kata Yunani yang dipakai adalah "de" bisa diterjemahkan tetapi, dan, dll (but, and, etc).
▪ Kata ini menurut struktur bahasa Yunaninya adalah sebuah kata sambung (conjunction) yang menghubungkan kalimat sebelum dan sesudahnya secara setara (coordinating, bukan subordinating).
▪ Dengan kata lain, kita mendapatkan pengertian bahwa setelah kita dituntut oleh Paulus untuk menjadi berkat bagi sesama dengan mengejar sesuatu yang mendatangkan kedamaian dan saling membangun, kita dituntut untuk mengaplikasikannya di dalam persekutuan jemaat.
▪ Kita yang mengaplikasikannya ini disebut Paulus sebagai orang yang kuat.

πŸ“š Kata “kuat” (yun) dunatos yang berarti berkuasa atau mampu (powerful, capable).
▪ Paulus menyebut jemaat di Roma sebagai orang yang berkuasa atau mampu, maksudnya adalah berkuasa atau mampu dalam mengerti hal-hal rohani.
▪ Sesuai konteksnya, kita mengerti bahwa kata ini dipakai untuk mereka yang bebas makan makanan apa pun tanpa terikat.
▪ Nah, agar kita menjadi berkat bagi sesama dengan menguatkan mereka, maka Paulus mengatakan bahwa kita harus membatasi kebebasan kita demi sesama kita.
▪ Caranya adalah Paulus membagikannya menjadi dua, yaitu cara positif dan pasif negatif.

--> Cara itu adalah:
πŸ“˜ (1). Wajib menanggung kelemahan orang yang lemah.
πŸ“š Kata “menanggung” (yun) bastazō bisa berarti mengangkat (to lift), menanggung/membawa (to bear), membawa (to carry), dll.
▪ Di dalam Perjanjian Baru, kata ini muncul sebanyak 27x dan bisa diterjemahkan memikul, mengusung, memberitakan, menahan (penderitaan), bahkan mencuri.
▪ Dalam struktur bahasa Yunaninya, kata kerja ini berbentuk present (terus-menerus) dan aktif di lakukan.

πŸ“š Lalu, kata “kelemahan” (yun) asthenēma bisa berarti kelemahan (infirmity) atau keberatan hati nurani (a scruple of conscience).
▪ Kata ini hanya muncul satu kali di dalam Perjanjian Baru.
▪ Sesuai konteksnya, kelemahan di sini lebih tepat diterjemahkan seperti arti dari bahasa Yunaninya yaitu "keberatan hati nurani," karena konteksnya menunjukkan bahwa ada jemaat Roma khususnya yang masih berpegang pada adat-istiadat Yahudi, yang memiliki keberatan hati nuraninya jika memakan sesuatu yang tidak halal.
▪ Dengan kata lain, jemaat atau kita yang kuat rohaninya dituntut oleh Paulus untuk terus-menerus ikut menanggung keberatan hati nurani sesama jemaat yang lemah hati nuraninya.
▪ Ikutnya kita bersama-sama memikul keberatan hati nurani sesama jemaat yang lemah membuktikan bahwa kita memperhatikan mereka dan kita sudah menjadi berkat bagi mereka.

▪ Lalu bagaimana caranya ikut menanggung keberatan hati nurani jemaat yang lemah ini?
▪ Di dalam 1 Korintus 8:13, Paulus memberikan contoh konkritnya yaitu ia tidak akan makan daging selama-lamanya jika makanan tersebut menjadi batu sandungan bagi sesama jemaat.
▪ Sebagai contohnya, ketika kita tahu bahwa ada jemaat yang kurang mengerti atau lemah imannya, bukankah kita yang lebih kuat imannya dipanggil menguatkan mereka, bukan sok jagoan mengajar mereka dengan istilah-istilah theologi yang rumit.
▪ Ini menjadi refleksi bagi kita yang sudah belajar theologi.
▪ Theologi yang kita pelajari sering membuat kita menjadi sombong di dalam mengajar dan berkhotbah, sehingga pendengar yang belum tentu semuanya berpendidikan tinggi diharuskan mengerti apa yang kita beritakan/ajarkan.
▪Tugas Kekristenan dan theologi yang sehat adalah menjadikan theologi itu “mendarat” di bumi dengan istilah-istilah yang mudah dimengerti namun jelas, berisi, dan bertanggungjawab.

πŸ“˜ (2). Tidak mencari kesenangan diri sendiri.
▪ Dalam terjemahan Yunaninya adalah jangan menyenangkan (KJV: please = menyenangkan) diri kita sendiri.
▪ Dalam struktur bahasa Yunani, kata kerja ini sama seperti kata kerja menanggung di poin pertama tadi, yaitu menggunakan keterangan waktu present (terus-menerus) dan aktif.
▪ Dengan kata lain, selain kita menanggung keberatan hati nurani sesama jemaat yang lemah, kita diperintahkan Paulus untuk secara negatif namun aktif untuk tidak terus-menerus menyenangkan diri kita sendiri.
▪ Karena bagi Paulus, orang yang terus-menerus menyenangkan dirinya sendiri adalah orang yang egois dan tidak memiliki kasih.
▪ Karena orang yang egois tidak akan bisa menjadi berkat bagi sesama jemaat dan itu pun dibenci oleh Allah (bdk. ay. 3).

▪ Setelah kita diajar untuk menanggung keberatan hati nurani orang lain dan tidak terus-menerus menyenangkan diri kita sendiri, lalu apa yang kita kerjakan selanjutnya?
▪ Di ayat 2, Paulus mengajarkan,
πŸ“– “Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya.”
▪ Di ayat ini, kita diharuskan Paulus untuk menyenangkan sesama kita demi kebaikannya untuk membangun.
▪ Paulus sangat teliti memakai kalimat di ayat ini.
▪ Ia tidak mengajar bahwa kita harus mencari kesenangan sesama kita, lalu berhenti.
▪ Tetapi ia menyambung dengan mengatakan, “demi kebaikannya untuk membangunnya.”
▪ Tambahan perkataan ini sangat signifikan untuk kita pelajari.
▪ Kita menyenangkan sesama kita bukan untuk kepuasan sesama kita, tetapi demi kebaikannya. ▪ Apa bedanya demi kepuasannya dan demi kebaikannya?
▪ Sebagai contohnya, jika kita menyenangkan sesama kita demi kepuasannya, itu dilatarbelakangi oleh kekesalan kita karena orang lain itu sangat cerewet, maka kita menyenangkannya supaya dia merasa puas dan tidak cerewet.
▪ Tetapi jika kita menyenangkan sesama kita demi kebaikannya, berarti kita memperhatikan dan mengasihi jemaat tersebut.
--> Ini dua motivasi dan tujuan yang berbeda.
▪ Bagaimana dengan kita.... Ketika kita mencoba menyenangkan sesama kita, apa motivasi kita?
▪ Supaya dia puas dan tidak mengomel lagi ataukah kita benar-benar memperhatikan dan mengasihi mereka?

