Selasa, 27 Desember 2022

I Korintus 16:13-14 (Eksposisi)

 



I Korintus 16:13-14 (Eksposisi)


📚 I Kor.16:13-14
Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat! Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!

▪ Dalam teks ini Paulus memberikan beberapa kunci untuk menyelesaikan perjalanan rohani.
▪ Beberapa kunci ini saling berhubungan dan berkaitan erat.
▪ Tentunya dlm konteks dan situasi di jemaat Korintus.

● 📖 Berjaga-jaga (ayat 13a)

Kata dasar grēgoreō (LAI:TB “berjaga-jaga”) muncul berkali-kali dalam Alkitab.
Kata ini juga digunakan dalam beragam konteks, misalnya menjaga kota (Neh. 7:3; 1Mak. 12:27) atau pintu (Mrk. 13:34-37), bersiap-siap melakukan sesuatu (Yer. 38:28; Dan. 9:14), menunggu sesuatu/seseorang (Luk. 12:37), atau mengantisipasi sesuatu (Why. 3:3).

Keragaman penggunaan ini menimbulkan kesulitan bagi para penafsir.
Apa artinya “berjaga-jaga” di ayat 13a
Berjaga-jaga dari apa

Sehubungan dengan hal ini, para penafsir umumnya terbagi menjadi dua.
Sebagian menghubungkannya dengan kedatangan Kristus Yesus yang kedua kali.
Dugaan ini bukan tanpa alasan.
Kata kerja grēgoreō memang beberapa kali muncul dalam konteks menantikan kedatangan Tuhan (Mat. 24:42-43; 1Tes. 5:6-10; Why. 3:3; 16:15).
Dalam Surat 1 Korintus Paulus juga beberapa kali menyinggung tentang kedatangan Tuhan (1:8; 3:13; 5:5).

Sebagian penafsir memilih untuk meletakkan grēgoreō dalam kaitan dengan nasihat-nasihat lain di 16:13 (“berjaga-jaga – berdiri teguh dalam iman – bertindak seperti laki-laki – tetap kuat”).
Mereka mengaitkan berjaga-jaga di sini dengan hal-hal buruk yang berpotensi membahayakan dan melemahkan iman mereka.
Makna seperti ini juga mendapatkan dukungan dari pemunculan grēgoreō di ayat-ayat lain.
Para penatua Efesus perlu berjaga-jaga dari para pengajar sesat (Kis. 20:31).
Semua anak Tuhan wajib berjaga-jaga dari serangan Iblis (1Pet. 5:8).

Di antara dua opsi ini, yang terakhir tampaknya lebih tepat.
Yang paling jelas, tafsiran ini lebih sesuai dengan konteks.
Semua nasihat di ayat 13 menggunakan metafora pertempuran.
Berjaga-jaga bukan dalam arti menanti (kedatangan), tetapi mengantisipasi (bahaya).
Lagi pula pasal 16 memang kurang bersentuhan dengan ide-ide tentang akhir zaman.
Di samping itu, jemaat Korintus memang sedang menghadapi beragam persoalan dan dosa, misalnya pertikaian (1:10-3:23), percabulan (6:12-20), penyembahan berhala (8:1-10:33), diskriminasi sosial (11:17-34), dsb.
Semua ini dapat melemahkan mereka.

● 📖 Berdiri teguh dalam iman (ayat 13b)

Masih melanjutkan metafora pertempuran, Paulus menasihati jemaat Korintus untuk berdiri teguh (stēkō). Penggunaan kata ini dalam konteks peperangan menunjukkan keberanian dan ketahanan untuk mempertahankan posisi di depan musuh. Tidak mundur, apalagi lari. Sebagai contoh, jemaat di Filipi didorong untuk tidak gentar terhadap musuh, sebaliknya berdiri teguh dalam satu roh untuk memperjuangkan Injil (Flp. 1:27-28).

Apa artinya “dalam iman” (en tē pistei) di sini? Walaupun secara tata bahasa frasa ini dapat diterjemahkan “dalam iman kalian”, tetapi terjemahan yang lebih baik adalah “dalam iman itu”. Maksudnya, iman di sini bukan merujuk pada perasaan yakin dalam diri jemaat, melainkan pada isi iman. Dengan kata lain, iman di sini identik dengan ajaran Kristiani atau Injil. 2 Korintus 1:24 berbunyi: “Bukan karena kami mau memerintahkan apa yang harus kamu percayai, karena kamu berdiri teguh dalam imanmu”. Di tempat lain dia berkata: “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis” (2Tes. 2:15). Dalam konteks 1 Korintus, ajaran dan tradisi tersebut terutama merujuk pada Injil Yesus Kristus: kematian dan kebangkitan-Nya (15:3-4).

Jadi, melalui nasihat di ayat 13b ini Paulus ingin mendorong jemaat Korintus untuk berdiri teguh pada kebenaran, terutama Injil Kristus. Beragam ajaran sesat dan pandangan duniawi akan terus datang menyerang, tetapi mereka harus kokoh di dalam iman yang benar. Itu adalah pondasinya. Dengan demikian, memiliki iman yang benar adalah lebih penting daripada memiliki iman yang besar. 

● 📖 Berani dan kuat (ayat 13c-d)

Terjemahan LAI:TB “bersikap seperti laki-laki” (andrizomai) tidak terlalu jelas. Apa artinya “bersikap seperti laki-laki”? Aspek maskulin apa yang disiratkan di kata ini?

Di samping itu, arti andrizomai seperti tadi juga bisa menimbulkan kesan yang keliru. “Bersikap seperti laki-laki” belum tentu harus dikontraskan dengan “bersikap seperti perempuan”. Penggunaan andrizomai di Alkitab tidak dikontraskan dengan perempuan. Yang dimaksud bisa jadi bukan “laki-laki versus perempuan”, melainkan “laki-laki dewasa versus anak kecil”.

Kunci untuk memahami persoalan ini adalah memperlakukan “bersikap seperti laki-laki” dan “tetap kuat” sebagai satu kesatuan. Kata kerja andrizomai (LAI:TB “bersikap seperti laki-laki”) dan krataioō (LAI:TB “tetap kuat”) beberapa kali muncul secara bersamaan (2Sam. 10:12; Mzm. 26:14; 31:25). Di tempat-tempat lain, kata andrizomai sering disandingkan dengan kata ischyō (“kuat”) yang merupakan sinonim dari krataioō (Ul. 31:6-7, 23; Yos. 1:6-7, 9, 18; Yos. 10:25; 1Taw. 19:13; 22:13, dsb).

Semua penggunaan ini menunjukkan bahwa keduanya tidak boleh dipisahkan. Keduanya sudah menjadi semacam ungkapan populer. Poin ini sekaligus berguna untuk menerjemahkan andrizomai secara lebih tepat. Berdasarkan pemunculan andrizomai dengan krataioō/ischyō, kita sebaiknya menerjemahkan ayat 13c-d dengan “berani dan kuat”. Ada unsur keberanian untuk menghadapi tantangan besar yang ada di depan.

Bagi jemaat Korintus, nasihat untuk menjadi berani dan kuat sangat relevan. Mereka kurang berani melawan pandangan duniawi yang mulai merembesi komunitas mereka (3:1-3; 5:1-13). Ironisnya, mereka justru berani melawan sesama orang percaya. Mereka berselisih satu dengan yang lain (1:10-13). Beberapa bahkan menyeret orang lain dalam ranah legal (6:1-11). Dengan kata lain, mereka telah menggunakan keberanian mereka secara keliru. Tatkala harus berani melawan (konsep duniawi) mereka tidak berani dan terlihat lemah. Mereka hanyalah jago kandang yang suka bertengkar.

● 📖 Mengasihi (ayat 14)

Penekanan dalam nasihat ini bukan terletak pada melakukan segala pekerjaan. Titik berat diletakkan pada “dalam kasih”. Sama seperti mereka harus berdiri teguh di dalam iman, mereka juga harus melakukan semuanya dalam kasih.

Jemaat Korintus bukan tipikal jemaat yang pasif. Mereka sangat bergairah. Hanya saja, antusiasme mereka tidak dibarengi dengan kasih. Sebagai contoh, mereka sangat mengejar karunia roh. Namun, yang digandrungi adalah karunia bahasa roh yang hanya membangun diri sendiri (jika tidak ada penerjemahnya).

Kasih merupakan elemen penting dalam kehidupan komunal. Sayangnya, jemaat Korintus justru kekurangan hal itu. Dengan kasih, mereka pasti mampu menyikapi perbedaan pendapat dengan baik, sehingga tidak menjadi pertikaian. Dengan kasih, mereka akan mendahulukan kepentingan orang lain. Dengan kasih, mereka akan mengupayakan hal-hal yang dapat membangun orang lain.

Yang paling penting, di tengah hebatnya tantangan dan serangan dari dunia, seluruh jemaat akan dikuatkan apabila mereka memiliki kasih yang besar. Allah sudah mengatur bahwa pertumbuhan rohani seseorang merupakan hasil proyek bersama. Tidak ada superhero dalam kekristenan. Setiap orang membutuhkan yang lain.

Apakah Anda sedang menghadapi tantangan dan halangan? Apakah Anda sudah mengetahui kunci untuk mengalahkan semuanya itu?




MAKNA UNGKAPAN MENUMPUKKAN BARA API

 



MAKNA UNGKAPAN MENUMPUKKAN BARA API
Pdt. Erwan

📖 Roma 12:20 :
Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum!
Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

▪ Konteks ayat ini adalah melakukan perbuatan yang baik kepada sesama atau secara khusus kepada musuh.
▪ Artinya, jika seseorang berbuat baik kepada musuhnya, yaitu memberi makan kepada yang lapar dan memberi air kepada yang haus, tindakan tersebut dikategorikan "menimbun bara api di atas kepala seseorang."

