Selasa, 25 Februari 2020

PENGAMPUNAN YANG DIBATALKAN


PENGAMPUNAN YANG DIBATALKAN

Oleh : Pdt. Erwan Musa


Pengampunan dosa adalah misi utama Tuhan Yesus datang ke dunia, dan Ia pun mengajar kepada murid-muridNya untuk mengampuni seperti yang Ia lakukan.
Mengampuni merupakan salah satu ajaran Kristiani yang terkenal.
Ajaran Yesus tentang mengampuni inipun diabadikan dan ditulis dalam salah satu injil dalam Alkitab oleh Matius.
Kita dapat membaca ajaran Yesus tentang mengampuni di dalam Matius 18:21-35.

Perumpamaan tentang pengampunan 


18:21 Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33 Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
18:35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."  (Matius 18:21-35)


■  Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari pembacaan kita tersebut diatas :

Pertama, pengampunan ilahi adalah anugerah Tuhan yang besar.
Bagaimana mungkin hal tersebut bukan anugerah yang besar ?
Kita bisa membayangkan bagaimana seorang Raja yang merupakan gambaran Allah melakukan perhitungan utang piutang dengan bijaksana, penuh belas kasihan dan murah hati.

▪ Dikatakan bahwa di dapati seorang hamba berhutang 10.000 Talenta.
▪ Talenta adalah ‘mata uang’ tertinggi pada waktu itu.
▪ Pada umumnya Satu Talenta = 34 Kg atau 6.000 Dinar dan 10.000 Talenta sama dengan 60 Juta Dinar.
▪ Jika upah satu hari kerja seorang hamba adalah 1 dinar, maka hamba itu harus melunasi hutang selama 60 Juta hari kerja, dengan kata lain hutang yang tak dapat dilunasi.

1 Dinar adalah upah pekerja 1 hari (Matius 20:2,13).
Katakanlah upah kerja minimum sekarang ± Rp. 100,000.-- per hari.

Dengan demikian, hutang yang dimaksud dalam Matius 18:24 di atas menurut pengandaian adalah sebesar Rp.100.000 X 60.000.000 hari kerja = 6 Trilyun, sebuah jumlah yang sangat besar, dan bagaimana mungkin utang sebesar ini dapat dilunasi ?
Walaupun seluruh harta bersama dengan seluruh keluarga dijual pun belum bisa menutup hutangnya.
Hamba ini mendapat mengampunan hutang dari Raja kira-kira sebesar nilai tersebut diatas.

Sang Raja mengetahui bahwa hamba tersebut tidak mampu melunasi hutangnya (Mat 18:25), dan ia tergerak oleh belas kasihan sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya" (Mat 18:27).

Jadi bukan mengurangi, bukan menghapus sebagian, bukan membebankan masa kerja seumur hidup kepada hamba tersebut karena hutangnya, tetapi Raja itu menghapuskan sama sekali !
Tidak tersisa satu sen pun !
Hutang yang akan membebani keluarganya turun temurun pun sekarang hilang total karena telah di bebaskan.
Pengampunan tersebut adalah gambaran anugerah yang sangat besar.
Hal tersebut bisa terjadi karena hati Sang Raja yang tergerak oleh belas kasihan, yaitu kasih yang mendalam yang mampu merasakan penderitaan hambanya yang dijerat hutang dan tidak dapat melunasi.

Namun, dilain pihak hamba yang telah diampuni hutangnya itu gagal memahami teladan dari Raja yang telah mengampuninya.
Hamba tersebut tidak mengenal belas kasihan, ia menuntut pelunasan hutang dari sesamanya yang berhutang kepadanya hanya sebesar 100 Dinar (kira-kira Rp.10,000,000.--), jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan 10,000 Talenta (Rp. 6 Trilyun).

Karena sikap yang tidak berbelas kasihan oleh hamba ini mengubah belas kasihan (pengampunan) Raja atas dirinya.
Raja itupun menghukum dia dan memaksa dia berada di dalam hukuman sampai hutangnya lunas.


Kedua, anugerah pengampunan merupakan dasar kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
Petrus bertanya kepada Yesus, katanya: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali ?" (Mat 18:21).
Lalu Yesus menjawab: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat 18:22).

Petrus bertanya, sampai sejauh mana pengampunan itu harus diberikan apabila seorang itu melakukan kesalahan yang terus menerus?
Petrus menganggap dirinya telah menjalankan tradisi Yahudi, dengan bertanya kepada Yesus : Sampai tujuh kali kah ... ?

Di dalam tradisi Yahudi, pengampunan harus diberikan hingga 7 kali sebelum seseorang berhak kehabisan kesabaran dan tidak lagi memberikan pengampunannya.
Dalam Taurat juga ditetapkan peraturan pembalasan yang setimpal (lihat, Keluaran 21:24 dan Matius 5:38 ).
Sangkanya, pengampunan sebanyak 7 kali sudahlah hebat dan cukup.

Angka 7 adalah angka favorit dalam Alkitab :
▪ Dalam pemahaman orang Yahudi Melambangkan Perjanjian Kekudusan dan Pengudusan.
▪ Kandil (menorah/ kaki dian) memiliki "tujuh" lampu.
▪ Tindakan pendamaian dan pentahiran diselesaikan dengan "tujuh" kali percikan.
▪ Pengukuhan Sabat Yahudi termasuk Tahun Sabat, dan Tahun Yobel berdasarkan perhitungan angka "tujuh".
▪ Golongan Kristen Arab melakukan "Shalat sebanyak 7 kali," mengambil dari teladan dari Daud yang melakukan doa pujian 7 kali sehari.
* Mazmur 119:164
LAI TB, Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil.
KJV, Seven times a day do I praise thee because of thy righteous judgments ׃

Angka 7 adalah simbol umum untuk segala hubungan dengan Allah dan sangat familiar di kalangan Yahudi, angka 7 juga melambangkan perjanjian kekudusan dan pengudusan.
Dan Tuhan Yesus mengangkat permasalahan itu melampaui perhitungan praktis dengan mengatakan " tujuh puluh kali tujuh kali "
Tuhan Yesus mengoreksi apa yang yang dikatakan Petrus.
Pernyataan Tuhan Yesus tentang "tujuh puluh kali tujuh kali," sebaiknya tidak diartikan secara harfiah = 490 kali.