▪ Cukupkah menyenangkan sesama kita hanya demi kebaikannya saja?
▪ TIDAK. Paulus mengatakan bahwa kita harus menyenangkan sesama kita untuk membangunnya.
πŸ“š KJV menerjemahkan “membangun” sebagai edification (pendidikan moral atau pengajaran yang baik).
πŸ“š Terjemahan dari bahasa Yunaninya adalah yang baik untuk pembinaan.
▪ Dengan demikian, kita mengerti bahwa kita menyenangkan sesama kita tidak berarti kompromi, tetapi bertujuan untuk membina jemaat yang keberatan hati nurani itu supaya mereka bertobat dan kembali kepada pengajaran yang beres.
▪ Ujung-ujungnya, standarnya tetap adalah Kebenaran, bukan kompromi-isme seperti yang diilahkan oleh banyak orang postmodern.
▪ Bagaimana dengan kita....Apakah ketika kita menyenangkan sesama, kita mengkompromikan iman dan kebenaran
▪ Ataukah ketika menyenangkan sesama kita, kita tetap bertujuan menuntun mereka kembali kepada kebenaran...?

▪ Mengapa kita harus menyenangkan sesama kita?
▪ Paulus memberikan dasar pijaknya yaitu teladan dari Kristus sendiri di ayat 3,
πŸ“– “Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: "Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku."
πŸ“š Kata “mencari kesenangan” seperti di dua ayat di atas seharusnya diterjemahkan “menyenangkan.”
▪ Berarti, Kristus sendiri tidak menyenangkan diri-Nya sendiri.
▪ Kalau Kristus mau menyenangkan diri sendiri, itu tidak sulit bagi-Nya, karena Ia adalah Anak Allah, Ia bebas melakukan apa pun.
▪ Tetapi puji Tuhan, di dalam kebebasan-Nya, Ia “membatasi” kebebasan-Nya dengan rela menanggung semua hinaan manusia berdosa yang ditujukan kepada Bapa.
▪ Ia lebih memikirkan bagaimana menggenapi kehendak Bapa ketimbang memikirkan kesenangan diri.
▪ Yesus mau menanggung celaan manusia yang ditujukan kepada Bapa karena Ia mengasihi manusia berdosa.
▪ Seperti Kristus yang telah menjadi teladan bagi umat Tuhan dengan menanggung celaan yang dilontarkan manusia kepada Bapa dengan tujuan agar umat pilihan-Nya yang termasuk di dalamnya itu diperdamaikan dengan Bapa-Nya, bertobat, dan menerima-Nya, maka kita pun sebagai anak-Nya harus menanggung kelemahan/keberatan hati nurani jemaat lain dengan tujuan agar jemaat yang lemah imannya itu boleh dikuatkan dan diajar melalui perhatian dan kasih kita yang mengajar mereka.

✴ Kesimpulan renungan pada bagian 1 atau dari 3 ayat ini membuat kita untuk terus-menerus menjadi saluran berkat bagi sesama kita dengan saling menguatkan dan menyenangkan sesama kita dengan standar kebenaran.

● Bagian 2 :
▪ Setelah menjelaskan bahwa sesama jemaat harus saling menguatkan, maka Paulus menjabarkan ide dasarnya yaitu kerukunan antar jemaat.
▪ Jemaat yang saling menguatkan harus dilatarbelakangi dengan kerukunan antar jemaat.
▪ Jemaat yang tidak rukun satu sama lain tidak mungkin menghasilkan sikap saling menguatkan, karena jemaat tersebut tidak saling mengenal satu sama lainnya.
▪ Di zaman postmodern, ide kerukunan juga ditekankan, tetapi apakah ide kerukunan ala Alkitab sama dengan ide kerukunan ala postmodern?
▪ Jelas mutlak berbeda.

πŸ“– Dalam keempat ayat yang akan kita bahas ini, kita akan mendapatkan gambaran menyeluruh tentang kerukunan antar sesama jemaat yang Alkitab ajarkan.

▪ Kerukunan antar jemaat dimulai dengan anggapan bahwa kita bersama berpegang pada pengharapan yang sama di dalam Kristus.
▪ Hal ini diajarkan Paulus di ayat 4,
πŸ“– “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.”

πŸ“š Pernyataan “segala sesuatu yang ditulis dahulu” di dalam New International Version (NIV) Spirit of the Reformation Study Bible ditafsirkan sebagai kitab Perjanjian Lama yang dituliskan di bawah providensia/pemeliharaan Allah bermanfaat bagi orang Kristen sebagai dasar pendirian Perjanjian Baru.
πŸ“š Kemudian, NIV Spirit of the Reformation Study Bible memberikan ayat referensi Roma 4:23, 24 sebagai dasar mengerti Roma 15:4 ini.
πŸ“š Roma 4:23, 24, “Kata-kata ini, yaitu "hal ini diperhitungkan kepadanya," tidak ditulis untuk Abraham saja, tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kitapun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati,”

▪ Secara konteks, Roma 4 berbicara mengenai iman Abraham.
▪ Karena Abraham dibenarkan karena imannya, maka itu juga berlaku bagi kita sebagai umat pilihan yang percaya kepada Allah yang telah membenarkan kita melalui penebusan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus.
▪ Hal inilah yang dimaksudkan Paulus di ayat 4 bahwa apa yang telah dituliskan dahulu (PL) bermanfaat untuk mengajar kita sekaligus mengarahkan kita kepada penggenapannya di dalam Perjanjian Baru.
▪ Tidak hanya berhenti di sini saja, Paulus juga mengajar bahwa dari situ, kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.
πŸ“š Teks Yunani dan NIV menerjemahkan bahwa melalui ketekunan/ketabahan dan penghiburan (NIV: encouragement/dorongan), kita mempunyai pengharapan.
▪ Dengan kata lain, ketekunan dan penghiburan/dorongan dari PL membawa kita terus menuju kepada pengharapan yang kita miliki.
▪ Pengharapan inilah yang membawa kita kepada Kristus sebagai satu-satunya sumber pengharapan yang sejati.
▪ Satu pengharapan di dalam Kristus mengakibatkan sesama umat Tuhan memiliki kerukunan sejati.