▪ Bagi kalangan orang yahudi frasa "menimbun bara api di atas kepala seseorang" merupakan ungkapan yang sangat umum dikenal mereka, sebab tidak mungkin Paulus mengutip frasa tersebut jika pendengarnya tidak memahami frasa tersebut, berbeda dengan pemahaman kita yg hidup di Indonesia.

▪ Latar belakang atau asal usul frasa ini berasal dari kebiasaan orang Mesir yang dikenal dengan "ritual pertobatan".

▪ Dikisahkan tentang seseorang yang mencuri buku berharga dari sebuah kuburan.
▪ Pencuri ini akhirnya menyadari kesalahannya dan hendak mengembalikan barang curiannya.
▪ Maka dia meletakkan sebuah panci yang berisi bara api yang panas di atas kepalanya untuk menunjukkan kesadaran dan sikapnya yang memalukan, sekaligus bertobat dan akhirnya mau memperbaiki diri.
▪ Dengan bara api di atas kepalanya, orang tersebut datang, entah kepada pribadi atau kelompok masyakarat yang dia rugikan, untuk menunjukkan ketulusan dari pertobatannya.

📖 Perlu dicatat bahwa bukan bara api yang diletakkan di atas kepala seseorang itulah yang membawa pertobatan, namun hal itu merupakan bukti yang dilihat dari luar bahwa sebuah pertobatan telah terjadi.

▪ Walaupun Alkitab tidak pernah mencatat adanya kebiasaan tersebut, hal itu tidak berarti kalau ritual tersebut memang tidak pernah ada.

▪ Jadi ketika seseorang "memberi makan dan memberi minum musuhnya," maka tindakan tersebut dikatakan bahwa orang tersebut sedang menekankan usaha untuk memperlakukan musuh dengan keramahan dan kebaikan.
▪ Dengan kebaikan yang ditunjukkan, maka ada kemungkinan musuh justru bertobat dari tindakannya yang memusuhi.
▪ Jadi tidak perlu membalas perbuatan jahat musuh dengan perbuatan jahat atau yang lebih jahat lainnya supaya musuh tersebut sadar.
▪ Justru dengan membalas melalui perbuatan baik, hal itu memungkinkan musuh menyadari kesalahannya. 

📖 Ayat Surat Roma 12:20 ini, dikutip oleh Paulus dari Kitab Amsal (Amsal 25:21-22).
25:21 Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. 
25:22  Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu. 

▪ Jadi makna "menumpukkan bara api" adalah : Dengan membalas kejahatan dengan kebaikan, pelaku kejahatan itu mungkin akan menyesal.
▪ Bahwa dengan berbuat baik kepada musuh-musuh, kita dapat membuat mereka merasa malu dan akhirnya membawa mereka kepada Allah dan keselamatan ( Roma 12:20-21).
▪ Hasil inilah yang diharapkan.
▪ Jika seorang musuh diperlakukan dengan baik, jika kejahatan dibalas dengan kebaikan, maka kejahatan itu mungkin akan dikalahkan; lawan mungkin akan mengalami pembaruan pikiran, perubahan orientasi dari gelap kepada terang.

CARA HIDUP JEMAAT - Kisah Para Rasul 4:32-37 (eksposisi) GAYA HIDUP WARGA KERAJAAN SORGA

 



CARA HIDUP JEMAAT - Kisah Para Rasul 4:32-37 (eksposisi)
GAYA HIDUP WARGA KERAJAAN SORGA

Disusun oleh : Pdt. Erwan

📖 Kisah Para Rasul 4:32-37
4:32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.
4:33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.
4:34 Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa
4:35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.
4:36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.
4:37 Ia menjual ladang miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

● LATAR BELAKANG
▪ Kisah Para Rasul adalah Kitab Sejarah yang memuat kisah pelayanan Tuhan Yesus melalui hidup para murid-Nya
▪ Kitab ini ditulis oleh Lukas, kitab ini lebih merupakan lanjutan atau lampiran dari Injil Lukas daripada suatu kitab yang berdiri sendiri.

▪ Perikop Kis.4:32-37 sebenarnya bersambung ke Kis.5:1-11 yg merupakan satu kesatuan kisah yang memperlihatkan:
1. Cara hidup jemaat (Kis.4:32-35) - Pola kehidupan yang mencerminkan kesatuan, saling berbagi dan saling menolong.
2. Sikap Barnabas (Kis.4:36-37) - cara hidup yang positif
3. Sikap Ananias dan Safira (Kis.5:1-11) - cara hidup yang negatif

--> Jadi ada ajaran tentang pola/cara hidup jemaat yang diikuti dari contoh sikap positif dan negatif.

● URAIAN
Perikop ini di bagi menjadi 2 Topik atau bagian

👉 Bag.1. Kesatuan Jemaat - Kis.4:32-35
📌 📖 Kis.4:32 -- Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.

▪ Ajaran Tuhan Yesus tentang mengasihi Allah dan sesama manusia di Mat.22:37-39 adalah dasar utama cara pikir dan pandang orang-orang percaya.
▪ Mengasihi bukan saja secara spiritual, tetapi berbuah dalam tindakan yang mengasihi sesama secara fisik.
▪ Hal ini ditunjukkan di ayat ini, bahwa harta milik mereka tidak mereka anggap sebagai milik pribadi.
▪ Kepemilikan harta bagi mereka lebih merupakan berkat yang harus dibagi kepada sesama yang membutuhkan.

📚 Ayat ini merupakan penegasan Lukas pada kitab ini, akan apa yang ia paparkan sebelumnya mengenai ketulusan hati dan kesatuan jemaat di Kis.2:44-46
▪ 2:44 -- Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
▪ 2:45 -- dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
▪ 2:46 -- Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati. 
--> Catatan : perhatikan kata "bergilir" (pada ayat 46)

Bandingkan :

📚 Ulangan 15:4, 7-8
▪ 15:4 -- Maka tidak akan ada orang miskin di antaramu, sebab sungguh Tuhan akan memberkati engkau di negeri yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milik pusaka, 
▪ 15:7 -- Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu,
▪ 15:8 -- tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan.

▪ Jadi tindakan Jemaat mula pada Kisah Para Rasul 4:32-37 bukan digerakkan oleh hukum atau aturan, tetapi digerakkan oleh Kasih yang merupakan ajaran Tuhan Yesus.
(Band. 1Yoh.3:17-18)
▪ 3:17 -- Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?
▪ 3:18 -- Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

▪ Faktor keadaan ekonomi yang memburuk dengan adanya kesulitan pangan akibat panen gagal, kelaparan dan kerusuhan politik ditambah dengan tekanan orang-orang Yahudi yang bukan pengikut Yesus, justru menambah erat perasaan senasib dan membangun kesatuan jemaat lebih erat di Yerusalem pada masa itu.

▪Kemurah-hatian seperti ini berbeda dengan konsep sosialis komunis, karena tidak ada "kewajiban" untuk menyerahkan harta pribadi sebagai milik bersama, tetapi kepunyaan bersama hanya digerakkan oleh ketulusan hati yang penuh belas kasih dalam suatu kesatuan oleh karya Roh Kudus

📌 📖 Kis.4:33 -- Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.

▪ "Kuasa yang besar" merupakan ciri khas dari khotbah dan kesaksian rasuli (bd. Kis 1:8) karena tiga alasan:
a) Kesaksian rasuli berlandaskan Firman Allah (ayat Kis 4:29) serta keyakinan bahwa Firman itu diberikan dengan pengilhaman Roh Kudus
b) Para rasul sadar bahwa mereka diutus dan ditugaskan oleh Yesus sendiri, yaitu Tuhan yang bangkit.
c) Roh Kudus, melalui para rasul (ayat Kis 4:31), menimbulkan keinsafan besar di kalangan mereka yang mendengarkan Injil tentang dosa pribadi, kebenaran Kristus, dan penghakiman Allah
--> ref. Yoh 16:8 : Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman

▪ Ayat 33 ini juga menjelaskan bahwa pusat dari kesaksian mereka terletak pada "Kebangkitan Tuhan Yesus".
📚 Kekuatan kesaksian tersebut, bukan saja terletak pada kekuatan untuk mengadakan mujizat, tetapi lebih kepada "kasih karunia yang berlimpah-limpah
(bandingkan dengan ucapan Yesus di Yoh.13:34-35)
▪ 13:34 -- Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.
▪ 13:35 -- Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.

▪ Dengan demikian, kesaksian mereka memenuhi nubuatan bahwa Yesus adalah Mesias dan Juruselamat yang dinanti-nantikan selama ini (Bandingkan Kis.2:29-32).
▪ Sama seperti Kristus Yesus yang tumbuh dengan penuh hikmat, demikian juga dengan jemaat Kristus bertumbuh dengan kasih karunia Allah
📚 Luk.2:40 Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya

📌 📖 Kis.4:34-35 -- Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa -- dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

📚 Jika kita bandingkan ayat diatas dengan Kis.2:45 -- dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. 

📚 Sehingga selanjutnya yg telah menjadi kebiasaan bersama, mereka saling berbagi dengan sukarela -- Kis.4:32 ; 34

▪ Kelanjutan dari hasil penjualan di Kis.4:35 memperlihatkan kepercayaan penuh jemaat kepada rasul-rasul sebagai pihak yang dapat dipercaya penuh untuk menggunakan hasil penjualan harta mereka tersebut.
▪ Kemudian selanjutnya dalam perkembangannya pembagian tersebut diceritakan di Kis.6:1-4.
▪ Ini jelas memperlihatkan bahwa kekristenan adalah tindakan dan bukan hanya kata-kata belaka. 
--> Jadi, Kesaksian di Kis.4:33 dilanjutkan dengan tindakan di Kis.4:34-35.