Angka 70 adalah hasil perkalian antara 7 (angka hubungan kudus) dikalikan 10 (angka sempurna absolut).

Angka "sepuluh" (Ibrani: עֶשֶׂר - 'ESER) merupakan angka sempurna yang absolut.
▪ Kemah suci terbuat dari "sepuluh" tenda dengan "sepuluh" firman Allah berada di Ruang Maha Kudus.

Maka Angka 70 tersebut dimaksudkan = Hubungan kudus yang sempurna.
Dan dalam pengajaran Tuhan Yesus, angka 70 itu masih dikalikan 7 lagi.
Untuk maksud tujuan hubungan dengan sesama memberikan pengampunan yang terus menerus sempurna atau dengan kata lain hal ini sama artinya dengan kita harus selalu mengampuni.

Mengapa kita harus selalu mengampuni orang yang bersalah kepada kita ?
Karena pengampunan merupakan natur dari Kerajaan Sorga.
Karena kita telah terlebih dahulu menerima anugerah pengampunan yang besar.
Kesalahan saudara kita relatif lebih kecil dibandingkan dengan hutang dosa kita kepada Allah.
Jadi jika Allah telah mengampuni kita, masakan kesalahan saudara kita yang hutangnya hanya sebesar 100 dinar (dapat dilunaskan dengan upah kerja selama 3,5 bulan saja) tidak kita ampuni?
Hal ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Musa: “mata ganti mata”.
Anugerah pengampunan ilahi adalah dasar untuk kita selalu mengampuni kesalahan saudara kita. 

Jadi maksud Tuhan Yesus pada frasa "tujuh puluh kali tujuh kali" itu adalah, bahwa murid-murid-Nya tidak mempunyai hak menentukan batas untuk mengampuni.
Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam doa yang diajarkan-Nya tentang pengampunan :
.... dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami (Matius 6:12).

Dengan kata lain, kesediaan Allah untuk mengampuni kita tergantung pada kesediaan kita mengampuni orang lain :
"Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (Matius 6:14-15)


Ketiga, anugerah pengampunan ilahi bisa dibatalkan.
Hamba yang berhutang 10.000 Talenta dikatakan bahwa "ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya" (Mat 18:27).

Kata "membebaskan" adalah terjemahan kata kerja Yunani "ἀπέλυσεν" (apelusen) dan "menghapuskan" atau "mengampuni" adalah "ἀφῆκεν" (aphēken).
Kedua kata kerja ini dalam bentuk aorist tense, yang menyatakan peritiswa yang definitif telah terjadi.


Maksudnya ialah, Sang Raja benar-benar telah membebaskan sang hamba dari segala kewajibannya untuk melunasi hutangnya serta Sang Raja benar-benar telah mengampuni sang hamba yang tidak mampu melunasi hutangnya tersebut, sehingga terbebas dari konsekuensi dimana istri, anak dan segala miliknya yang akan di dijual.
Hamba itu tidak hanya "merasa" telah dibebaskan dari hutangnya dan "merasa" telah diampuni, tetapi benar-benar benar telah dibebaskan dan diampuni.

Tetapi oleh karena ulahnya sendiri yang tidak dapat mengampuni orang lain, mengubah keputusan Raja atas dirinya.
Matius mencatat: "Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya" (Mat 18:32‭-‬34).

Dengan kata lain, Pengampunan yang telah diterimanya dibatalkan. 
Ayat 35, merupakan konsekwensi dan keadilan Tuhan :
"Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu" (Mat 18:35).

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu. (Matius 6:14-15)


Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.  (Kolose 3:13)

■ KESIMPULAN :

Mari kita belajar melepaskan pengampunan yang sejati.
Hari ini kita pikirkan orang yang paling kita benci.
Orang yang paling mendatangkan kerugian di dalam hidup kita dan berusahalah memberikan pengampunan yang tulus dan sejati.


Dalam I Korintus 13 Paulus mengajar bahwa kita harus mendasari semua yang kita lakukan diatas dasar Kasih, jika tidak demikian maka segala sesuatu yang kita lakukan tidak ada gunanya, Paulus menyebutnya “BAGAIKAN GONG YANG BERKUMANDANG DAN CANANG YANG GEMERINCING”.

Jumat, 01 November 2019

HIDUP BAGI KRISTUS


HIDUP BAGI KRISTUS

Pdt. Erwan Musa


"Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu". 1 Korintus 6:20


Latar Belakang
▪Surat 1 Korintus di tulis oleh Paulus selama 3 tahun di Efesus (Kis.20:31), dan ditujukan kepada
jemaat Korintus yang didirikan oleh Paulus selama 18 bulan
▪Jemaat di Korintus terdiri dari beberapa orang Yahudi, tetapi kebanyakan adalah orang
bukan Yahudi yang dahulu menyembah berhala
▪Kota Korintus pada jaman Paulus merupakan kota metropolitan, kota yang sangat maju
peradabannya, makmur/kaya secara materi namun bejat secara moral
(Segala macam dosa merajalela dengan perbuatan cabul dan hawa nafsu)
▪Tujuan surat ini di tulis untuk menasehati jemaat Korintus agar tidak hidup secara "duniawi"
(1 Korintus 3:1-3), tegas memisahkan diri dari penyembahan berhala, dan tidak toleransi
terhadap perzinahan


●> Munculnya ayat 1 korintus 6:20, karena dilatar belakangi oleh orang-orang percaya di Korintus menyimpang dari kehidupan yang benar (ajaran Tuhan = kehidupan yang normal/sesuai kebenaran).

* Untuk dapat memahami ayat ini dengan baik, maka sebelumnya kita harus membaca 1 perikop atau 1 pasal bahkan 1 kitab korintus secara utuh.

* Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa kita telah DIBELI dg harga yg mahal dan TELAH lunas
dibayar ....
~ Paulus menggunakan istilah di beli diatas mengacu pada tradisi penebusan atau pembelian seorang hamba atau budak (doulos)
~ Perlu kita ketahui bahwa pada zaman itu seorang budak atau hamba tidak memiliki hak sama sekali
~ Jadi selama hidupnya ia harus melakukan kehendak atau perintah hanya untuk dan kepada tuannya atau pemiliknya dan wajib menerima perlakuan tuannya dalam hal apa saja.