▪ Ketekunan dan penghiburan bukan hanya dari Kitab Suci, Paulus menjelaskan di ayat 5,
πŸ“– “Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,”
πŸ“š Di ayat ini, Paulus tidak hanya mengajar bahwa Kitab Suci memberi ketekunan dan penghiburan kepada kita, tetapi Allah sendirilah yang sebenarnya memberi kita ketekunan dan penghiburan (NIV menerjemahkan, “May the God who gives endurance and encouragement...”)
πŸ“š King James Version (KJV) menerjemahkannya dengan mengaitkan Allah sebagai Ketekunan dan Penghiburan (“Now the God of patience and consolation”) Terjemahan teks Yunani sama dengan terjemahan KJV di atas.
▪ Meskipun terdapat sedikit perbedaan pernyataan di ayat 5a, maksud utama Paulus tentu tidak berbeda, yaitu hanya Allah saja yang mampu memberikan ketekunan/ketabahan dan penghiburan/dorongan kepada umat-Nya.
▪ Di kala umat-Nya mengalami masalah, Allah adalah Allah yang setia yang tekun dan mendorong (memberi kekuatan kepada) umat-Nya, sehingga mereka mengalami kemenangan demi kemenangan di dalam Kristus.
▪ Ketika Allah memberi kemenangan kepada kita di dalam setiap masalah, itu bukan karena kehebatan kita, tetapi karena anugerah Allah.
▪ Meskipun Allah tidak memberikan kemenangan kepada kita salah satunya berupa jalan keluar, Ia pasti memberikan kemenangan kepada kita melalui cara lain yang tidak pernah kita pikirkan.

▪ Paulus menambahkan penjelasannya yaitu bahwa Allah yang adalah Ketekunan dan Penghiburan itulah yang juga mengaruniakan kerukunan kepada kita, sesuai kehendak Kristus Yesus.
πŸ“š NIV menerjemahkan, “...give you a spirit of unity among yourselves as you follow Christ Jesus.” (=...memberikan kepada kita roh kesatuan di antara kamu karena/sambil kamu mengikut Kristus Yesus.) KJV menerjemahkan, “...grant you to be likeminded one toward another according to Christ Jesus:”
▪ (=...memberikan kepada kita pikiran yang sama satu sama lain menurut Kristus Yesus:)
πŸ“š Teks Yunani menerjemahkannya, “...semoga memberikan kepadamu yang sama untuk mempunyai pikiran (satu dengan yang lain) menurut Kristus Yesus,”
▪ Dengan kata lain, Allah yang adalah Ketekunan dan Penghiburan bukan menjadi jaminan bagi keegoisan orang Kristen di dalam memecahkan masalahnya sendiri, tetapi sebagai jaminan agar sesama umat Tuhan hidup rukun.
πŸ“š Hidup rukun dalam terjemahan LAI ini diterjemahkan sebagai hidup bersatu/roh persatuan (NIV), sehati sepikir (KJV), pikiran yang sama (terjemahan dari teks Yunani).
▪ Dengan kata lain, kerukunan antar jemaat ditandai dengan semangat persatuan di dalam tubuh Kristus yang ditandai dengan sehati sepikir dan semuanya itu harus menurut Kristus Yesus.
▪ Jadi, ada dasar dari persatuan yaitu ketekunan dan pengharapan/dorongan dari Allah ditambah tujuan dan fokus dari persatuan yaitu Tuhan Yesus Kristus.
▪ Persatuan yang tidak memenuhi kedua unsur ini bukanlah persatuan yang Alkitab inginkan.

▪ Lalu, apa wujud dari persatuan di dalam Kristus ?
▪ Paulus menjabarkan di dalam dua ayat, yaitu ayat 6 dan aplikasi praktisnya di ayat 7.
πŸ“– Di ayat 6, Paulus mengajarkan, “sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.”
▪ Dengan lebih tajam, Paulus mengajar bahwa inti persatuan bukan kompromiisme tetapi kemuliaan Allah.
▪ Di poin ini, ia membedakan persatuan dari perspektif Alkitab dengan perspektif dunia.
▪ Alkitab mengajarkan bahwa persatuan dibangun dan sangat memperhatikan unsur kebenaran hakiki (Truth) di dalam dan di atasnya, yaitu Allah dan kemuliaan-Nya.
▪ Allah dimuliakan ketika umat pilihan-Nya bersatu bersama-sama di dalam iman yang beres di dalam dan kepada Kristus menggenapkan tugas panggilan-Nya, yaitu memperluas dan memberitakan Kerajaan-Nya di muka bumi ini.
▪ Umat pilihan-Nya berasal dari semua denominasi gereja, yang terpenting adalah sungguh-sungguh beriman kepada Kristus.
▪ Sedangkan dunia mengajarkan persatuan dengan menitikberatkan pada dosa dan kehendak manusia, seperti persatuan yang dibangun manusia berdosa ketika membangun Menara Babel (Kej. 11:6) dan persatuan ini disebut sebagai persatuan yang melawan Kristus.

▪ Persatuan ditandai dengan kesehatian umat Tuhan.
▪ Hal ini ditandai dengan penggunaan pernyataan, “dengan satu hati dan satu suara...” di ayat 6 ini.
▪ Ketika umat Tuhan sehati sepikir bersatu memuliakan Allah, di saat itulah terjadi persatuan sejati.

▪ Lalu, bagaimana aplikasi praktis ayat 6?
πŸ“– Di ayat 7, ia menjelaskan, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”
▪ Wujud dari kita sehati sepikir memuliakan Allah adalah dengan kita menerima satu sama lain demi kemuliaan-Nya.
▪ Kita menerima satu sama lain itu seperti Kristus telah menerima kita.
▪ Berarti, sebagaimana Kristus telah menerima kita saat kita masih berdosa, maka kita pun harus berlaku hal yang sama, menerima umat Tuhan yang lain untuk bersama-sama bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah dan memuliakan-Nya.
▪ Paulus selalu menekankan fokus dari tindakan ini adalah kemuliaan Allah.
▪ Allah dimuliakan ketika kita memiliki satu hati, visi, pikiran, misi, tujuan, dan gerak dengan umat Tuhan lain.

✴ Kesimpulan bagian 2.
▪ Setelah kita merenungkan empat ayat di atas, maka yang harus menjadi respon kita adalah kita tdk lagi hidup egois yang hanya mementingkan diri kita sendiri.
▪ Biarlah Roh Kudus membakar hati kita agar kita memiliki semangat yang berkobar-kobar memuliakan Kristus bersama-sama dengan seluruh umat Tuhan.

KENAIKAN TUHAN YESUS KESORGA MENINGGALKAN AMANAT HIDUP DLM KEMURIDAN DAN MENGERJAKAN MISI AGUNG

 


KENAIKAN TUHAN YESUS KESORGA MENINGGALKAN AMANAT HIDUP DLM KEMURIDAN DAN MENGERJAKAN MISI AGUNG

Kisah 1:6-11; Mrkus16:15-20


● PENDAHULUAN
▪ Kenaikan Tuhan Yesus adalah penggenapan dari semua yang ada tertulis tentang Tuhan Yesus dalam kitab Taurat, kitab para nabi dan kitab Mazmur.
▪ Tidak semua orang dapat mengerti tentang semua hal tsb, hanya mereka yang dibukakan oleh Tuhan saja yang dapat mengerti berita PL, yang ternyata memberitakan Tuhan Yesus Kristus dan menggenapkan semua berita itu di dalam perjalanan pelayanan dan hidup-Nya. Luk 24:45; Maz 119:130.
▪ Oleh karena itu kita harus sungguh-sungguh meminta dan mempersilahkan Tuhan membuka pikiran dan mengajar kita tentang arti kenaikan-Nya (Mat 18:20; Kol1:27; 2:9-10), sehingga kita dapat memahami maksud dan kehendak-Nya dengan benar.