👉 Bag. 2. Barnabas yang Murah Hati - Kis.4:36-37
📖 Kis.4:36-37 -- Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. -- Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

▪ Yusuf yg disebut juga Barnabas, menjual seluruh hartanya dan memberikan seluruh uangnya kepada para rasul untuk menolong orang miskin (Kis.4:37)
▪ Pada ayat 36, tertulis disana bhw Barnabas adalah orang Lewi.
▪ Biasanya orang Lewi tidak memiliki tanah apapun (Band. Bil.18:24).
▪ Barnabas bukan hidup di Israel, melainkan di Siprus.
▪ Menurut beberapa teolog, biasanya aturan kepemilikan tanah bagi suku Lewi ini tidak berlaku ketika mereka hidup diluar tanah Israel.

▪ Ia disebut sebagai "orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman."
▪ Melalui pelayanannya, "sejumlah orang dibawa kepada Tuhan" (Kisah 11:24).
▪ Paulus menggunakan Barnabas sebagai teladan sudut pandang yang benar tentang harta benda dan uang.
▪ Ketika ia menjual ladangnya, ia membawa hasilnya dan meletakkannya di kaki para rasul (Kisah 4:36-37).
▪ Barnabas mewakili sifat dan cara hidup yang positif dari jemaat yang memberi dengan ketulusan hati yg penuh dan tanpa mengharapkan imbalan apapun juga, kecuali karena mempraktekkan ajaran kasih Kristus Yesus.

▪ Dari pemaparan tentang riwayat hidup Barnabas di atas, kita dapat melihat betapa besar peran Barnabas dalam penginjilan, dalam mensukseskan pekerjaan rasul Paulus, dalam membantu dan membentuk Yohanes Markus (penulis Injil Markus) dan bagi perkembangan jemaat Tuhan.
▪ Selanjutnya Lukas menulis kelanjutan kisah ini di Kis.5:1-11 tentang pribadi Ananias dan Safira, yang menganut cara hidup yang negatif atau salah.

● APLIKASI dan KESIMPULAN
▪ Banyak gereja saat ini tidak lagi berfokus pada tujuan awalnya, sehingga fokus pelayanannya berpindah ke visi duniawi.
▪ Sbg bahan evaluasi, seringkali kita menghabiskan energi dan daya untuk menekuni hanya kegiatan-kegiatan seremonial saja, yang menghabiskan byk waktu, tenaga dan dana, sementara pelayanan kasih menjadi pelengkap, kegiatan pembinaan/pembelajaran Firman Tuhan dan pelayanan kasih mendapat perhatian yang kurang penting.

▪ Olehnya kita harus mengembalikan fokus gereja sebagai tempat kesaksian bahwa Kristus Yesus benar-benar telah bangkit, bahwa Roh Kudus yang Ia janjikan telah turun, dan Yesus Kristus akan datang kembali - dengan menerapkan ajaran KasihNya, dan bukan hanya jadi slogan.
Catatan : Mengasihi bukan anjuran, tetapi merupakan perintah Tuhan Yesus (Yoh.13:34).

▪ Dan Perikop ini mengajar kita melalui gaya hidup Barnabas, ia adalah orang yang fokus dalam kesaksiannya sebagai orang percaya dan melaksanakan ajaran Kristus secara total.
▪ Motivasinya dalam memberi hartanya adalah tulus dan murni oleh karena Kasih, bukan untuk memperoleh nama, pujian dan status.
▪ Untuk itu mari kita mengikuti teladan yg baik dari gaya bidup Barnabas




 

MAKNA DOA YESUS (Yohanes 17:1-26) - Eksposisi

 


MAKNA DOA YESUS (Yohanes 17:1-26) - Eksposisi
Dirangkum dan disusun oleh : Pdt. Erwan

● Pendahuluan
▪ Yohanes 17 adalah perikop tentang Doa Yesus.
▪ Menceritakan bahwa yesus sebagai Imam Agung yang tertinggi (the Priestly Prayer of Jesus).
▪ Disebut demikian, karena di perikop ini dijabarkan pembicaraan antara Kristus dengan Allah Bapa, di mana Yesus sebagai Imam Agung mempersembahkan korban sengsara dan wafat-Nya kepada Allah Bapa.
▪ Melalui penjabaran ini kita mengetahui hal misi penebusan Kristus dan contoh bagaimana seharusnya kita berdoa.
▪ Injil Yohanes mengajarkan kita bahwa Tuhan Yesus yang adalah Putera Allah yang sehakekat dengan Allah Bapa, sesungguhnya dapat saja berdoa dalam hening (dalam hati) jika perlu, tetapi Ia ingin menunjukkan Diri-Nya di hadapan Bapa dengan sikap permohonan, sebab Ia adalah Guru kita.
▪ Oleh karena itu, doa untuk para murid-Nya ini berguna bukan saja kepada mereka yang mendengarnya, tetapi juga kepada semua yang kemudian membacanya

● Pokok bahasan perikop Doa Yesus ini terbagi menjadi tiga bagian :
▪ 1) Ay. 1-5: Yesus memohon agar kodrat manusia-Nya yang kudus dipermuliakan, dan korban salib-Nya diterima oleh Allah Bapa
▪ 2) Ay. 6-19, Yesus berdoa bagi para murid-Nya yang akan diutusnya ke dunia untuk mengabarkan penebusan yang sebentar lagi akan diselelesaikanNya
▪ 3) Ay. 20-26, Yesus berdoa untuk kesatuan di antara semua yang akan percaya kepada-Nya sepanjang abad, sampai mereka mencapai persatuan yg sempurna dengan-Nya di Surga.

📖 Bag.1. Ay. 1-5
▪ Sebelum berpisah dengan murid-murid-Nya, Yesus terlebih dahulu berdoa bagi mereka.
▪ Tema utama doa Yesus pada perikop ini adalah kerinduan-Nya akan kemuliaan Bapa dan damai sejahtera di antara murid-murid-Nya.

▪ Yesus meminta agar Bapa mempermuliakan Dia sama seperti Dia mempermuliakan Bapa, yang telah memberikan kuasa kepada-Nya; mempermuliakan Dia, karena Ia menyelesaikan pekerjaan yang Bapa tetapkan; mempermuliakan Dia dengan kemuliaan yang Bapa miliki.

▪ Tiga kali Ia berseru '"permuliakanlah Anak-Mu".
▪ Kalimat Ini mengandung penekanan bahwa tugas-Nya mempermuliakan Bapa telah selesai.
--> Setiap orang percaya juga mempunyai tugas yang Allah ingin mereka lakukan.
📚 Ef 2:10 : “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”.

--> Kita harus meneladani Kristus dengan memuliakan Allah melalui penyelesaian tugas yg Ia percayakan kpd kita.
▪ Yoh. 4:34 :TB : Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
▪ TL : Maka kata Yesus kepada mereka itu, "Adapun rezeki-Ku, yaitu melakukan kehendak Dia, yang menyuruhkan Aku, dan menyempurnakan pekerjaan-Nya.

📚 Kata "kemuliaan" (Ibr) כָּבוֹד - KAVOD ; (yun) δόξα - DOXA, feminine noun, harfiah: "pendapat; reputasi" yang kemudian dalam pemakaiannya di Alkitab Perjanjian Baru digunakan dalam makna "kemuliaan/ glory".

--> Kata “Kemuliaan” di sini mengacu kepada kemegahan, kuasa dan hormat yang menjadi milik Tuhan.
▪ Allah Putera setara dengan Allah Bapa, dan sejak penjelmaan-Nya, yaitu kelahiran dan terutama melalui wafat dan kebangkitan-Nya, ke-Allahan-Nya telah dinyatakan.
“…kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” (Yoh 1:14)

📚 Pemuliaan Yesus mempunyai tiga dimensi:
1) Pemuliaan Yesus mendukung kemuliaan Allah Bapa, sebab Kristus dalam ketaatan-Nya kepada kehendak Allah Bapa (Flp 2:6), memperkenalkan Allah Bapa dan menyelesaikan karya penyelamatan Allah.
2) Kristus dimuliakan karena ke-Tuhanan-Nya, yang dengan kerelaan hati-Nya telah disamakan, akan pada akhirnya dinyatakan melalui kodrat kemanusiaan-Nya, yang akan dapat dilihat setelah kebangkitan-Nya atas kuasa Allah.
3) Kristus, melalui pemuliaan-Nya, memberikan kesempatan kepada manusia untuk mencapai kehidupan kekal.
Ini pada akhirnya mengacu kepada pemuliaan Allah Bapa dan Kristus Allah Putera, dengan melibatkan juga partisipasi manusia dalam kemuliaan ilahi.

📖 Bag. 2. Ay.6-19, kita bagi menjadi 2 sub/bagian :
--> A. Ay.6-10
▪ Setelah berdoa bagi Diri-Nya, Yesus melanjutkan dengan berdoa bagi para murid-Nya dalam persekutuan para rasul, yang akan melanjutkan karya penebusan-Nya di dunia, dan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya.
▪ Mereka yang percaya mengetahui bahwa Kristus datang dari Allah Bapa.
▪ Dan iman yg demikian menjadikan orang-orang yang percaya sebagai milik Allah Bapa dan milik Kristus.

--> B. Ay.11-19
▪ Yesus meminta kepada Bapa untuk memberikan kepada para murid-Nya empat hal : kesatuan, ketekunan, suka cita dan kekudusan.
▪ Dan Yesus juga berdoa agar Bapa menjaga mereka dalam nama-Nya

📖 Ay.11 : Agar mereka tetap bersatu.
“Supaya mereka menjadi satu seperti Kita”
Kesatuan yang dimohonkan oleh Yesus ini adalah cerminan dari kesatuan antara ketiga Pribadi dalam Trinitas.
▪ Kesatuan org-org percaya merupakan kerinduan dan doa Tuhan Yesus, olehnya orang percaya harus mendoakan dan mengusahakannya juga.
▪ Kesatuan disini bukan kesatuan dlm organisasi, ttp kesatuan pikiran dan hati dalam Kristus.