Kata "dibeli" (yun) agorazo: Merupakan istilah atau gambaran seorang budak yang dibeli di pasar
budak (hal ini berbicara kepemilikan)

~ Maknanya bagi kita adalah, jika Tuhan Yesus telah membeli atau menebus hidup kita dari budak dosa dan menjadi milik Kristus, maka sesungguhnya kehidupan yang kita jalani sekarang adalah kita wajib hidup hanya bagi Dia (sang pemilik hidup kita)
ex: analogi tuan dan hamba tebusan

Jadi penebusan Kristus telah membebaskan kita dari belenggu dosa :
“dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Roma 3:23, 24).

Dan manfaat penebusan meliputi hidup kekal (Wahyu 5:9-10), pengampunan dosa (Efesus 1:7), pembenaran (Roma 5:17), lepas dari kutukan Taurat (Galatia 3:13), diangkat menjadi anggota keluarga Allah (Galatia 4:5), bebas dari belenggu dosa (Titus 2:14; 1 Petrus 1:14-18), didamaikan dengan Allah (Kolose 1:18-20), dan berdiamnya Roh Kudus di dalam diri kita (1 Korintus 6:19-20).

Ditebus berarti diampuni, dikuduskan, dibenarkan, diberkati, bebas, diangkat anak, dan didamaikan. Lihat pula Mazmur 130:7-8, Lukas 2:38; dan Kisah Rasul 20:28.

Kata tebus berarti “dibeli.”
Istilah ini khususnya digunakan dalam konteks ketika seseorang membebaskan budak (seperti penjabaran diatas).
Pemakaian istilah ini pada kematian Kristus di atas salib menggambarkan hal ini dengan amat jelas.
Jika kita “ditebus,” maka situasi dan kondisi kita sebelumnya adalah dalam perbudakan.

Allah telah membeli kebebasan kita, dan kita tidak lagi berada di bawah penawanan dosa atau hukum Perjanjian Lama.
Penggunaan penebusan secara metafora ini bisa ditemukan di Galatia 3:13 dan 4:5.

Berhubungan dengan konsep mengenai penebusan ini, muncul istilah harga tebusan.
Yesus membayar harga pembebasan kita dari dosa (Matius 20:28; 1 Timotius 2:6). KematianNya itu untuk menggantikan hidup kita.
Kitab Suci sangat jelas menyatakan penebusan hanya mungkin terjadi “melalui darahNya,” yaitu melalui kematianNya (Kolose 1:14).

Kita dulunya adalah hamba dosa, dihukum untuk terpisah selama-lamanya dari Allah.
Yesus membayar harga untuk menebus kita, menghasilkan kebebasan kita dari perbudakan dosa, dan menyelamatkan kita dari konsekuensi kekal dosa itu.

▪Roma 14:8
Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan.
Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.

▪Filipi 1:21
Karena bagiku hidup adalah Kristus  dan mati adalah keuntungan
Jabarkan....!!


●> Prinsip mengabdi dengan baik dan benar :
▪Galatia 5:24
Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya

▪Filipi 2:5
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus
~ Selama Yesus hidup di bumi, Ia hanya melakukan kehendak BapaNya :
Yoh.4:34 MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku

Kamis, 31 Oktober 2019

SIKAP HIDUP ORANG YANG BERORIENTASI PADA KERAJAAN SORGA

SIKAP HIDUP ORANG YANG BERORIENTASI PADA KERAJAAN SORGA 

Oleh : Pdt. Erwan Musa


Matius 13:44-46 :
13:44  "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.
13:46  Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu."


▪ Pada ayat-ayat tersebut Tuhan Yesus menggunakan 2 perumpamaan untuk menggambarkan hal Kerajaan sorga, yaitu pada ayat 44: di katakan bahwa hal kerajaan sorga ibarat "harta yang terpendam di ladang" dan yang kedua pada ayat 45: di katakan bahwa hal kerajaan sorga di ibaratkan juga "Seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah dan yang sangat berharga".

▪ Tuhan Yesus sering menggunakan perumpamaan dalam mengajar, karana dalam Yudaisme, menggunakan perumpamaan merupakan bentuk umum untuk mengajar.

▪ Nah, sekarang hal yang penting kita ketahui terlebih dahulu adalah bahwa pada zaman Tuhan Yesus, hal Kerajaan Sorga sangatlah diharapkan oleh bangsa Yahudi, karena pada saat itu bangsa Yahudi sedang dalam penjajahan bangsa Romawi, dan hal Kerajaan Sorga juga merupakan inti dari pengajaran Tuhan Yesus selama Ia berada di dunia pada saat itu.

▪ Alkitab juga mencatat bahwa selama Ia hidup di dunia ini, Tuhan Yesus berulang-ulang mengajarkan hal Kerajaan Sorga kepada murid-muridNya dan tidak berhenti sampai disana, alkitab juga berkata bahwa selama 40 hari setelah Ia bangkit dari kematianNya atau sebelum Ia naik ke sorga Ia juga berulang-ulang mengajar tentang Kerajaan Sorga kepada murid-muridNya.
▪ Kis.1:3b .... Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah (LAI).
▪ Terj. (BIS) : Ia berbicara dengan mereka mengenai bagaimana Tuhan memerintah sebagai Raja.

▪ Dalam Injil Lukas 4:43 menceritakan suatu kisah bahwa ketika Yesus akan meninggalkan Kapernaum dan hendak menuju ke Yudea, Ia ditahan oleh orang banyak yang mengikutiNya agar Ia tidak meninggalkan mereka, namun Yesus berkata kepada mereka : "Juga di kota-kota lain Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus."
Jadi yang harus menjadi catatan penting bagi kita ialah bahwa Yesus di utus ke dunia untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah.

Nah mari kita belajar apa makna kata Kerajaan yang di maksud oleh Tuhan Yesus.
▪ Makna kata "Kerajaan" dalam teks lain berarti pemerintahan Allah atau kehendak Allah yang dapat juga kita pahami sebagai kebenaranNya.

▪ Dalam Alkitab Perjanjian Baru (PB), kata “KERAJAAN” (Yun) βασιλεια ; “Basileia” /: bas-il-i'-ah yang berarti : tingkatan, kekuasaan, kedaulatan yang dimiliki oleh seorang raja.
Maksudnya ialah kekuasaan yang dimiliki oleh seorang raja atas suatu wilayah.