● TUHAN MENGUTUS DAN MEMBERKATI
▪ Setelah Tuhan Yesus membuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti rahasia injil Allah, selanjutnya Tuhan Yesus menyatakan misi Bapa-Nya di dalam diri-Nya. 
▪ Bapa yang tertanam di dalam diri Tuhan Yesus
▪ Berita mengenai pertobatan dan pengampunan dosa kepada segala bangsa, Luk 24:47; Yes 61.
▪ Pengutusan itu telah digenapkan di dalam diri Tuhan Yesus dan para murid-Nya pada waktu itu, yang oleh Tuhan sudah dibuka pikiran mereka sehingga mereka mengerti dan menyadari mandat pengutusan yang disabdakan Tuhan kepada mereka. 
▪ Demikian pula dengan kita saat ini, jika pikiran kita sudah dibuka oleh Tuhan maka kita akan menyadari bahwa pengutusan itu juga akan digenapkan kepada kita, dan jika kita sungguh-sungguh hidup di dalam Kristus (Yoh 17:18). 
▪ Lalu kepada para murid yang MENGALAMI keilahian Yesus dan disingkapkan rahasia injil-Nya, kepada mereka yang mau MENERIMA mandat ilahi itulah Tuhan Yesus Kristus kemudian MENGANGKAT TANGAN-NYA dan memberkati mereka, sementara Ia naik ketempat yang maha tinggi, duduk disinggasana raja, di sebelahkanan tahta Allah Bapa disurga.

πŸ“– Itulah sesungguhnya makna yang terkandung dalam kenaikan Tuhan Yesus Kristus, bahwa segala sesuatu peristiwa yang terjadi di dalam diri-Nya adalah misi Bapa-Nya atas dunia yang dikasihi-Nya.

● AMANAT HIDUP KEMURIDAN
▪ Kemuridan adalah kata sifat, yang turun dari kata benda murid. 
▪ Jadi jika kita membahas mengenai kata kemuridan berarti kita membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan sifat seorang murid. 
▪ Dalam konteks penghayatan kita dengan peristiwa kenaikan Tuhan Yesus, kita dapat menarik beberapa aspek yang berkaitan dengan hidup kemuridan para murid pada saat itu.

▪Aspek kemuridan yang pertama adalah percaya dan sabar dalam penantian.
▪ Seorang murid dituntut untuk percaya dan bersabar menantikan penggenpan janji gurunya. 
▪ Kepercayaan dan kesabaran para murid diuji bukan dalam kondisi yang netral, aman dan sentosa. 
▪ Kepercayaan dan kesabaran mereka diuji dalam situasi yang menekan dan mengancam hidup mereka, karena usai Tuhan Yesus disalibkan dan bangkit, penguasa bait Allah dan penguasa teritorial Yerusalem mengadakan penyisiran, menangkap dan menganiaya para pengikut Tuhan Yesus, sehingga menjadikan para murid sangat ketakutan, Yoh 20:19.
▪ Percaya dan bersabar dalam menantikan penggenapan firman Tuhan bukanlah perkara yang mudah, sering kali dalam penantian kita diperhadapkan dengan cobaan-cobaan yang menggoda, yang memunculkan banyak pertanyaan keraguan di dalam benak kita. 
▪ Demikianpun yang dialami dengan para murid Tuhan saat itu, mereka diminta untuk menunggu kegerakan Roh Kudus di Yerusalem, seandainya mereka diminta menunggu di Galilea pasti mereka lebih senang, karena di sana mereka tidak diperhadapkan dengan tekanan dan ancaman. Ibr 6:11-12.
▪ Yang jelas pada saat Tuhan Yesus hendak diangkat naik ke surga, Ia menyediakan dan mempersiapkan pribadi guru agung yang oleh-Nya semua murid Tuhan akan diajar,dibimbing dan disertai menggenapkan semua rencana Bapa atas dunia ini yaitu Roh Kudus

▪Jadi pesan hidup kemuridan yang kedua dalam peristiwa kenaikan Tuhan adalah ketergantungan murid dengan guru-nya
▪ Inilah indahnya keagunganTuhan dalam misi yang ditanamkan di dalam kehidupan kita sebagai murid. 
▪ Tuhan tidak meninggalkan kita sebagai yatim piatu, Ia memberikan kepada kita para murid-Nya PARAKLETOS, sang guru agung, sang penghibur dan penolong, sosokpribadi yang menjadi tempat kita untuk bergantung sepenuhnya. Yoh 14:18; 26.
▪ Kita sudah diajar dan mendengar tentang Roh Kudus yang dicurahkan, oleh krn itu kita harus sungguh-sungguh menerima dan berjalan dalam pimpinanNya, krn mengetahui tidaklah sama dengan mengalami. 
▪ Kita tentu sudah mengetahui banyak tentang Roh Kudus, tetapi apakah kita hidup oleh-Nya ?

πŸ“– Kita tidak bisa menjadi murid yang efektif jika kita tidak menerima Roh Kudus, jika bisa siapa yang menjadi guru, pembimbing, penolong kita.
Kemuridan yang Tuhan rancang adalah kemuridan yang hidup dan bergantung sepenuhnya kepada Roh Kudus (1 Kor 2:3-5; 2 Kor 3:5-6).

▪Pesan hidup kemuridan yang ke tiga dalam peristiwa kenaikan Tuhan Yesus Kristus adalah beyond the limits, unlimited, and high value
▪ Roh Kudus adalah pribadi Allah yang tidak terbatas, yang memancarkan cahaya kemanusiaan Kristus yang terbatas. 
▪ Demikianlah ketika Tuhan Yesus yang memang dalam kondisi tertentu itu membatasi diri-Nya dari sifat kelilahian-Nya naik kesurga, kedudukan-Nya digantikan oleh Allah Roh Kudus yang tidak terbatas itu. 
▪ Dan jika Allah RohKudus yang tidak terbatas itu tinggal di dalam diri kita, maka diri kitapun akan dibawa kepada manifestasi-manifestasi ilahi yang tidak terbatas artinya yang bersifat supranatural (1 Kor 2:7; 12-13).