📚 Filipi 2:2 TB
karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan

> Terj. Shellabear :
Sempurnakanlah kebahagiaanku dengan hidup sehati sepikir, menaruh kasih yang sama, menjadi satu dalam jiwa dan tujuan.
> TSI (2014) :
Saya mendorong kalian untuk membuat saya semakin bersukacita waktu saya mendengar bahwa kalian hidup seia sekata, dan terus memiliki kasih yang sama antara yang satu dengan yang lain, dan bekerjasama dengan sehati sepikiran.

📖 Ay. 12 :
Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.

📚 Terj. Shellabear 2011 :
Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka di dalam nama-Mu yang telah Engkau serahkan kepada-Ku. Aku pun sudah menjaga mereka. Tak seorang pun dari antara mereka binasa kecuali si anak kebinasaan itu, supaya genaplah apa yang telah tertulis dalam Kitab Suci.

--> Maksud kata "anak kebinasaan" disini di tujukan kpd Yudas Iskariot yg memilih jalannya sendiri krn punya agenda pribadi dlm mengikut Yesus.
▪ Ctt : dlm mengikut Yesus kita tdk boleh memiliki agenda pribadi/terselubung spt Yudas Iskariot

📚 Kata " yang telah ditentukan untuk binasa " (yun) apoleia, bermakna " kecuali anak kebinasaan "

Catatan : sesungguhnya ayat ini pada teks aslinya, tidak terdapat kata "di tentukan/di kodratkan"

▪ Ayat 12 ini merupakan doktrin yg menyatakan bhw org-org yg betul-betul "percaya" tdk mungkin kehilangan keselamatan
--> Kata "percaya" disana memiliki makna "seseorg menyerahkn hidupnya kpd pribadi yg di percayanya (yaitu Kristus) dan mengikuti sgl perintahNya.

Flp. 2:12 :
Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,

📚 TSI3 (2014) :
Karena itu Saudara-saudari yang saya kasihi, sebagaimana kalian selalu taat kepada saya, sekarang saya mendorong kalian untuk berusaha hidup dengan cara yang pantas bagi orang yang sudah diselamatkan oleh Allah, dengan takut dan hormat kepada-Nya. Jangan lakukan itu hanya ketika saya ada bersama kalian, tetapi lebih baik lagi kalau kalian melakukannya pada waktu saya tidak ada.

--> Makna hidup dg cara yg pantas/sewajarnya bg org yg sudah di selamatkan adalah hidup sesuai dengan kebenaran yaitu Firman Allah, yg sama maknanya dg mengerjakn keselamatan hingga mengalami keserupaan spt Kristus.

▪ Sebagai hasil dari persatuan dengan Tuhan dan dari ketekunan, mereka akan mengambil bagian dalam suka cita Kristus (ay.13).
▪ Artinya spy dalam kehidupan ini semakin kita mengenal Allah dan semakin kita dekat dengan-Nya, dan kita semakin bersukacita di dlm Dia.
▪ Dalam kehidupan kekal, suka cita tsb akan menjadi penuh, sebab pengenalan kita akan Tuhan dan kasih kita kepada-Nya akan mencapai puncaknya.

▪ Akhirnya Yesus berdoa untuk mereka yang meskipun hidup di dunia tidak menjadi bagian dari dunia, agar mereka menjadi sungguh kudus dan melaksanakan misi yang dipercayakan kepada mereka, seperti Ia melaksanakan tugas yang dipercayakan Bapa kepada-Nya.

▪ Kemudian kata “Dikuduskan dalam kebenaran” maksudnya adalah dikuduskan dalam Kristus yang adalah Sang Kebenaran yang telah mengorbankan Diri-Nya di kayu salib.
▪ Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri (Ibr 13:12).
▪ Oleh karena itu, setelah kematian Kristus, umat manusia dapat diangkat menjadi anak- anak Allah dan mengambil bagian dalam kehidupan Allah sendiri melalui Baptisan yang memampukan mereka untuk mencapai kekudusan yang kepadanya mereka dipanggil

▪ Jadi Doa Yesus ini membukakan suatu rahasia besar kepada para murid tentang status mereka di mata Allah.
▪ Mereka menjadi murid bukan semata-mata karena keinginan mereka.
▪ Menjadi murid Yesus berarti menjadi milik Allah.
▪ Milik Allah akan mengenal siapa Allah dan Yesus melalui firman yang dikatakan.
▪ Ini merupakan suatu sukacita sekaligus tantangan besar bagi para murid, karena sedikit yang
terpilih dari sekian banyak ciptaan Allah lainnya.
▪ Menjadi milik Allah berarti memahami tugas untuk menjadi utusan Yesus.
▪ Menjadi milik Allah berarti harus hidup kudus sesuai panggilanNya.
▪ Menjadi milik Allah juga berarti menikmati kebahagiaan yang paling
istimewa yaitu mengalami pemeliharaan Allah.
▪ Oleh karena itu, para murid tidak perlu merasa takut meski dunia membenci mereka, termasuk kita yg percaya kpd Nya yg juga adalah murid Kristus.

📖 Bag. 3. Ayat 20-26, kita juga akan kita bagi menjadi 3 sub/bagian

--> A. Ay. 20-23
▪ Kristus berdoa bagi GerejaNya shg suatu saat pasti akan lahir atau akan ada satu Gereja Kristus yang sejati.
▪ Hal kesatuan pasti menjadi hal yang utama.
▪ Dengan berdoa kepada Bapa, “supaya mereka menjadi satu seperti Kita …” (Yoh 17:20-21), disini Yesus menyatakan adanya hubungan paralel antara kesatuan di dalam diri pribadi Allah dengan kesatuan anak- anak Allah di dalam kasih dan kebenaran.
▪ Kesatuan Gereja yg sejati pasti berlandaskan atas kesatuan umat yg beriman kpd Kristus dan melalui Dia dengan Allah Bapa (ay.23).

▪ Buah dari kesatuan Gereja adalah dunia percaya akan Kristus dan atas misi ilahi-Nya (ay. 21-23)
▪ Dan kasih sejati merupakan cerminan kesatuan kasih di dalam Allah Tritunggal.

📖 Ay. 20
▪ Kristus berdoa bagi Gereja-Nya, yaitu untuk mereka yang di sepanjang sejarah manusia akan percaya kepada-Nya melalui pemberitaan para rasul.
▪Misi/amanat ilahi ini yang telah dipercayakan Kristus kepada para rasul ditentukan untuk tetap ada sampai akhir jaman (Mat 28:19-20), sebab Injil yang dipercayakan kepada mereka adalah bagi Gereja yg merupakan pegangan atau prinsip yang berlaku di sepanjang masa.
▪ Untuk alasan inilah para rasul sangat berhati-hati menunjuk para penerusnya.

▪ Jalur apostolik dan dasar dari Gereja adalah sebagai “apostolisitas”
▪ Apostolisitas adalah semua org percaya yang menjadi penerus para rasul, yang memegang kuasa Apostolik dan memberitakan pengajaran yang sama seperti yang diajarkan oleh mereka.

📖 Ay. 21
▪ Kesatuan Anak dan Bapa digambarkan berulang kali dalam Yoh.5:19-26, suatu kesatuan fungsional yang olehnya Anak mengerjakan apa yang dikerjakan Bapa, bahkan menunaikan apa yang ditugaskan Bapa kepadaNya.
▪ Dalam doa syafaatnya, Yesus sang Anak meminta agar kesatuan antara Bapa dan Anak kiranya juga menginspirasi kesatuan umat percaya, sehingga sama seperti Bapa di dalam Anak dan Anak di dalam Bapa, demikian juga kiranya umat-Nya memiliki kesatuan yg intim di antara umat itu sendiri dan dengan sendirinya mereka pun dapat menikmati kesatuan yang intim dengan Bapa dan Anak

▪ Kesatuan org percaya dengan Kristus menghasilkan kesatuan di antara mereka sendiri.
▪ Kesatuan Gereja pada akhirnya menyumbangkan kebaikan kepada umat manusia, sebab dengan kesatuannya, Gereja tampil sebagai "tanda" yang muncul di antara bangsa-bangsa yang mengundang semua orang untuk percaya kepada Kristus yang diutus oleh Allah untuk menyelamatkan semua manusia.
▪ Gereja mengemban misi penyelamatan ini melalui kesatuannya dengan Kristus, memanggil semua umat manusia untuk bergabung dengan Gereja dan dengan demikian mengambil bagian dalam kesatuan antara Kristus dengan Allah.

▪ Setiap orang percaya harus mengusahakan kesatuan seperti yang dinyatakan oleh Yesus dalam doa kepada Allah.
▪ Oleh karena itu, hendaknya kitapun harus berdoa demi kesatuan umat percaya.
📚 Yesus meninggalkan wasiat terakhirnya dengan mendoakan kesatuan Gereja, “…. supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:21)

📖 Ay. 22-23
▪ Yesus memiliki kemuliaan yaitu pernyataan akan keilahian-Nya, sebab Ia adalah Tuhan yang setara dengan Bapa (Yoh 1:1-5).
▪ Ketika Ia mengatakan akan memberikan kemuliaan-Nya kepada para murid-Nya, Ia meyatakan bahwa melalui rahmat Allah, Ia membuat kita sebagai pengambil bagian dalam hidup Ilahi (2 Pet 1:4).
📚 Kemuliaan dan pembenaran oleh rahmat Tuhan sangatlah erat bersatu, “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya.
Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya” (Rom 8:30).
📚 Rahmat inilah yang bekerja dalam umat percaya untuk menjadikan mereka semakin serupa dengan Kristus yang serupa dengan Allah Bapa (2 Kor 4:4; Ibr 1:2-3).