▪ Jika alkitab menggunakan kata “KERAJAAN ALLAH", maka sesungguhnya itu berarti menunjuk kepada pemerintahan Tuhan, kekuasaan Tuhan atau kedaulatan Tuhan atas segala hal dan wilayah yang tak terbatas.
Jadi hidup dalam pemerintahan, kuasa, dan kedaulatan Tuhan sama halnya dengan melakukan kehendak atau kebenaranNya dengan pemahaman dan makna yang sebenarnya.

▪ Jadi, yang Tuhan Yesus ingin capai melalui ajaranNya di atas ialah supaya setiap orang percaya memiliki orientasi hidup yang benar atau sikap hati yang sungguh-sungguh merindukan kerajaan Allah atau pemerintahan Allah atau kebenaran Allah lebih dari segalanya, bahkan dalam implementasinya orang percaya tersebut berani menjual segala yang dimilikinya atau melepaskan segalanya demi hidup dalam kehendak atau kebenaranNya atsu hidup dalam pemerintahan Allah.

▪ Maksud dari kata melepaskan atau menjual segala yang di milikinya ialah kerelaan untuk melepas atau meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi kita untuk dapat hidup seturut kehendak atau kebenaranNya yang sangat berharga dan bernilai kekal.
ex : ~ Paulus, ia berani dan rela melepaskan (asli : kehilangan) segalanya demi memperoleh Kristus dan kebenaranNya (Flp. 3:7-9)
▪ Kenapa demikian, karena Paulus sangat memahami bahwa pemerintahan Allah adalah hal yang sangat berharga dan bernilai kekal.

▪ Dan Tuhan Yesus berkata bahwa jika seseorang hidup dalam pemerintahan atau kehendak Tuhan, maka dengan pasti orang tersebut layak untuk masuk dan tinggal dalam KerajaanNya.

Matius 7:21 :
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga

MEMAHAMI MAKNA CIPTAAN BARU

MEMAHAMI MAKNA CIPTAAN BARU 

Oleh : Pdt. Erwan Musa



▪ 2 Kor. 5:17 : Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang

▪ Untuk dapat memahami dengan benar makna dan proses hingga kita menjadi ciptaan baru, mari kita mempelajari beberapa kata penting yang terdapat pada surat 2 Kor. 5:17 ini.

*》 Kata “jadi” pada ayat 17 tersebut, sesungguhnya merujuk kepada ayat 14-16, dimana Paulus hendak menjelaskan bahwa semua orang percaya sesungguhnya telah mati bersama Kristus dan tidak lagi hidup untuk diri sendiri.
▪Artinya kehidupan kita sudah tidak lagi bersifat duniawi; hidup kita sekarang bersifat rohani. “Kematian” yang di maksud oleh paulus adalah kematian kodrat dosa kita yang telah disalib bersama Kristus. Sebagaimana kita telah dikuburkan dan di bangkitkan bersama Kristus, sehingga sekarang kita “hidup dalam hidup yang baru” (Roma 6:4).
▪Jadi yang sedang dibahas Paulus sesungguhnya pada surat 2 Korintus 5:17 ialah bahwa setelah kita percaya kepada Kristus, kita menjadi pribadi yang baru yang telah di bangkitkan, dan sekarang kita mengenakan hidup sebagai “ciptaan yg baru.”


*》 Kata "ciptaan baru" (Yun) καινὴ κτίσις ; kainē ktisis :/ kahee-ne ktis'-is : ciptaan, penciptaan baru
~ KJV : new creature, devinisinya menunjuk kepada sebuah proses utk menjadi "mahluk baru"

▪Kata “ciptaan baru” hanya muncul 2 kali dalam Alkitab, dan hanya ditemukan dalam tulisan Paulus yaitu pada :
~2 Korintus 5:17: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
~ Galatia 6: 15: “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.”

▪Istilah Ciptaan Baru, dalam bahasa (ibr) "beri’a khadasa", yang merupakan istilah yang lazim di gunakan oleh orang-orang Yahudi, dan istilah tradisi ini biasa digunakan oleh guru-guru Yahudi untuk menyebut orang-orang non Yahudi yang bertobat menjadi Yahudi (proselit), dengan konsekuensinya mereka harus melakukan seluruh tradisi atau budaya dan adat istiadat Yahudi, yang sama halnya dengan kita, maksudnya ialah setelah kita percaya kepada Kristus kita mengenakan manusia ciptaan baru yg terus di proses hingga serupa seperti Kristus yang merupakan konsekwensi hidup sebagai orang percaya.

▪Dan kata baru pada ayat tersebut di pakai kata "kainē" (kata sifat) yang berasal dari kata dasar "kainos" yang memiliki makna : "sesuatu yang sudah ada tetapi dijadikan baru."
▪Kata Kainos yang digunakan Paulus ini berbicara mengenai “baru berdasarkan kualitas” Artinya, perubahan atau pembaruan yang dibicarakan Paulus bukanlah dengan jalan mengganti total diri seseorang, melainkan lebih tepat diartikan proses membersihkan jiwa seseorang atau proses regenerasi hingga karakternya diubahkan menjadi karakter yang baru hingga serupa seperti Kristus.


*》 kemudian kata “yang lama sudah berlalu.”
▪Maksud kata tersebut merujuk kepada segala sesuatu di dalam sinfull nature atau kodrat lama kita, yaitu kesombongan, kesukaan berdosa, kebiasaan buruk, dan sgl hawa nafsu jahat, yang harus kita perjuangkan untuk kita tinggalkan dan mengarahkn diri pada Ciptaan yang baru yang hanya mengarahkan pandanagan kepada Kristus, bukan kepada diri kita sendiri.
▪Sehingga dengan berlalunya yang lama, “yang baru sudah datang!” Hal-hal yang usang dan mati seharusnya telah digantikan dengan hal-hal baru, yang penuh dengan kehidupan dan kemuliaan Allah. Dengan jiwa yang baru lahir ini pasti suka terhadap hal-hal yang ilahi dan membenci hal-hal duniawi, dan dosa yang dahulunya kita pertahankan sekarang ingin kita buang dan tinggalkan.
▪ Sesuai dengan Firman Tuhan yang berkata : Kita telah “menanggalkan manusia lama serta kelakuannya” (Kolose 3:9), dan telah mengenakan “manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Efesus 4:24).