πŸ“š Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus,
carilah perkara yang diatas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
Pikirkanlah perkara yang diatas, bukan yang di bumi. Kol 3:1-2

MEMBANGUN TATANAN KEHIDUPAN JEMAAT YANG RUKUN DAN ADIL” Roma 15:1-6

 


MEMBANGUN TATANAN KEHIDUPAN JEMAAT YANG RUKUN DAN ADIL”
Roma 15:1-6



● LATAR BELAKANG
▪ Ayat ini merupakan doa dan harapan penulis (Rasul Paulus) kepada para pembaca yakni orang percaya di Roma, termasuk untuk kita saat ini.
▪ Penulis berharap kepada Tuhan, supaya Tuhan memberi ketabahan, penghiburan bagi mereka dan juga menolong mereka agar menjadi sehati.
▪ Adapun tujuannya adalah supaya jemaat bisa memuji dan memuliakan Tuhan bersama-sama.
▪ Paulus memohon kepada Tuhan krn Ia Maha Baik dan Pengasih.

▪ Pernyataan Rasul Paulus dalam Roma 15:1-6 menekankan tentang pentingnya membangun kehidupan yang memiliki persekutuan kasih Kristus dari orang-orang yang dipanggil keluar menuju terang yang ajaib dalam komunitas orang percaya atau bergereja.
▪ Hidup bergereja sesungguhnya memiliki arti hidup berkomunitas, hidup bersosial, hidup memancarkan kasih dan bukan hidup yang berfokus pd diri sendiri.
▪disampaikan jg kpd jemaat Korintus untuk saling membangun dan menguatkan antar-sesama anggota. 
▪ Tanpa adanya kerja sama dan satu visi dalam menjalankan perintah Tuhan maka akan banyak perpecahan yang selama ini terjadi di intern umat Kristen.

πŸ“– Rasul Paulus menyatakan : 
Ayat 5 -- Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus,
Ayst 6 -- sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus (Roma 15: 5-6).

● Tinjauan Teologi Roma 15:5-6
▪ Perkataan Rasul Paulus “Semoga Allah, sumber pengharapan”
▪ Ini adalah suatu pujian, penutupan bagi tulisan yang berawal dengan (Roma 14:1). 
▪ Namun dalam ayat ini Paulus memberikan gelar kepada Allah yaitu Sumber ketekunan dan penghiburan.
▪ Sebab dari pada-Nyalah ketekunan dan penghiburan dibangun, dan Tuhan memampukan dan memberikan anugerah ketekunan dan Ia juga meneguhkan dan menjaga anugerah itu sebagai Allah sumber penghiburan.

▪  Ini adalah satu lagi gelar yang indah dari Tuhan-Allah sumber pengharapan (Roma 15:13) “memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera” ini adalah sebuah Aorist active optative menyatakan doa Paulus bagi orang percaya di Roma.
▪  Selaras dg yang disampaikan dalam tafsiran Wycliffe bahwa: Paulus berdoa agar Allah mendatangkan ketekunan dan penghiburan dan dapat menolong orang percaya untuk hidup selaras dengan Kristus Yesus sabagai teladan dan patokan.
▪Tentang ketekunan dan penghiburan yang diberikan Allah maka, jemaat Roma diperingatkan unt semakin mengarah hati untuk saling mengasihi, shgg tidak akan nada yang mengacaukan kedamaian

πŸ“š Dalam kajian ini Allah yang adalah sumber ketekunan, memberikan ketekunan (yun) hupomone , upomonhv yang artinya kesabaran, ketabahan;ketahanan; ketekunan; penantian
▪ Dalam TB ditulis sebanyak 32 kali.
▪ Ini diharapkan bahwa kekristenan wajib untuk menuju pada cara mengasihi sesama.

πŸ“š  Sedangkan kata Kerukunan (yun)  phroneo dengan arti berfikir, memikirkan atau berfikir secara, membiarkan cara berfikir kita dikendalikan oleh hidup sejiwa satu dengan yang lain, memperhatikan (Filipi 4.10) dan mementingkan (Roma 14.6).
▪ Kata phronein ( kata kerja) juga diartikan memikirkan hal yang sama yaitu segala peluang yang menimbulkan perdebatan atau perbedaan disingkirkan dan segala pertikaian dikesampingkan.
▪dalam doa dimohonkan kepada Allah agar mengarunikan kerukunan kepada jemaat di Kota Roma yang sesuai dengan kehendak Kristus Yesus.
▪ Sebab benturan-benturan memunculkan ketidakharmonisan, kekurang-kompakan, kekurangrukunan sehingga mereka saling mencela serta mempersalahkan.
▪ Keadaan yang demikianlah yang mendorong Rasul Paulus menyampaikan surat ini dengan tujuan supaya di dalam jemaat Roma tercipta suatu kerukunan yang abadi.

▪ Kerukunan yang diminta harus sesuai dengan ajaran Yesus, hukum kasih, sesuai teladan dan contoh dari Kristus.
▪ Kerukunan yang diajarkan Yesus mengesampingkan kebencian, musuh, bahkan orang-orang yang ingin menjatuhkan kita, sebab dasar kerukunan Yesus adalah Kasih.
▪ Oleh karena itu kerukunan adalah bagian dari kesaksian dalam diri orang percaya sebab pada dasarnya kepercayaan kepada Tuhan yang melibatkan sesama sebagai bagian dari rencana Allah bahwa orang percaya adalah suratan yang terbuka yang dapat dibaca oleh semua orang (2 Kor. 3:2).
▪ Dasar kerukunan adalah rasa berbelas kasihan terhadap sesama, seperti yang diajarkan oleh Yesus, harus mengasihi manusia seperti mengasihi diri sendiri (Mrk. 12: 33).
▪ Maka sikap belas kasihan dalam ketulusan dan kerelaan adalah tiang kokohnya, sehingga terciptanya kehidupan berbagi yang semakin menyentuh kedalaman kehidupan spritualitas yang memulihkan, serta membawa dampak menghidupkan dan menyelematkan.
▪ Ini adalah ciri khas identitas Kristen.

▪ Dan terlebih dalam (Mzm. 133: 1-3) kerukunan mendatangkan berkat Tuhan dan membawa kehidupan untuk selamanya.
▪ Tuhan memberikan perintah yang sangat luar biasa tentang kasih kepada Tuhan dan sesama dengan saling mengasihi, yang merupakan wujud dari keinginan Tuhan bahwa orang percaya adalah terang dan garam dan menjadi bagian dari pembawa perubahan (Mat. 5:13-16).
▪ Kasih yang tanpa syarat atau kasih yang tanpa pamrih dapat diterapkan oleh orang percaya sebagai wujud mengasihi Tuhan dan ketaatan orang percaya dalam melakukan kebenaran kepada sesama anggota gereja dalam kerukunan intern umat beragama sehingga kasih Allah dapat dilihat dan dirasakan oleh orang yang belum mengenal Tuhan Yesus, yaitu sumber ketekunan serta pengharapan yang berasal dari Tuhan yang sejatinya tidak bisa dipungkiri.