--> B. Ay. 24
▪ Yesus menutup doa-Nya dengan memohon agar semua umat percaya mencapai Kerajaan Surga, Ia berkata : Ya Bapa, “Aku mau supaya….”
▪ Dikatakan bukan sekedar bahwa Ia berdoa "supaya," tetapi "mau supaya"
▪ Kata ini menunjuk kpd kehendak Yesus yang kuat untuk menghantar semua yang percaya kepada-Nya dapat mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya.
▪ Di dunia kita mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi melalui iman dan kasih, namun di Surga kita akan mencapai kepenuhan hidup ilahi, di mana kita memandang Tuhan sebagaimana Dia adanya (1 Yoh 3:2) berhadapan muka dengan muka (1 Kor 13:9-12).
▪ Dengan demikian Gereja memunyai pandangan tertuju hanya kepada kehidupan yg kekal.

--> C. Ay. 25-26
▪ Pewahyuan Allah tentang Diri-Nya melalui Kristus menyebabkan kita mulai mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi yang mencapai puncaknya di Surga.
▪ Kristus telah menyatakan kepada kita semua yang perlu kita ketahui agar kita dapat mengambil bagian dalam kasih yang timbal balik di dalam Allah tri tunggal, terutama misteri tentang siapa diri-Nya dan misi-Nya.
📚 Yesus berkata, “….tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat 11:27).
📚 Kristus terus menyatakan kasih Allah Bapa, melalui Gereja-Nya, yang di dalamnya Ia selalu hadir, dan berjanji “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20)

Sumber : Dari Banyak Sumber

BERANI KARENA PERCAYA KRISTUS (Konteks Paulus dan Barnabas di Ikonium -- Kisah Para Rasul 14:1-7)

 



 BERANI KARENA PERCAYA KRISTUS
(Konteks Paulus dan Barnabas di Ikonium -- Kisah Para Rasul 14:1-7)

Oleh : Pdt. Erwan

📚 Kisah Para Rasul 14:1-7
14:1 Di Ikoniumpun kedua rasul itu masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya.
14:2 Tetapi orang-orang Yahudi, yang menolak pemberitaan mereka, memanaskan hati orang-orang yang tidak mengenal Allah dan membuat mereka gusar terhadap saudara-saudara itu.
14:3 Paulus dan Barnabas tinggal beberapa waktu lamanya di situ. Mereka mengajar dengan berani, karena mereka percaya kepada Tuhan. Dan Tuhan menguatkan berita tentang kasih karunia-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat.
14:4 Tetapi orang banyak di kota itu terbelah menjadi dua: ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada kedua rasul itu.
14:5 Maka mulailah orang-orang yang tidak mengenal Allah dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka menimbulkan suatu gerakan untuk menyiksa dan melempari kedua rasul itu dengan batu.
14:6 Setelah rasul-rasul itu mengetahuinya, menyingkirlah mereka ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya.
14:7 Di situ mereka memberitakan Injil.

📋 Kisah Para Rasul 14:1-7, menjelaskan kesukaran yang Paulus dan Barnabas alami pada saat mereka melanjutkan pemberitaan Injil di Kota Ikonium

● PENDAHULUAN/LATAR BELAKANG

▪ Pada surat Kis.13:51 tercatat disana bahwa di Antiokhia di Pisidia (Kis. 13:14) Paulus dan Barnabas mengebaskan debu dari kaki mereka dan pergi menuju Ikonium.
---> Catatan : Antiokhia yang dimaksud ini adalah Antiokhia di Pisidia, bukan Antiokhia di Siria.
▪ Paulus dan Barnabas mengebaskan debu kaki mereka, di latarbelakangi krn pada saat mereka membertakan injil ada orang-orang Yahudi yang menolak mereka, bahkan mereka menghasut perempuan-perempuan terkemuka dan pembesar-pembesar di kota tsb untuk menganiaya dan mengusir mereka.
▪ Dengan keadaan seperti itu, maka Paulus dan Barnabas segera meninggalkan Antiokhia di Pisidia dengan mengebaskan debu kaki mereka lalu pergi ke Ikonium.
---> Catatan : Paulus dan Barnabas tidak secara licik melarikan diri dari Antiokhia, tetapi mereka menyingkir dan melanjutkan perjalanan mereka dlm rangka pemberitaan injil.
▪ Jadi kota Ikoniumlah yang menjadi sasaran pemberitaan injil Paulus dan Barnabas selanjutnya.

📋 Sekilas tentang Kota Ikonium
▪ Kota Ikonium sekarang adalah Kota Konya (Konia) di Turki.
▪ Pada abad pertama Masehi, Ikonium merupakan salah satu kota utama di Galatia, dibawah kekuasaan provinsi Romawi, dan terletak di jalur perdagangan utama dari Efesus ke Siria.
▪ Kota ini memiliki komunitas Yahudi yang sangat berpengaruh.
▪ Setelah terpaksa meninggalkan Antiokhia Pisidia, Paulus dan Barnabas mengabar injil di kota Ikonium dan sinagoganya, dan di sana mereka membuat banyak orang Yahudi dan Yunani menjadi percaya pada Kristus -- (Kis.14:1)
▪ Sbg dampak dari pertobatan mereka, maka terjadi perpecahan di dalam sinagoge orang-orang Yahudi, dan hal tsb menyebar sampai ke seluruh penjuru kota, bahkan juga keluarga terpecah menjadi dua golongan.
▪ Golongan yg pertama berpihak kepada orang-orang Yahudi dan kepentingan perdagangan mereka, dan juga harapan untuk menjaga ketenangan kota.
Mereka membenci doktrin yang baru, dan siap untuk mengusir Paulus, bersama dengan yang mereka anggap sebagai penghasut.
▪ Golongan kedua adalah mereka yg percaya, yg merasakan kuasa Kristus, karena perbuatan dan perkataan para rasul memancar bagaikan terang yang bersinar di tengah kegelapan.
-- Mereka berharap untuk menerima kemenangan-Nya, dan berdoa meminta kehadiran berkat Allah. -- Mereka ingin ada kebangunan dan pertumbuhan rohani di kota mereka.
▪ Akan tetapi, pengajaran yang baru dari Paulus dan Barnabas bertabrakan dengan tradisi yang lama.
-- Mereka yang kolot tidak tahu bagaimana mengatasi mereka yang memiliki keinginan agar kasih Allah dinyatakan.
▪ Ketika orang-orang Yahudi tidak bisa mengatasi Paulus dan Barnabas dalam hal rohani, mereka bersekongkol dengan para pemimpin dan orang-orang terhormat di kota itu untuk menganiaya kedua rasul itu dan hendak merajam mereka.
▪ Demi didengar Paulus dan Barnabas rcn persekongkolan mereka, akhirnya merekapun segera menyingkir dari Ikonium ke Listra, Derbe dan daerah sekitarnya -- (Kis.13:6)
▪ Disitupun mereka tetap memberitakan injil -- (Kis.13:50, 51; 14:1-7)

📋 Jadi setelah tiba di Ikonium, mereka mengajarkan kabar baik Injil keselamatan, seperti yg mereka lakukan di Antiokhia Pisidia.
▪ Paulus dan Barnabas dengan berani mengajar di sinagoge/rumah-rumah ibadat orang Yahudi, sehingga banyak orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya, dan Tuhan menguatkan apa yang mereka beritakan dan kepada mereka Tuhan juga mengaruniakan kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat (berdasarkan Kis. 14:1-3)

📋 Kisah 14:3, berkata :
Paulus dan Barnabas tinggal beberapa waktu lamanya di situ. Mereka mengajar dengan berani, karena mereka percaya kepada Tuhan. Dan Tuhan menguatkan berita tentang kasih karunia-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat.

📚 Kalimat "Mereka mengajar dengan berani, ..
▪ Pada ayat ini dipakai kata (yunani) parrhesiazomai, berasal dari kata "parrésia" ; yang berarti : (berani) jujur dlm ucapan, percaya diri dalam semangat dan sikap ; menjadi berani, berkhotbah/berbicara berani

📋 Jadi frasa yang berkata "Mereka mengajar dengan berani, karena mereka percaya kepada Tuhan," tersebut mengandung pengertian bahwa mereka sangat memahami bahwa Tuhan jaminan hidup mereka, sehingga mereka tdk takut dan tdk meragukan Tuhan sedikitpun
--> Dengan kata lain, Tuhan menyempurnakan dan meneguhkan keberanian mereka, sehingga mereka memiliki kepercayaan penuh kepada Tuhan.

📚 Kata "kepercayaan" dalam bahasa Yunani adalah : πεποιθότας ; pepoithotas berasal dari kata : πείθω ; peithó (pi'-tho), yang berarti telah menjadi yakin, meyakinkan, menaati.
▪ Reff : Filipi 1:14 ... telah beroleh "kepercayaan" (πεποιθότας ; pepoithotas) ...

📚 Makna sederhana dari kata "percaya" disini adalah :
"Mereja menaruh kepercayaan mereka kepada Tuhan, karena itu mereka berani memberitakan Injil dengan tidak takut."
▪ Ref :
~ Daniel 3:1-30 : "Perapian yg menyala-nyala" ---> Sadrakh, Mesakh, Abednego
~ Daniel 6:1-28 : "Gua Singa" ---> Kisah Daniel
~ 1 Raj. 17 : "Kisah Elia"

---> Jadi kepercayaan yang penuh kepada Tuhan memberikan keberanian untuk menyampaikan kebenaran kabar baik, perintah atau pesan Tuhan (seperti tokoh-tokoh Alkitab di atas)

📋 Ayat 3b ... Dan Tuhan "menguatkan" berita tentang kasih karunia-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat (LAI)

📚 BIS  : ... Maka Tuhan pun "membuktikan" bahwa berita mereka tentang kasih-Nya itu benar ; Ia memberikan kepada mereka kuasa untuk melakukan keajaiban-keajaiban dan hal-hal luar biasa.