*》 Lalu kata yang terakhir yg kita akan bahas ialah kata "di dalam Kristus"
▪Hal ini merupakan syarat untuk menjadi ciptaan baru, jadi orang "Harus ada didalam Kristus” (en Kristus).
▪Untuk memahami hal ini, maka istilah “Kristen” harus terlebih dahulu kita pahami. Seorang “Kristen” bukanlah seorang yang hanya sekedar aktif ke gereja dan aktif mengambil bagian dalam melayani, atau dibesarkan dalam keluarga Kristen, walaupun setiap hal ini dapat menjadi bagian dari pengalaman dan perjalanan kekristenannya. Karena seorang Kristen adalah seorang yang dengan iman, telah menerima dan percaya pada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat dan terus mengerjakan keselamatannya hingga mengalami keserupaan dengan Kristus (Yohanes 3:16; Kisah 16:31; Efesus 2:8-9).

▪Mari kita perhatikan kata “didalam” pada ayat ini.
~ Untuk seseorang bisa berada didalam, maka orang tersebut harus aktif untuk bertindak agar dapat masuk kedalam. Bila ia menolak maka ia akan selalu berada diluar.
~ Wahyu 3:20, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”

~ Kata "di muka pintu" (Yun) thura :/thoo'-rah = di muka pintu, di ambang pintu, kesempatan
▪Artinya : kita tidak boleh membuang kesempatan yang Tuhan masih berikan, dan kesempatan hidup hingga saat ini merupakan kesempatan yang sangat berharga untuk kita gunakan sebaik-baiknya, untuk menggenapi, menanggapi dan meresponi kehendak Tuhan yang harus kita lakukan

~ Kata "Aku akan masuk" (Yun) eiserchomai :/ice-er'-khom-ahee = hidup di antara, berkumpul dengan ...
▪Maksudnya ialah, kalau kita mau meresponi kesempatan yang Tuhan berikan tersebut, maka kita akan mengalami persekutuan yang intim dengan Dia, sehingga semakin hari kita akan mengalami proses perubahan melalui penggarapan yang Ia lakukan untuk memproses dan membentuk kita ke arah yang semakin baik dan berkenan kepadaNya

▪ Roma 8:28-29 :
8:28  Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
8:29  Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.
Tuhan Memberkati

ALLAH TURUT BEKERJA DALAM SEGALA HAL HINGGA KITA MENCAPAI KESERUPAAN KRISTUS ROMA 8:28-29


ALLAH TURUT BEKERJA DALAM SEGALA HAL HINGGA KITA MENCAPAI KESERUPAAN KRISTUS (eksposisi)
ROMA 8:28-29

Oleh : Pdt. Erwan Musa


8:28 : Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
8:29 : Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

▪ Dalam surat Roma 8:28-29 terdapat penjelasan penting untuk membuktikan dan menunjukkan, bahwa Allah tidak secara sepihak memilih dan menentukan orang-orang tertentu masuk Surga dan yang lain masuk Neraka.
▪ Kesalahan memahami ayat ini bisa membangun teologi yang menyimpang dari kebenaran.


■ Mari dengan teliti kita memperhatikan Roma 8:28 :
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah."

▪ Ayat ini memberi makna bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, peristiwa yang besar atau yang kecil, yang menyenangkan atau yang menyusahkan, pengalaman yang pahit atau manis, yang mematikan atau menghidupkan, yang menguntungkan atau merugikan, menegaskan bahwa Allah turut bekerja di dalam semuanya itu, atau Allah bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihiNya.

● Ayat ini dimulai dengan kalimat : kita tahu sekarang.
▪ Kalimat ini penyambung kalimat atau ayat-ayat sebelumnya.
▪ Kalimat sebelumnya berbicara mengenai Roh yang memimpin nurani atau cara berpikir kita agar sesuai dengan kehendak Allah (ayat 26-27) => perikop mulai ayat 1 : Hidup oleh Roh
▪ Pada saat Paulus mengatakan kalimat "kita tahu sekarang," sesungguhnya ia sedang menunjukan sebuah perbedaan pemahaman oleh karena pengalaman perjalanan rohani antara orang Kristen dan orang yang bukan Kristen.
(Kristen = Pengikut Kristus Sejati)

● Kalimat “Allah turut bekerja” dalam teks aslinya adalah sunergei (συνεργεῖ), dari akar kata sunergeo (συνεργέω).
▪ Kata sunergeo merupakan gabungan dari dua kata, yaitu : sun dan ergon.
▪ Sun artinya bersama-sama, sedangkan ergon artinya bekerja atau melakukan sesuatu berkesinambungan atau terus menerus
▪ Jadi kata sunergei  berarti  'he works together'  (= ia bekerja bersama-sama).
~ bisa juga berarti : menolong
▪ Dan kata sunergei menunjuk kepada kegiatan yang berlangsung terus menerus.

▪ Selain dalam Roma 8:28, kata menolong ini juga dipakai sebanyak 4 kali di dalam Perjanjian Baru, yaitu : Markus 16:20 ; 1 Korintus 16:16 ; 2 Korintus 6:1 ; Yakobus 2:22

▪ Dari tulisan Paulus ini kita dapat peroleh pelajaran rohani bahwa melalui setiap peristiwa atau segala kejadian, Allah bekerja menggunakan semua hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia.
▪ Dalam hal ini, tidak dapat dibantah bahwa Allah membutuhkan sarana untuk mendewasakan orang percaya atau untuk mencapai keserupaan dengan Kristus.
▪ Hal ini secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa perubahan hidup orang percaya menuju kedewasaan tidak dapat berlangsung dengan mudah atau secara otomatis (harus melalui proses hidup)
▪ Jadi ada perjuangan, baik dari pihak Allah melalui Roh Kudus dan orang percaya yang menerima penggarapan untuk mencapai keserupaan dengan Kristus tersebut.

● Kemudian kalimat : Dalam segala sesuatu :
▪ Makna kalimat ini adalah bahwa Allah akan mendatangkan kebaikan dari semua kesesakan, pencobaan, penganiayaan, masalah dan penderitaan yang dialami oleh semua orang percaya, yang mengasihi Dia
▪ Jadi Allah tutut bekerja mendatangkan kebaikan melalui keterlibatanNya dengan cara menggunakan sarana segala hal, sehingga menghasilkan yang baik untuk orang-orang yang mengasihi Dia

▪ Jadi melalui segala hal yang kita alami, Tuhan akan turut bekerja di dalamnya untuk menghasilkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Allah.