▪ Dalam naskah Yunani lebih tegas untuk menyatakan makna dari kerukunan.
πŸ“š Kata “kerukunan” dalam bahasa Yunani, juga mengandung arti unsur kesatuan yang tidak bisa patah atau lepas seperti kesatuan dalam unsur ‘sehati-sejiwa’, dan mempunyai tujuan, kehendak dan beriringan bersama-sama dan juga memiliki arah/ fokus yg jelas.

▪ Demi kebersamaan dan kesatuan ini, dituliskan Paulus dalam hubungan antar anggota jemaat di kota Roma yang penuh dengan perbedaan dogma atau doktrin, aturan dan perbedaan-perbedaan yang tidak mendasar.
▪ Sebab kerukunan adalah kesehatian atau sehati-sepikir memiliki proses untuk kebersamaan walau dalam perbedaan, hal itu bukanlah bermaksud untuk menghilangkan perbedaan pendapat, perbedaan pandangan dalam lingkungan orang percaya di kota Roma.
▪ Namun yang mau ditegaskan oleh rasul Paulus bukan agar perbedaan dihapuskan, melainkan agar perbedaan itu diatasi dan diberi solusi sehingga tidak ada kegaduhan dalam jemaat yang dapat membawa berita buruk bagi orang luar.
▪ Sebab tujuan dari kerukunan adalah Allah dipermuliakan.

▪ Roma 15: 6 adalah tujuan dari apa yang dinyatakan Paulus untuk hidup dalam kerukunan.
▪ Sebab pernyataan Paulus dalam ayat 6 sangat gamblang dan jelas dapat dipahamai oleh orang percaya dan dapat diaplikatifkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dengan satu hati dan satu suara kita dapat memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita,Yesus Kristus.
▪ Jika ditelaah dalam Bahasa Yunani seperti diatas satu suara atau satu mulut.
▪ Sehingga dapat di interprestasikan bahwa orang percaya harus membawa seluruh perkataannya untuk tidak cepat berkata-kata.
▪ Sebab perkataan dapat memunculkan pertikaian dan pertengkaran yang akan membawa mereka kepada tercerainya persatuan dan yang pasti hancurnya pelayanan. 
▪ karena perkataan yang dipakai untuk hal-hal yang tidak berkenan dapat melukai, dan hal itu tidak sesuai dengan ajaran Yesus dan perkataan Paulus untuk tidak saling melukai.
▪ Maka itu seharusnya orang percaya maupun para pemimpin gereja harus memiliki pengendalian diri menggunakan perkataannya, sebab itu adalah bukti orang percaya yang menghidupi kerukunan.
▪ Satu suara saja tidak cukup tetapi haruslah orang percaya juga memiliki kesatuan hati juga, sebab sejatinya Allah melihat hati manusia.
▪ Sebab satu suara dan satu hati adalah perpaduan yang manis di antara keduanya.
▪  Dan kekristenan juga harus memiliki cara hidup Kristen yang benar-benar menjadi orang Kristen dan bertindak sebagaimana seharusnya orang Kristen di setiap bidang kehidupannya.

● Apa yang terjadi sehingga ‘kerukunan’ menjadi tekanan khusus dari rasul Paulus?
πŸ“– Ada 2 (dua) hal yang dapat kita catat,:
▪ pertama, sesuai dengan ay. 4, “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci”.
Bagi Paulus pengharapan bukan (bukan hanya) soal orang percaya perorangan.
Pengharapan ialah pertama-tama dan terutama pengharapan akan kedatangan Kerajaan Allah, di mana baik Israel maupun bangsa-bangsa kafir akan masuk.
Cita-cita Kerajaan itulah yang menjadi pegangan bagi jemaat.
Hukum yang berlaku dalam Kerajaan itu seharusnya sudah berlaku pula dalam jemaat.
Hukum itu adalah: kesatuan dalam kasih.
Itulah makna pengharapan di sini.

▪ Kedua, dalam bahasa Yunani, istilah ‘kerukunan’ sama bunyinya dengan ‘sehati-sepikir’ (lihat 14:12:16).
‘Sehati-sepikir’, bukanlah bermaksud untuk menghilangkan perbedaan pendapat dalam lingkungan jemaat.
Yang rasul Paulus harapkan bukan agar perbedaan dihapuskan, melainkan agar perbedaan itu diatasi.
Artinya, agar orang sanggup memandang perbedaan paham itu sebagai perkara yang nisbi/relatif, tidak memutlakkannya, sebab mereka melihatnya dari titik yang lebih tinggi, yang menjadi titik kesatuannya, yaitu Yesus Kristus.

● Cara menciptakan kerukunan.
▪ Dalam ay. 7 dikatakan, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah”.
Cara menciptakan kerukunan dalam ay. 7 merupakan cara bertindak yang diharapkan dapat dilakukan oleh jemaat, yaitu: terimalah satu akan yang lain.
Kedua golongan, yang kuat dan yang lemah dianjurkan untuk saling menerima.
Dasarnya adalah karena Kristus juga telah menerima kita.
Justru tdk memunculkan egoisitas yang merusak tatanan masyarakat.
Mau saling menerima berarti mengakui kelemahan masing-masing, dan mengakui kelebihan masing-masing.
Ingatlah bagaimana Kristus menerima kita, bukan karena kemampuan manusia, tetapi justru karena keberdosaan, kenajisan manusia itu sendiri.

Paulus meminta jemaat Roma untuk aktif menciptakan kerukunan.
Dasar dari pengajaran dan tuntutan kerukunan ini adalah hidup Kristus sendiri (15:3, 7).

--> Tindakan aktif pertama yang dapat dilakukan adalah menanggung beban sesama kita
(1). Pepatah mengatakan, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.”
Golongan kuat kemungkinan besar adalah kaum berada, sebaliknya golongan lemah adalah kaum miskin.
Saling menolong dan menanggung beban bahkan akan meruntuhkan batas-batas di antara umat manusia yang saling bermusuhan.
--> Kedua, orientasi hidup orang Kristen seharusnya tidak berpusat pada apa yang menguntungkan dirinya sendiri, tetapi apa yang membawa kebaikan dan membangun orang lain
(2). Semakin dewasa iman kita, semakin kita memikirkan kebaikan dan kemajuan orang lain yang ada di sekitar kita.
--> Ketiga, kerukunan terjadi pada saat kita merelakan diri menerima orang lain dengan kelebihan dan kekurangannya.

▪ Kristus adalah sumber iman Kristen yang memberikan contoh bahwa hidup-Nya bukanlah untuk menyenangkan diri-Nya sendiri.
▪ Kristus bahkan menerima cercaan dan hinaan demi keselamatan kita semua. Ingatlah, Kristus menerima kita bukan karena kita hebat dan memiliki kelebihan, tetapi justru pada saat kita najis oleh dosa.