📚 AVB : ... Tuhan pun "menunjukkan kebenaran kata-kata mereka" tentang kasih kurnia-Nya dengan memberi mereka kuasa melakukan pelbagai tanda dan mukjizat.

📚 Makna yg tersirat dari ayat diatas ialah Tuhan meneguhkan/membuktikan/menunjukan dg memberikan kuasa/otoritas untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat atas pemberitaan Injil/kabar baik yang Paulus dan Barnabas ajarkan dengan berani, dan hasilnya ialah penuaian jiwa-jiwa.
▪ Ref :
Markus 16:17 ---> Tanda-tanda ini akan "menyertai" orang-orang yang percaya, ....dalam memberitakan kabar kebenaran atau injil keselamatan (Markus 16:15).

● KESIMPULAN
▪ Paulus dan Barnabas sangat menghargai kesempatan Tuhan memakai mereka dan bahkan hal tsb mereka jadikan kesukaan, sekalipun mereka harus mengalami banyak aniaya, penderitaan, kesusahan, bahkan kematian sekalipun.
▪ Dalam keadaan seperti itu mereka tetap setia mengerjakan pemberitaan injil keselamatan, karena mereka percaya kepada Tuhan yang menyertai, memampukan dan meneguhkan pelayanan mereka.

📋 Seperti yang tertulis pada surat Filipi 4:13 “segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”





KEBERADAAN DAN AKTIVITAS YESUS SAAT BERUSIA 12–30 TAHUN (Periode 18 tahun yang tidak tercatat pada Alkitab)


KEBERADAAN DAN AKTIVITAS YESUS SAAT BERUSIA 12–30 TAHUN

(Periode 18 tahun yang tidak tercatat pada Alkitab)

Oleh : Pdt. Erwan

▪ Orang tua Yesus (Yusuf dan Maria) berasal dari keturunan Yahudi asli yg taat kepada hukum taurat Musa dan kuat memegang aturan serta adat istiadat bangsanya, dengan demikian maka dengan pasti Yesus dibesarkan dengan ketentuan hukum taurat dan adat istiadat Yahudi yg kuat.
▪ Eksistensi Yesus sebagai manusia pertama kali dicatat ketika malaikat Gabriel datang kepada Maria dan mengatakan bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus (Matius 1:18-20; Lukas 1:26-35).
▪ Sebelum berinkarnasi menjadi manusia, Ia adalah Firman Allah yang maha kuasa, Allah itu sendiri (Yohanes 1:1-14).

● Penampakan pertama atau kelahiran Yesus ke dalam dunia tercatat dengan jelas di Alkitab.
▪ Kitab Matius mencatat bahwa Ia dilahirkan di kota Betlehem yang berada di wilayah Yudea, suatu wilayah yang berada dibawah pemerintahan raja Herodes (Matius 2:1).
▪ Wilayah Yudea sebagai bagian dari tanah Palestina pada masa tersebut sedang berada dalam penjajahan kerajaan Romawi.

● Penampakan kedua dari Yesus, adalah saat ia berusia delapan hari dan dibawa oleh Yusuf dan Maria untuk disunat menurut hukum Taurat.
📚 “Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” (Lukas 2:21).
📚 Dasar dari pelaksanaan sunat berasal dari perintah Tuhan kepada Abraham, bahwa:
“Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.” (Kejadian 17:12).

📚 Setelah genap waktu pentahiran, yaitu 40 hari setelah Maria melahirkan Yesus (Imamat 12:1-4) maka menurut hukum Taurat Musa, Yusuf dan Maria membawa Yesus ke Bait Allah di Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Allah, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan:
“Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah” dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati (Lukas 2:22-24).
▪ Penyerahan kepada Allah ini disaksikan oleh Simeon dan Hanna.
▪ Kemudian dalam tradisi Kristen, penyerahan seorang anak kepada Allah disebut sebagai “Penyerahan Anak”.

▪ Yesus berusia empat puluh hari saat “diserahkan” kepada Allah sesuai dengan hukum Taurat. 📚📚 Alkitab kemudian menulis, “Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya”. (Lukas 2:39-40).

● Penampakan ketiga adalah ketika Yesus berusia 12 tahun. Injil Lukas 2:42 menulis, “Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu.” Dari uraian ayat-ayat di atas, kelihatan bahwa Yesus selama ini, yaitu sejak kelahirannya hingga berusia 12 tahun selalu berada bersama orang tuanya di kota Nazareth yang berada di wilayah Galilea.

● Penampakan keempat menurut catatan Injil Lukas adalah, ketika Yesus berusia 30 tahun (Lukas 3:23).
▪ Pada usia inilah ia dibaptis oleh Yohanes pembaptis di sungai Yordan dan memulai pelayanan-Nya yang penuh dengan kuasa dan mujizat.
▪ Ia melayani selama kira-kira tiga tahun dan kemudian disalibkan, mati dan bangkit serta naik ke Surga untuk menyediakan tempat bagi orang-orang yang mempercayai-Nya (Yoh 3:16; Yoh 14:1-3).


■ Berdasarkan fakta Alkitab dapat dilihat bahwa ada rentang waktu yang cukup panjang yaitu antara usia 12 – 30 tahun, dimana tidak ada penampakan atau aktivitas Yesus yang tercatat.

▪ Rentang waktu inilah yang kemudian dijadikan bahan “kontroversi” oleh sejumlah penulis.
▪ Akan tetapi apabila seseorang memahami dengan baik mengenai budaya Yahudi, yaitu budaya dimana Yesus lahir dan dibesarkan, maka rentang waktu tersebut bukanlah sesuatu yang aneh dan kontroversi.

▪ Menurut tradisi Yahudi, seseorang dianggap dewasa, matang, cukup umur untuk mengajar adalah saat berusia 30 tahun.
▪ Inilah usia dimana seseorang mulai “diakui” sebagai guru (rabbi) oleh lingkungan masyarakat Yahudi.
▪ Yesus yang lahir dan besar dalam budaya tersebut mengetahui hal itu dengan pasti.
▪ Itulah mengapa, ia mulai muncul dan mengajar ketika berusia 30 tahun.

▪ Kitab-kitab Injil yang ditulis dalam budaya Yahudi juga merefleksikan hal yang sama.
▪ Para penulisnya tidak mengganggap perlu untuk menulis kisah hidup Yesus sebelum usia 30 tahun maupun keseluruhan aktivitasnya selama tiga tahun mengajar dan melakukan mujizat karena: “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu”. (Yohanes 21:25).

▪ Jadi para penulis Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes) hanya memilih untuk menulis kisah, ajaran maupun segala sesuatu yang berhubungan dengan tujuan utama kedatangan Yesus ke dalam dunia, yaitu untuk menjadi Juru Selamat yang menebus dosa manusia.
Bahwa Yesus Kristus adalah Mesias yang dijanjikan Allah, Anak Allah, Raja yang Kekal, Penasehat Ajaib dan hanya dalam nama-Nya saja ada keselamatan atas semua manusia (Kis. 4:12).

■ TRADISI/BUDAYA PENDIDIKAN ANAK YAHUDI

📋 Tahapan usia seorang anak menurut Hukum Tradisi Yahudi digolongkan dalam 8 tahapan :
▪ Tahap pertama adalah Yeled (usia bayi)
▪ Kedua Yonek (usia menyusu)
▪ Ketiga Olel (lebih tua lagi dari menyusu)
▪ Keempat Gemul (usia disapih)
▪ Kelima Taph (usia mulai berjalan)
▪ Keenam Ulem (anak-anak)
▪ Ketujuh Na’ar (mulai tumbuh remaja)
▪ Kedelapan Bahar (usia remaja)

📋 Dari catatan tentang kehidupan Yesus dalam Injil, kita hanya membaca 4 klasifikasi usia saja yang ditulis, yaitu bayi (yeled) pada saat lahir di Betlehem, usia menyusu (yonek) saat berumur 8 hari, disapih (gemul) ketika diserahkan/dikuduskan di bait suci, dan remaja (bahar) saat berusia 12 tahun ketika diajak Yusuf dan Maria ke Yerusalem.

📋 Yesus diceritakan kehadiran-Nya di Bait Allah di Yerusalem pada saat Ia berusia 12 tahun.
Usia dua belas tahun bagi tradisi Yahudi zaman pada Yesus sangat penting.
Menurut legenda Yahudi, pada usia 12 tahun :
~ Nabi Musa meninggalkan rumah putri Firaun
~ Samuel menerima suara yang berisi visi Tuhan
~ Salomo mulai menerima Hikmat Allah
~ Raja Yosia menerima visi reformasi agung di Yerusalem

Pada usia 12 tahun, seorang anak laki-laki Yahudi harus melakukan upacara yang disebut :
Bar Mitzvah (Ibrani: בַּר מִצְוָה , harfiah: Putera/Anak Hukum) dan Bat Mitzvah (Ibrani: בַּת מִצְוָה - harfiah: putri/ anak Hukum)
Upacara ini merupakan ritual Yahudi yang ditujukan kepada anak-anak yang menginjak usia remaja yg harus mulai bertanggung jawab secara penuh atas segala perbuatannya di hadapan Tuhan.

Dalam rangkaian ritual Yahudi itu, Yesus harus melakukan ‘Aaliyah (naik) dan Bemah (menghadap mimbar untuk menerima kuk hukum Taurat), dalam pengertian memulai Masa belajar Agama di Bait Allah atau Baitullah
Upacara ini dilakukan pada hari Sabat, karena itu disebut juga thepilin Shabat.
Disinilah tahapan yg disebut Aaliyah di mulai, dimana Yesus Akan berada di rumah ibadah (selaras dg Lukas 2:49 bahwa Dia harus berada di rumah Bapa Nya) untuk belajar lebih intens.