▪ Dalam kata: “segala sesuatu", itu bukan termasuk dosa atau kelalaian kita yang dengan sadar karena disengaja (ayat Rom 8:6,8; 6:23; Gal 6:8); karena tidak seorang pun yang dapat membenarkan dosa dengan mengatakan bahwa Allah akan mendatangkan kebaikan melalui dosa tersebut.

● Konteks sebenarnya dari surat Roma 8:28-29 adalah usaha atau sebuah proses dimana Allah memberi “kebaikan” kepada orang-orang percaya yang menjadi umat pilihan yang ada di dalam rencanaNya.
▪ Kata “kebaikan” dalam teks aslinya adalah agathos (ἀγαθός), yang dapat berarti of good constitution or nature (baik dalam arti secara natur atau konstitusi atau secara unsur).
▪ Jadi kata “kebaikan” yang dimaksud dalam ayat ini adalah “menjadi serupa dengan Yesus.”
▪ Inilah sesungguhnya inti keselamatan, dimana manusia mengalami pembaharuan hidup sampai pada tingkat mengalami perubahan kodrat, dari kodrat dosa beralih kepada Kodrat Ilahi
▪ Hal ini lebih dari sekadar perubahan secara moral umum.
▪ Tentu saja perubahan ini merupakan sebuah proses perjalanan hidup
▪ Setelah kita memahami maksud Allah tersebut, maka seharusnya segenap potensi dan waktu yang dimiliki oleh setiap orang percaya selama hidup dimuka bumi ini, seharusnya hanya diarahkan untuk mencapai hal tersebut sepenuhnya.

● Selanjutnya kalimat "Bagi Mereka yang Mengasihi Allah" :
▪ Suatu kenyataan yg jarang bahkan tdk pernah di sampaikkan dan di tekankan bahwa janji Allah yang luar biasa ini hanya dikhususkan bagi orang-orang yang mengasihi Allah saja.
▪ Karena ini bukan sebuah janji yang bersifat umum, yang berlaku untuk semua orang kristen pada umumnya.
▪ Janji ini berlaku hanya untuk orang percaya yang mengasihi Allah.
▪ Hal ini di dukung dg surat Paulus di ayat (17) Paulus menguraikan keadaan rohani orang percaya yang benar-benar sebagai anak" Allah dan yang mau "menderita dengan Kristus".

▪ Dalam konteks pada ayat ini, janji ini terbatas bagi mereka yang mengasihi Allah saja dan yang telah menyerahkan diri kepada Allah melalui iman kepada Tuhan Yesus (bd. Kel 20:6; 1Kor 2:9).
▪ Jadi iman kepercayaan orang Kristen tidak boleh hanya dibangun diatas kebahagiaan dan keuntungan dan kesenangan semata mata yang Tuhan berikan, tetapi juga penderitaan bersama Kristus.

=> Supaya segala hal dan segala peristiwa yang terjadi yang kita alami dapat memberi manfaat untuk mendatangkan kebaikan bagi kita,
▪ Apa yang harus kita lakukan menurut kebenaran diatas ..... ?
~ Kita harus mengasihi Allah.

▪ Bagaimana cara sederhana untuk kita mengasihi Allah....?
~ Taat secara terus menerus melakukan perintah-perintahNya (Yoh. 14:15)
" Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku."
▪ Kata "mengasihi" (yun) agapao : mengasihi/mencintai, menyukai, merindukan
▪ Kata "menuruti" (yun) tereo : menuruti, menjaga, memelihara, menaati, melakukan,
menyimpan
~ Yoh.14:21 :
Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.
Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi
dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.

● Pada kalimat “yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” bukan berarti mereka ditentukan untuk pasti selamat masuk surga, tetapi menunjuk kepada sekelompok manusia yang diberi kesempatan memahami dan mengikuti rencana Allah
▪ Adapun apakah seseorang digarap oleh Allah untuk mengalami perubahan kodrat atau dikembalikan ke rancangan Allah semula tergantung bagaimana respon masing-masing individu.
▪ Respon tersebut ditunjukkan dengan “mengasihi Allah.”, berbicara mengenai “mengasihi” menunjuk pada sikap hati seseorang.
▪ Dan sikap hati merupakan bagian terdalam dalam diri manusia yang ada di wilayah kedaulatan manusia itu sendiri.
▪ Orang yang tidak mengasihi Allah tidak akan mungkin digarap oleh Allah untuk menerima kebaikan, yaitu untuk menjadi serupa dengan Yesus.

▪ Jadi hal “mengasihi Allah” merupakan suatu hal yang bersifat pribadi.
▪ Tuhan tidak akan berintervensi di dalam hati manusia sampai manusia kehilangan kebebasannya.
▪ Berbicara mengenai hati yang mengasihi, hal ini menunjuk kepada kebebasan setiap individu di dalam menentukan nasib dan keadaannya.
▪ Dengan demikian sangatlah jelas bahwa keselamatan masing-masing individu juga diperankan oleh kehendak bebas masing-masing individu tersebut dalam meresponi anugerahNya.
▪ Karena jika setiap hati manusia menjadi wilayah yang diintervensi oleh Allah, maka manusia menjadi boneka semata-mata, sehingga manusia tidak perlu bertanggungjawab kepada siapapun.
▪ Jadi tidak mungkin Allah menggerakkan hati manusia mengasihi Dia, sebab jika demikian maka kasihnya dipaksakan, tidak natural dan tidak murni.
▪ Penjelasan ini menegaskan bahwa Allah tidak memilih dan menentukan secara sepihak orang-orang yang pasti selamat masuk surga.


■ Roma 8:29 menuliskan :
“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

● ”Kalimat “orang yang dipilih-Nya dari semula” => untuk serupa dengan gambaran anakNya
▪ menunjuk kepada orang yang hidup di zaman Perjanjian Baru, yang mendengar Injil dengan benar, dan memiliki potensi jasmani dan rohani untuk bisa meresponi Injil dengan benar.
▪ Orang-orang yang memiliki kesempatan untuk mendengar Injil yang benar, diharapkan merespon dengan benar sehingga benar-benar terpilih atau mengalami dan memiliki keselamatan, atau dikembalikan ke rancangan Allah semula yang berkeadaan sebagai anak-anak Allah, seperti Tuhan Yesus.