Amin

Hidup Hanya Untuk Mengenal Tuhan

 



Hidup Hanya Untuk Mengenal Tuhan

▪ Kita harus mulai menetapkan filosofi hidup yang benar, yaitu hidup untuk menemukan Tuhan yang benar, mengenal-Nya dengan baik dan melakukan kehendak-Nya.
▪ Jadi, kehidupan selama 70-80 tahun adalah perjalanan untuk melakukan hal itu semata-mata, sampai seseorang menemukan kekasih abadi yang sejati, yaitu Tuhan sendiri.
▪ Hal-hal lain, khususnya yang menyangkut kebutuhan jasmani bukanlah sesuatu yang penting (walau perlu), karena tidak memiliki dampak kekekalan.
▪ Untuk memiliki hidup yang bermutu ini, seseorang harus berjuang meraih pengenalan akan Tuhan, tidak hanya menggunakan hati semata-mata, tetapi juga menggunakan pikiran.
▪ Dari pikiran yang mengenal Tuhan dengan benar, maka seseorang dapat memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan.
▪ Hal ini akan tecermin dalam seluruh perilakunya.
▪ Contohnya, para tokoh di Alkitab yang menemukan Tuhan melalui wahyu-wahyu khusus atau penyataan-penyataan-Nya. 

▪ Mereka belajar mengenal Tuhan melalui pengalaman hidup selama bertahun-tahun (2Tim. 3:16). ▪ Pengenalan akan Tuhan yang mereka miliki, mereka bayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu seluruh kehidupan.
▪ Dari pengalaman hidup mereka, dapat diperoleh kebenaran yang tidak ternilai harganya.

πŸ“š Kata kebenaran dalam teks Yunani adalah alitheia. 
▪ Kebenaran adalah segala sesuatu yang diajarkan Tuhan Yesus untuk diketahui agar manusia memperoleh keselamatan dari Tuhan atau memenuhi rencana-Nya.

--> Dalam hal ini kebenaran adalah: 
1). Semua butir-butir ajaran yang diajarkan Tuhan Yesus.
Kebenaran adalah seluruh hal yang diajarkan Tuhan Yesus.
Di sini, kebenaran adalah bulat atau utuh.
Kalau seseorang hanya menangkap sebagian yang diajarkan Tuhan Yesus, berarti belum mengenal kebenaran. 
2). Buah pikiran atau ide yang membuat seseorang mengenal Allah yang benar. 
Ini adalah ide Allah.
Untuk menyerap ide tersebut, seseorang harus menggunakan pikirannya semaksimal mungkin. Mengenal Allah bukan hanya berarti memiliki pengetahuan mengenai Allah, tetapi mengerti kehendak Tuhan apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2). 
3). Tuntunan yang menggiring seseorang kepada keselamatan dalam Yesus Kristus.
Tidak bisa dikatakan sebagai kebenaran, apabila tuntunan atau pembinaan dalam gereja tidak membuat orang percaya memiliki pertumbuhan ke arah kesempurnaan manusia yang dikehendaki oleh Allah dalam seluruh kehidupan. 

--> Untuk ini ada beberapa catatan penting, yaitu: 
1). Seseorang harus memiliki keyakinan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran yang tidak perlu ditambah oleh sumber mana pun.
Dengan prinsip ini, seseorang tidak memberi peluang terhadap sumber lain, seolah-olah dapat memberi masukan tambahan untuk mengenal kebenaran.
Hal ini akan membuat seseorang fokus kepada Alkitab saja (1Tim. 4:13; 2Tim. 3:15-16).
Sangat berbahaya kalau kesaksian pribadi seseorang dianggap bisa menjadi landasan iman atau kalau seseorang berkata bahwa ia bisa belajar langsung dari Tuhan.
Di sini kewibawaan Alkitab dirongrong oleh oknum yang mengaku bahwa Tuhan mengizinkan seseorang mengabaikan isi Alkitab.
Sesungguhnya pernyataan itu muncul dari orang-orang yang malas belajar Alkitab dengan benar. Dengan cara demikian, ia mengesankan bahwa orang percaya tidak perlu kerja keras dalam menggali kekayaan Alkitab. 

2). Seseorang harus merasa lapar dan haus akan kebenaran.
Tanpa kehausan dan kelaparan, seseorang tidak akan dapat dipuaskan (Mat. 5:6).
Orang yang haus dan lapar akan mencari dan senantiasa memburu kebenaran.
Mereka akan menggunakan kesempatan yang ada untuk menggali isi Alkitab guna menemukan kebenaran.
Tuhan menjanjikan orang-orang seperti ini akan dipuaskan oleh Tuhan. 

3). Kesediaan untuk meninggalkan percintaan dunia (Luk. 16:11).
Orang yang masih tidak benar dalam masalah harta tidak akan dipercayai “harta yang sesungguhnya.”
πŸ“š Kata ‘harta yang sesungguhnya’ dalam teks aslinya adalah alithinon (ἀληθινὸν), yang mestinya lebih tepat diterjemahkan ‘kebenaran.’
Orang yang tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur, tidak akan dipercayai harta yang sesungguhnya, yaitu kebenaran.
Maka, orang yang materialistis tidak akan dapat mengerti kebenaran.
Dalam Matius 13:22-23 dinyatakan oleh Tuhan Yesus bahwa percintaan dunia membuat seseorang tidak bisa mengerti Firman Tuhan.
Hati manusia hanya bisa diisi oleh salah satu pribadi, Tuhan atau setan (Mat. 6:24). 

4). Kesediaan untuk meninggalkan dosa.
Dalam salah satu kalimat khotbah di Bukit, Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang bersih hatinya akan melihat Tuhan atau mengerti kehendak Tuhan (Mat. 5:8).
Ini adalah langkah tersulit.
Tetapi tidak bisa ditawar sama sekali.
Tanpa kesucian seseorang tidak akan dilayakkan menerima mutiara atau barang yang kudus dari Tuhan (Mat. 7:6).
Sebab orang percaya dipanggil untuk hidup secara luar biasa dalam kelakuan.
Bila kehidupan Kristen seseorang tidak luar biasa (Mat. 5:20), maka berarti ada yang salah dalam hidup kekristenannya tersebut.
Apa sebenarnya yang menentukan atau hal paling dominan yang berperan bagi pertumbuhan iman yang benar?
Jawabnya adalah pengenalan akan Tuhan.

▪ Kita harus mulai menetapkan filosofi hidup yang benar, yaitu hidup untuk menemukan Tuhan yang benar, mengenal-Nya dengan baik dan melakukan kehendak-Nya

Selasa, 27 Desember 2022

MANUSIA DI RANCANG UNTUK HIDUP DALAM KEMULIAAN ALLAH -- ROMA 3:23

 


MANUSIA DI RANCANG UNTUK HIDUP DALAM KEMULIAAN ALLAH -- ROMA 3:23


πŸ“– Roma 3:23,  “karena semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, oleh karena telah berbuat dosa.”