Sejak abad Pertengahan, usia Bar Mitzvah dilakukan pada usia 13 tahun.
Menurut literatur Yahudi abad pertengahan, Sepher Gilgulim, semua anak Yahudi sejak usia 12 tahun, mulai menerima ruach (roh hikmat) dan pada usia 20 tahun ditambahkan baginya nishama (reasonable soul, “jiwa akali”)
Mulai usia 20 tahun seseorang harus memasuki sekolah khusus Yahudi (Beyt Midrash)

📋 Tahapan pendidikan menurut tradisi Yahudi - חִנּוּךְ - KHINUKH adalah sebagai berikut:
▪ Miq'ra = membaca taurat tertulis/10 hukum, dimulai usia 5 tahun.
▪ Mish'na = membaca catatan tulisan dari Hukum Lisan Taurat dari orang-orang Yahudi dari generasi ke generasi, mulai umur 10 tahun
▪ Talmud = mempelajari hukum Yahudi, etika, filsafat, kebudayan, dan sejarah, hal ini dimulai pada usia 13 tahun (zaman Yesus 12 tahun) berlangsung sampai berusia 19 tahun.
(di Indonesia jenjang SMP--SMA)
▪ Midrash = mempelajari ilmu tafsir kitab suci dan cara mengajar, pada usia 20 tahun selama 10 tahun (Selevel Sekolah Tinggi Teologia S1. S2. S3) dg kata lain Sekolah khusus
▪ Kemudian di usia 25 tahun, melakukan apprentice atau magang di rumah ibadah sebagai guru Taurat
▪ Di usia 30 tahun baru boleh memulai pelayanan yaitu mengajar didepan umum, di Sinagoge, khususnya di bait suci dan layak dipanggil guru/rabbi sesuai gelar dan jabatannya.

▪ Reff :
📚 Likas 4:17-21 : Pelayanan keagamaan Yesus dimulai pada usia 30 tahun
📚 Lukas 3:23 : Yesus memulai pekerjaanNya ketika Ia berumur 30 tahun
📚 Sebagai anak org Yahudi, yang berada dibawah tuntutan hukum Taurat (Galatia4:4), Ia harus menuruti segala tuntutan hukum Taurat tersebut.
📚 Menurut Bilangan 4:3,35,39,43,47 bahwa yang boleh melayani dalam Kemah Pertemuan menurut hukum Taurat Musa harus yang berumur 30 s/d 50 tahun

▪Catatan :
Jenjang pendidikan Imam Yahudi (midrash) adalah 10 tahun dari usia 20 - 30 tahun.
Hal tsb saat ini telah menjadi model yg digunakan oleh byk organisasi gereja/Sinode.
Misal :
~ Dari pelayan umum (Diaken) ke Pdp (pendeta pembantu) ----> 2 tahun
~ Dari Pdp ke Pdm (pendeta muda) ----> 4 tahun
~ Dari Pdm ke Pdt (pendeta penuh/otonom) ----> 4 tahun
Total waktu yg di tempuh 10 tahun.

📋 Jadi Sebagai seorang anak yahudi, Yesus menempuh semua proses pendidikan Yahudi tersebut.
▪ Ia menempuh pendidikan seperti halnya anak-anak Yahudi lainnya.
▪ Diluar waktu sekolah, ia membantu orang tuanya untuk membuat perkakas dari kayu.

📚 Alkitab mencatat: “Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka, maka takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?” (Matius 13:54-55).

Apalagi Alkitab juga mengisahkan bahwa tampaknya Yusuf meninggal lebih dahulu daripada Maria. Maka sesuai dengan tradisi Yahudi, sebagai anak sulung, secara sosial ekonomi Yesus harus menjadi tulang punggung kehidupan keluarga untuk membantu Maria ibu-Nya.
Jadi hari-hari kehidupan Yesus, diisi dengan studi dan membantu ekonomi keluarga-Nya.

 ■ KESIMPULAN

▪ Dari tahapan-tahapan pendidikan Yahudi pada zaman Yesus, latar belakang agama, budaya dan sosial ekonomi tersebut, dapat memberi pemahaman tentang keberadaan dan aktivitas Yesus selama 18 tahun atau sejak Ia berusia 12--30 tahun kehidupan-Nya yang tidak tercatat pada Alkitab.
▪ Berdasarkan analisa yang sudah dipaparkan, bahwa selama 18 tahun tersebut, atau saat berusia antara 12 -- 30 tahun, Yesus tinggal bersama keluarganya di Nazareth.
▪ Ia menempuh pendidikan seperti layaknya anak-anak Yahudi dan juga membantu orang tuanya sebagai tukang kayu (carpenter).
▪ Kisah kehidupan Yesus baru dicatat secara detail setelah usia 30 tahun, karena dalam tradisi Israel (Yahudi), pada usia inilah seseorang “dianggap” matang untuk mengajar dan berkotbah.

▪ Demikianlah penjelasan keberadaan dan aktivitas Yesus pada usia 12 sd 30 Tahun

📋 Sumber/referensi :
~ Alkitab
~ Elizabeth Clare Prophet, Tahun-Tahun Yesus Yang Hilang, Bina Communio, 2003
~ Swami Abhedananda, Swami Abhedananda’s Journey into Kashmir and Tibet. Trans. Ansupati Dasgupta and Kunja Bihari Kundu. Calcutta: Ramakrishna Vedanta Math, 1987.
~ Sarapa Pagi Biblika
~ David H. Stern, Jewish New Testament Commentary (Maryland, USA: Jewish New Testament Publications, Inc. 1995)
~ Hayyim Halevy Donin, To Be A Jew. A Guide to Jewish Observance in Contemporary Life (Tel Aviv: Basic Book, 1991).

















KETAATAN DAN KESETIAAN KRISTUS MENJADI TELADAN BAGI ORANG PERCAYA - Eksposisi (Konteks Filipi 2:5-11)

 


KETAATAN DAN KESETIAAN KRISTUS MENJADI TELADAN BAGI ORANG PERCAYA - Eksposisi
(Konteks Filipi 2:5-11)

Disusun : Pdt. Erwan

2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 
2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 
2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 
2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 
2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 
2:11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

● PENDAHULUAN
📋 Setelah kita membaca ayat-ayat di atas (Flp.2:5-11), maka dapat kita bagi menjadi 3 bagian :
▪ 1. Filipi 2:5, “perintah agar mengikuti teladan Kristus Yesus"
▪ 2. Filipi 2:6-8, “pengosongan diri Yesus"
▪ 3. Filipi 2:9-11, “hasil dari pengosongan diri Kristus Yesus.

~> Dari hasil pembacaan tsb, maka kita dapat simpulkan menjadi sebuah pokok bahasan yaitu : “Ketaatan dan Kesetiaan Kristus yg Harus Menjadi Teladan Bagi Setiap Orang Percaya”

● Pada ayat 5, Paulus menekankan bahwa “Hidup orang percaya harus mengenakan pikiran dan perasaan yg sesuai dengan Kristus”.
📚 Pada teks Yunani/asli ayat ini tertulis : "Pikirkanlah ini dalam diri kamu yang ada juga dalam di dalam Kristus Yesus"

📋 Ayat ini muncul di latarbelakangi karena di jemaat Filipi sedang timbul benih-benih perpecahan, (baca Filipi 2:1-4; 3:2-4 ; 4:2).
▪ Penjelasan :
~ Masalah dari dalam bisa timbul karena adanya sikap egois dari sebagian anggota jemaat Filipi, yaitu kelompok Yahudi-Kristen yang masih menekankan sunat dan Taurat, serta dengan kelompok Libertinis yang serba ingin bebas, tanpa perlu ikut aturan.
~ Sementara masalah dari luar tampaknya berkaitan dengan kelompok Yahudi non-Kristen dan kelompok Gnostik yang juga mulai tumbuh pada waktu itu (bdk. Flp 3:2-4).
~ Dalam hal ini, lawan yang dihadapi jemaat Filipi adalah orang Kristen Yahudi dan guru-guru palsu, termasuk para penginjil gnostik Kristen.
~ Persoalan lain yang dihadapi jemaat Filipi adalah pergulatan untuk tetap memiliki ciri khas sebagai orang Kristen yang berbeda dengan masyarakat Roma kecil tsb.
~ Di tengah masyarakat Filipi berkembang budaya cursus honorum, yaitu mengukur kehormatan melalui meningkatnya status sosial dan kedudukan seseorang di tengah masyarakat karena prestasi yang dilakukannya serta karena pengakuan yang berasal dari pemerintah.
~ Dengan demikian, orang berlomba-lomba untuk lebih unggul dibandingkan yang lain supaya dihormati dan dipandang oleh sesamanya.
~ Budaya semacam ini pun ternyata mulai terindikasi muncul di kalangan jemaat Filipi dengan menganggap diri mereka lebih utama (hebat) dibandingkan yang lain dan mereka lebih memperhatikan kepentingan diri sendiri dibandingkan kepentingan sesamanya.
~ Untuk alasan inilah, Paulus mengingatkan mereka dengan mengutip (Flp 2:6-11) yakni untuk meneladani Kristus yang justru melakukan hal sebaliknya, menurunkan status dan kedudukan-Nya demi kebaikan dan kepentingan banyak orang.
~ Gambaran semacam ini juga dimaksudkan Paulus untuk mendorong jemaat Filipi yang memiliki kedudukan dan status terhormat di tengah masyarakat untuk menggunakannya bukan untuk mencari kemuliaan pribadi, tetapi bersedia merendahkan diri untuk melayani yang lain.