● Kata “dipilih” dalam teks aslinya dipakai kata (yun) proegnon (προέγνω) dari akar kata proginosko (προγινώσκω).
▪ Kata proegnon menunjuk suatu tindakan, kejadian atau peristiwa yang sudah terjadi atau sudah berlangsung.
▪ Kata ini berarti know something beforehand orin advance, know someone previously (diketahui sebelumnya, mengenal seseorang sebelumnya atau pada waktu sebelumnya).
▪ Ini berarti kalimat “orang yang dipilih-Nya” sebenarnya menunjuk kepada orang-orang yang sudah dikenali sebelumnya oleh Tuhan untuk mendapat kesempatan mendengar Injil.
▪ Tidaklah salah kalau diterjemahkan “dipilih.”

● Selanjutnya kalimat “ditentukan-Nya dari semula” dalam teks aslinya di pakai kata proorisen (προώρισεν) dari akar kata proorizo (προορίζω).
▪ Kata proorizen menunjuk kepada suatu tindakan, kejadian atau peristiwa yang sudah terjadi atau sudah berlangsung.
▪ Adapun kata “proorizo” dalam teks aslinya adalah decide on beforehand, determine in advance (ditentukan sebelumnya, mengenal seseorang sebelumnya atau pada waktu sebelumnya).
▪ Kata proorizo atau “ditentukan” menunjuk kepada standar yang harus dicapai oleh orang-orang yang dipilih untuk menerima keselamatan yaitu “serupa dengan gambaran AnakNya".

● ” Kalimat “serupa dengan gambaran Anak-Nya” dalam teks aslinya di pakai kata summorphous tes eikonos tou huiou autou (συμμόρφους τῆς εἰκόνος τοῦ υἱοῦ αὐτοῦ).
▪ Kata “serupa” dalam teks aslinya adalah summorphous (συμμόρφους) berarti similarity of form or nature having the same form as, conformed to, similar in form or nature (memiliki kesamaan dalam natur atau kodrat, bukan sekadar mirip).


KESIMPULAN :
Kehendak Tuhan dalam kehidupan semua orang percaya adalah mencapai keserupaan dengan gambaran AnakNya atau serupa seperti Kristus, oleh karena itu dalam segala keadaan yang kita hadapi atau alami, kita harus tetap memfokuskan orientasi hidup kita dan bertindak sesuai kebenaranNya agar kita mencapai keserupaan dengan Kristus.

Senin, 14 Oktober 2019

MENGUTAMAKAN ORANG LAIN

MENGUTAMAKAN ORANG LAIN


Oleh : Pdt. Erwan Musa


■ Filipi 2:1-11 :

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan,
2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan,
2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;
2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
2:11 dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!


● Hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. (ayat 3-4)

▪ Contoh sederhana dan sangat klasik dari sekian banyak contoh lainnya di mana kita menemukan banyak orang yang hidupnya tidak mengutamakan sesamanya terlebih dahulu :
Ketika naik atau mau turun dari bus, duduk di angkot, dipesawat, lift dll

●  Rasul Paulus mengingatkan kita untuk belajar mengutamakan orang lain sama seperti Yesus yang tidak mengutamakan diri-Nya sendiri (ayat 3-8).

▪ Coba kita bayangkan, apabila Yesus sewaktu berada di dunia tidak mau mengutamakan  umatNya, tentu kita tidak bisa menerima keselamatan yang Ia berikan kepada semua orang percaya.

▪ Yesus sendiri telah memberikan teladan hidup kepada kita bagaimana Dia hidup selalu mengutamakan kepentingan umat manusia, maka sudah sepatutnya kita juga harus mau belajar hidup mengutamakan orang lain di atas kepentingan kita.

▪ Sebenarnya dengan mengutamakan orang lain akan membuat hidup kita menjadi lebih berarti. ▪ Tentu saja pada akhirnya nama Tuhanlah yang akan dimuliakan dari semua hal yang kita lakukan untuk orang lain.
▪ Untuk itu, jika saat ini kita masih sering tidak peduli pada kepentingan orang lain, masih mengabaikan perasaan orang lain, tidak suka menolong orang lain maka kita harus belajar mengutamakan orang lain dari hal-hal sederhana, karena terkadang kemuliaan Tuhan yang besar dapat muncul dari sikap kecil kita yang mengutamakan orang lain.
~ Contoh : Mengutamakan dalam hal mendoakan pergumulan orang lain, sekalipun kita sedang
bergumul untuk hal yang sama mungkin atau hal-hal lainnya

▪ Wiliam Ward, penulis berbagai artikel dan puisi, pernah berkata, “Ada tiga kunci menuju kehidupan yang lebih berlimpah :
~ memperhatikan orang lain,
~ memberi dorongan kepada orang lain,
~ dan berbagi dengan orang lain.

” Jika kita perhatikan ketiga hal tersebut diatas semuanya melibatkan orang lain.
Apa yang dikatakan Ward adalah gaya hidup yang seharusnya dimiliki oleh orang Kristen, yaitu : mengutamakan orang lain dan membuat mereka memiliki keadaan yang lebih baik setelah bertemu dengan kita.

● 1 Korintus 10:24 :
Jangan seorang pun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.

● Sikap yang sejati dalam mendahulukan orang lain yang Tuhan Yesus lakukan (2 Korintus 8:9), Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

● Alkitab berkata bahwa orang yang mementingkan dirinya sendiri akan kehilangan apa yang dipertahankan :
Matius 16: 25 : Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

● "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."  Yakobus 3:16

▪ Salah satu faktor penyebab terjadinya perpecahan dalam kehidupan keluarga, jemaat, persekutuan, pelayanan dan bermasyarakat adalah sikap mementingkan diri sendiri. 
▪ Mementingkan diri sendiri disebut pula selfish atau juga egois, yang dalam kamus  'Webster'  didefinisikan:  memerhatikan diri sendiri secara tidak pantas atau secara berlebih-lebihan, mendahulukan kenyamanan dan keuntungan diri sendiri tanpa memperhatikan, atau dengan mengorbankan kenyamanan dan keuntungan orang lain.