Menurut bahasa Yunani versi BYZ* :

πάντΡς γὰρ αΌ₯μαρτον ΞΊΞ±α½Ά ὑστΡροῦνται Ο„αΏ†Ο‚ Ξ΄ΟŒΞΎΞ·Ο‚ τοῦ ΘΡοῦ
Baca: Pantes gar hemarton kai husterountai tes doxes tou Teou

▪ Dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. 
▪ Dosa dalam perspektif Kristen adalah ketidaktepatan atau kemelesetan.

πŸ“š Kata Kemelesetan (yun) hamartia, artinya bukan hanya melanggar hukum, tetapi tidak melakukan tepat seperti yang Allah kehendaki.

▪ Konsep dosa di dalam Perjanjian Lama adalah pelanggaran terhadap hukum.
▪ Dosa membuat manusia kehilangan Kemuliaan Allah 

πŸ“š Jadi, “kemuliaan” yang dimaksud di sini adalah keadaan dimana manusia tidak meleset, keadaan dimana manusia memiliki batin yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah atau Imago Dei
πŸ“š Makna Imago Dei adalah, Imago artinya gambar dan Dei adalah Allah.
▪ Jadi jika dikatakan manusia adalah imago dei artinya manusia segambar dengan Allah. 

πŸ“– Firman Tuhan mengatakan “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kejadian 1:27).
πŸ“– Filipi 2:5 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”  

πŸ“š Kata "Kemuliaan Allah" (yun) tes doxes tou Teou adalah kemuliaan yang dimiliki oleh Allah. 
▪ Kita adalah ciptaan yang paling mulia, karena kita diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. 
▪ Seharusnya, penciptaan kita dimaksudkan untuk menjadi pemancar kemuliaan Allah bagi seluruh ciptaan yang lain. 
▪ Namun, melalui peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa, gambar kemuliaan Allah yang semula ada di dalam diri kita itu kini mengalami kemerosotan yang berkesinambungan.

▪ Seiring dengan menanggulangi kemelesetan ini dan seiring dengan keberhasilan menyelesaikan kemelesetan tersebut setiap hari, maka kemuliaan juga pasti kita peroleh, artinya semakin tidak meleset maka semakin seseorang mulia.
▪ Jadi kita tidak boleh memandang bahwa kemuliaan itu hanya nanti setelah kita meninggal dunia.

πŸ“– Roma 8:17, firman Tuhan mengatakan bahwa kita akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus, artinya kita akan menerima kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus, maksudnya adalah “kita akan memperoleh jabatan, keagungan, bersama-sama dengan Tuhan Yesus kelak.” 

▪ Yesus dimuliakan Bapa, sehingga setiap lutut bertelut dan lidah mengaku bahwa Yesus adalah penguasa; kurios, Tuhan bagi kemuliaan Allah.
▪ Oleh karenanya sejak di bumi kita juga sudah harus mulia, kemelesetan sudah harus ditanggulangi. 
▪ Semakin dosa ditanggulangi, semakin kita memiliki kemuliaan.
▪ Maka, kalau orang tidak mulia sejak hidup di dunia ini, ia tidak akan dimuliakan di kekekalan.
▪ Jadi, kemuliaan seseorang atau keagungan seseorang itu bukan pada kekayaan, kedudukan, gelar, penampilan, atau apa pun, tetapi kemuliaan seseorang terdapat pada ketepatan dia bertindak atau ketepatan ia berperilaku.
▪ Makanya kita belajar untuk berhati-hati terhadap apa yang kita pikirkan, berhati-hati terhadap apa yang kita ucapkan, berhati-hati atas setiap keputusan, atas setiap pilihan, rencana, keinginan, ambisi, dan lain sebagainya.
▪ Karena di situlah letak kehormatan kita, letak keagungan kita, dan letak kemuliaan kita. 

▪ Jadi, pada umumnya manusia telah sesat.
▪ Umumnya membangun kemuliaan di atas kekayaan, kehormatan, kedudukan dan kekuasaan, penampilan, dan lain sebagainya.
▪ Bahkan ketika kita ada di lingkungan pelayanan, kita masih mengharapkan ada kehormatan di dalam pelayanan tersebut dan itu tidak kita sadari.
▪ Ada ambisi-ambisi yang kita sendiri tidak sadari, yang mengarahkan kita di dalam bertindak, dan dalam mengambil keputusan.
▪ Jadi, mungkin kita merasa sudah mulia karena kehormatan yang kita sandang spt gelar, kedudukan, kekayaan dan lain sebagainya, tetapi sebenarnya jika ditinjau dari mata Allah, kita tidak mulia sebenarnya. 

▪ Kadang kita sering menjumpai, mudah untuk kita mengatakan di gereja atau pada waktu kita kebaktian, “Bapa, aku mau indah di mata-Mu dan mulia dalam pandangan-Mu.” 
▪ Sebenarnya itu hanya ucapan belaka ygvakan menambah kefasikan (asesories, pernak pernik dlm kekristenan), tetapi sebenarnya kita tidak sungguh-sungguh mau bergumul untuk mencapai atau meraih kemuliaan yg sesungguhnya.
▪ Sejatinya, tanpa sadar kita sedang mempermainkan Tuhan lewat ucapan bibir kita.

▪ Orang yang menemukan kemuliaan Allah memiliki ciri yang berbeda dengan dunia. 
▪ Makanya kita harus mau utk sering memeriksa diri kita, apakah kita sudah menemukan kemuliaan Allah yang hilang itu atau belu.
▪ Kita dapat membandingkan diri kita dengan cara berpikir anak dunia, gaya hidup anak dunia, obsesi, hasrat, cita-cita, dan gaya hidupnya.
▪ Apakah masih terdapat kemiripan?
▪ Kalau masih ada, berarti kita harus berusaha utk menemukan kemuliaan Allah yg harus menguasai dan mengubah hidup kita.

πŸ“– Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan dg tegas dalam Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini.” 

▪ Maka kita harus jujur dengan diri kita sendiri; kita serupa dengan dunia ini, atau serupa dengan Tuhan Yesus yang adalah gambaran kemuliaan Allah.
▪ Kita dipanggil sejak semula untuk serupa dengan Dia, untuk menemukan kemuliaan tsb.
▪ Jadi kita harus berani untuk hidup tidak serupa dengan dunia ini.

πŸ“– Firman Tuhan mengingatkan kita spy kita “berubahlah oleh pembaharuan budimu”.
▪ Jadi budi kita pasti bisa berubah, artinya pikiran kita bisa berubah hanya oleh Firman yg benar dan murni
▪ Karenanya jangan terdistraksi, dirusak, dan dikacaukan oleh apa pun yang membuat kita tidak bertumbuh ke arah Kristus.
▪ Tuhan memberkati.