▪ Dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa masalah jemaat Filipi adalah masalah dipikiran mereka yg tdk sesuai dg pikiran Kristus.
▪ Artinya, dengan adanya benih perpecahan diantara jemaat, membuktikan bahwa jemaat Filipi belum hidup mengikuti teladan Kristus.
▪ Disini Paulus hendak menekankan bahwa bukanlah “sekedar contoh hidup” yang diberikan oleh Kristus, tetapi “tata cara hidup” yang harus ditaati dan dituruti oleh jemaat Filipi.
▪ Dalam hal ini, Paulus menunjukkan kepada “Phroneite” (pikiran dan perasaan) yang terdapat dalam Kristus Yesus.
▪ Paulus meminta kepada mereka, supaya “Phroneite” itu juga harus ada pada mereka.
▪ Yang Paulus kehendaki dari mereka adalah mereka hidup bukan untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk Tuhan dan juga untuk sesama mereka, sesuai dengan pola hidup Kristus.

📋 Makna memiliki pikiran dan perasaan seperti Yesus.
▪ Maksudnya adalah sama seperti Yesus mempunyai pikiran dan perasaan yang sama seperti Bapa-Nya
▪ Reff :
~ Ibrani 1:3 “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah”, ..
~ Yoh.10:30 Tuhan Yesus berkata, “Aku dan Bapa adalah satu
~ Yoh.14:9 ... Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; ...)
~ Kolose 1:15 :
- TB : Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, ...
- TL : ... dan Ialah yang menjadi bayang Allah yang tiada kelihatan itu, ...
- BIS: Kristus adalah gambar yang nyata dari diri Allah yang tidak kelihatan, ...
- TSI: Kristus Yesus mencerminkan semua sifat Allah ....

▪ Dengan demikian, untuk menjadi seperti Yesus terlebih dulu seorang hamba harus mempunyai atau mengenakan pikiran dan perasaan yang sama seperti Yesus.
~> Metanoia/Perubahan pikiran dan perasaan ke arah Kristus

📚 Pada Alkitab Penuntun “Hidup Berkelimpahan” (The Full Life Study Bible), di ayat 5 di jelaskan : ▪ Kalimat “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama…” menjelaskan bahwa Paulus menitikberatkan bagaimana Yesus meninggalkan kemuliaan yang tiada taranya di sorga dan mengambil kedudukan yang hina sebagai hamba.

📚 Berdasarkan (KBBI) Kamus Besar Bahasa Indonesia, hamba adalah abdi, budak belia, dimana ia harus merendahkan dirinya.
▪ Penghambaan adalah hal untuk menjadi hamba, dan memperlakukan dirinya layak sebagai budak.

📚 Dalam Kamus Theologia, kata hamba merupakan servant, slave, yang berarti budak tetapi mempunyai makna yang sangat berbeda.
Kata "Slave" berarti "mengorbankan diri untuk melayani."


● Ayat 6, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,"

📋 Pada ayat ini, Paulus hendak mengatakan bahwa sekalipun Kristus sewujud dengan Allah, Ia tidak menganggap kesamaan atau kesetaraan itu sebagai sesuatu atau milik yang harus dipertahankan.
▪ Dengan kata lain Ia tidak memakai kebesaran dan kemuliaan-Nya untuk kepentingan-Nya sendiri.


● Ayat 7, "melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”
📚 KJV : “But made himself of no reputation, and took upon him the form of a servant, and
was made in the likeness of men.”

📋 Paulus hendak menggambarkan dari dua tindakan berturut-turut Kristus di dalam ke-hambaan-Nya. Tindakan pertama dijelaskan oleh kata kerja “mengosongkan diri”.
▪ Kata kerja“ἐκένωσεν”(kenoo) dan dilanjutkan “εαυτου” (heautou) secara harfiah berarti “dia mengosongkan dirinya sendiri.

▪KJV menerjemahkan “ἐκένωσεν” “reputation”artinya nama baik/reputasi, nama.
▪NIV menerjemahkan “nothing” artinya tidak ada apa-apa.

📋 Hal ini menjelaskan secara harafiah dari bahasa Yunani (heauton ekenosen) berarti: “Kristus telah mengosongkan diri-Nya, Ia menyerahkan semua hak, kehormatan, dan hak istimewa ilahiNya.

▪ Dan pada bagian ini, kita bisa mendapatkan beberapa penjelasan ayat 5-7 yaitu, Kristus merupakan teladan yg sempurna dalam sikap kerendahan hati-Nya.
▪ Sikap keteladanan itulah yang membawa setiap manusia menuju kepada kehidupan Kristen yang berkualitas tinggi
▪ Sikap kerendahan hati yang menjadi sebuah keteladanan Kristus adalah:
~ Kristus melepaskan segala hak istimewa dan kemuliaan-Nya di sorga sebagai suatu karya penyelamatan.
~ Kristus mengosongkan diri-Nya atau merendahkan diri-Nya serendah-rendahnya.

📚 Kata "mengosongkan" pada ayat ini di pakai kata (yun) ἐκένωσεν ; (ekenōsen) berasal dari kata (yun) κενοω - Kenoô
▪ Mengosongkan diri (kenoo) memiliki makna : mengosongkan, menghapuskan, meniadakan, menganggap tak berguna

📋 Kristus mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.
📚 Kata "hamba" (yun) δούλου ; doulos berbentuk genitive singular masculine yg artinya "menjadi hamba."

▪ Ungkapan pengambilan rupa hamba adalah keterangan dari ungkapan “pengosongan diri sendiri” dan “pengambilan rupa seorang hamba”, itu sama artinya dengan Allah telah menjadi manusia, artinya dalam segala hal kecuali dosa.
▪ Catatan : Sebagai hamba disini bukan berarti Yesus Kristus kehilangan keilahian-Nya.

📚 Kalimat "menjadi manusia" (yun) ἀνθρώπων γενόμενος· ; “Antropon genomenos” 
▪ Kata "genomenos" pada ayat ini berbentuk, nominative singular, maskulin, partisip aorist dari kata genomai yang artinya : ada, menjadi, jadi, mencipta, lahir, berubah, datang, tinggal, berada, adalah, terjadi, dibuat, dilaksanakan, mempunyai, menerima.
~> Yesus menurunkan levelnya yg sangat jauh, dari setara dg Allah menjadi manusia

● Ayat 8, "Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib."

📚 Kata "Ia telah merendahkan diri-Nya" (yun) etapeinōsen heauton, memiliki pengertian bahwa Yesus turun ke bawah, Ia merendahkan diri-Nya dan bukan direndahkan.
▪ Artinya, Ia tidak diminta, apalagi dipaksa untuk berbuat demikian.
▪ Dengan kata lain Ia merendahkan diri oleh kemauan-Nya sendiri.

📚 Kemudian kalimat, “...dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”
▪ Kata taat (yun) “υπηκοος” (hupekoos), artinya patuh, taat.
▪ Taat di sini diikuti particle “μεχρι” (mechri) atau “μεχρις” (mechris) “sampai” dan ikuti kata benda “θανατος” (thanatos) death, kematian di kayu salib.

▪ Artinya Kristus menunjukkan tingkat ketaatan-Nya, yaitu sampai kematian-Nya di kayu salib. Mati di kayu salib menekankan sifat yg sangat memalukan dan sangat menderita.
▪ Keteladanan hidup Kristus dalam ketaatan merupakan teladan tertinggi.
▪ Jadi Tuhan Yesus taat/patuh kepada kehendak Bapa hingga mati di kayu salib, sekalipun Yesus Kristus sendiri tahu bahwa ketaatan tersebut sangat menyakitkan.

▪Catatan : Disinilah bentuk Kesetiaan Yesus yg diwujudkan melalui KetaatanNya
Reff : Matius 26:39 ... ”Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”


● Ayat 9, "Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, ..."

📚 Kata "sangat meninggikan" (yun) ὑπερύψωσεν ; uperupsōsen berasal dari 2 kata yaitu :
kata "hyper" dan "hypsoun" 
▪ Kata ini merupakan penegasan yg menunjuk kepada segala kekuasaan, kebesaran, kemuliaan, keagungan yang diberikan Allah kepada Kristus.


● Ayat 10, Supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.

📚 Pada ayat ini dipakai Kata Yunani "en tôi onomati" yang berarti “dalam nama,“ bukan kata eis to onoma (ke dalam nama) dan bukan juga "epi toi onomati" (demi atau atas nama).
▪ Dalam nama memiliki pengertian : dikurung, dikelilingi, dan dikuasai orang yang empunya nama itu. 
▪ Kata "dalam nama" (yun) en tôi onomati, merupakan suatu ungkapan untuk penghormatan yang paling tinggi dan luhur.

● Ayat 11, ... dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

📚 Kata "mengaku" (yun) ἐξομολογήσηται ; exomologēsētai berasal dari kata (yun) homologeo yang memiliki pengertian memproklamirkan, mengakui dengan keras, mengumumkan dg lantang, tegas dan secara terang-terangan/berterus terang
▪ Reff ayat yg memakai kata homologeo :
~ Matius 7:23 ...berterus terang (homologeo)


● KESIMPULAN

▪ Ketaatan dan Kesetiaan Yesus yang telah mengosongkan diri-Nya (kenosis), dengan cara Inkarnasi, yaitu melalui kelahiran-Nya dari seorang perawan, yakni Maria sebelum ia menikah dengan tunangannya Yusuf (Matius 1:18).
▪ Melalui kelahiran-Nya yang ajaib, membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang berinkarnasi menjadi manusia (Yohanes 1:14).
▪ Dan melalui pengosongan diri yang dilakukan Yesus Kristus, Dia memberikan teladan kerendahan hati, ketaatan dan kesetiaan yg harus diikuti bagi setiap orang percaya.
▪ KESETIAAN tidak bisa terlepas dari KETAATAN, karena Ketaatan merupakan wujud dari Kesetiaan (Yoh.3:16 ; 1 Yoh.4:14 ; Yoh.4:34 ; Flp.2:8)