▪ Ketika seseorang mementingkan diri sendiri ia akan menjadikan dirinya sebagai pusat dan tidak lagi mempedulikan kepentingan dan perasaan orang lain. 
▪ Inilah yang menjadi sumber dari banyak kekacauan dan kejahatan  (ayat nas). 
▪ Mengapa? 
Karena orang yang mementingkan diri sendiri pasti sulit menjalin kerjasama dengan orang lain sebagai anggota tim di dalam menyelesaikan sebuah tugas; 
▪ Orang yang mementingkan diri sendiri juga cenderung mudah marah, tersinggung serta tidak bisa menguasai diri.
▪ Sebagai orang percaya kita harus membuang jauh sifat mementingkan diri sendiri agar kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain.


▪ Seorang percaya atau pelayan Tuhan sudah pasti dan seharusnya mengutamakan orang lain.
▪ Yesus Kristus dalam hidup-Nya memiliki filosofi: “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat. 20:28).
▪ Seorang pemimpin yang melakukan apa yang Yesus lakukan, tidak akan berpikir mengenai kebutuhan diri sendiri; mereka hanya berpikir bahwa diri mereka senantiasa kurang bagi sesamanya.
▪ Memimpin seperti Yesus menuntut sikap rendah hati untuk menerima siapapun yang dibebankan kepada-Nya (Mat. 11:28).
▪ Kristus telah memberikan contoh kerendahan hati yang paling sempurna ketika Ia disalibkan.
▪ Kerendahan hati (humility) seperti yang ditampilkan Yesus ini merupakan kerendahan hati yang paling ekstrem yang telah dibuat Yesus semasa hidup-Nya.
▪ Semua itu dilakukan demi untuk kepentingan orang lain.
▪ Hal inilah yang benar-benar dikatakan dalam naskah Yunani, yaitu mengesampingkan kemuliaan, artinya bahwa Ia memiliki kemuliaan tetapi menanggalkannya (Yoh. 17:4), yaitu: kedudukan sebagai Anak Allah (Yoh. 5:30; Ibr. 5:8), kekayaan yang tak terbatas (2Kor. 8:9), segala hak surgawi sebagai Yang Mahatinggi (Luk. 22:27; Mat. 20:28), dan penggunaan sifat-sifat Ilahi-Nya (Yoh. 5:19; 8:28; Yoh. 14:10).

▪ “Pengosongan diri-Nya” ini tidak sekadar berarti secara sukarela menahan diri untuk menggunakan kemampuan dan hak istimewa Ilahi-Nya, tetapi juga dengan sangat rela menerima penderitaan, kesalahpahaman, perlakuan buruk, kebencian, dan kematian keji yang dianggap kutuk di kayu salib.
▪ Pemahaman tentang kenyataan sikap rendah hati yang ditampilkan Yesus, secara esensial dapat terus ditelaah melalui penggalian secara mendalam teks Filipi pasal 2 ini.
▪ Seorang yang mengutamakan orang lain, pasti akan terus berusaha bagaimana hidupnya menjadi berkat bagi sesama.
▪ Ia tidak mempersoalkan apakah perbuatannya tersebut dilihat orang atau tidak.
▪ Baginya, kedudukan bukanlah sesuatu yang penting, sebab baginya yang penting adalah kehadirannya berarti bagi semua orang.
▪ Pelayan Tuhan seperti ini, melibatkan orang lain dalam pekerjaan Tuhan dan rela mengalah demi kepentingan pekerjaan Tuhan.
▪ Ia juga tidak akan bersikap diskriminatif dan nepotisme dalam pelayanan.
▪ Jabatan pelayan Tuhan tidak akan dipertahankan hanya karena ambisi untuk menyerahkan kekuasaan gerejani kepada keluarga sendiri.

● Dalam Filipi 2:7 tertulis: melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
▪ Kata penting dalam teks ini untuk menunjukkan esensi pelayanan Yesus Kristus adalah etapeinosen (εταπεινωσεν).
▪ Kata etapeinosen adalah kata kerja yang memiliki beberapa pengertian, antara lain to depress, to humiliate (in condition or heart), abase, to bring low, humble (self).
▪ Kata tapeino (ταπεινω) dalam Filipi 2:7 hendak menunjukkan kesediaan-Nya merendahkan diri dengan kerelaan.
▪ Hal ini ditegaskan dengan kata heauton (εαυτον), yang juga ada dalam ayat itu yang diterjemahkan “himself”.
▪ Perendahan diri yang dilakukan Tuhan Yesus adalah perendahan diri yang dilakukan dengan sengaja, sadar dan penuh kerelaan.
▪ Hal ini memberi indikasi yang jelas bahwa kesediaan-Nya merendahkan diri bukanlah sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan.
▪ Dan semua ini terjadi karena kasih-Nya yang besar kepada manusia.
▪ Dari tindakan pengosongan diri ini, ditunjukkan bahwa semua orang berharga di mata-Nya.
▪ Perendahan diri Yesus merupakan pintu terbuka, bahwa Ia menyambut setiap orang yang datang kepada-Nya.
▪ Hal ini berarti bahwa Yesus menghargai setiap individu dan tidak meremehkan orang lain.
▪ Dengan demikian kerendahan hati berarti menyadari dan menekankan pentingnya orang lain.
▪ Hal ini bukan berarti merendahkan diri sendiri. Kerendahan hati juga mengangkat orang lain menjadi lebih penting dari diri sendiri.
▪ Harus diakui bahwa setiap orang memiliki kelebihan.
▪ Hal ini terbukti dalam prestasi pelayanan (jumlah jemaat, asset gereja, karunia yang menyertai dan lain-lain) dan menghargai orang lain yang tidak lebih unggul dari diri-Nya.
▪ Seorang pelayan Tuhan harus memiliki kerendahan hati seperti Tuhan Yesus.


● Jadi hanya dengan cara membangun hidup yang sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus dan belajar membangun hubungan yang dekat, mendalam, dan terus-menerus dengan Tuhan, maka kita pasti akan memiliki sikap dan gaya hidup mengutama atau mementingkan orang lain.

Sabtu, 12 Oktober 2019

KRISTUS MENGGENAPI HUKUM TAURAT


KRISTUS MENGGENAPI HUKUM TAURAT

Oleh : Pdt. Erwan Musa


■ Matius 5:17-18 :
“Janganlah kamu menyangka, bahwa aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”

● Dalam Alkitab TL (Terjemahan Lama, LAI) Kata "MENIADAKAN" dipakai kata "MEROMBAK" (ayat 17).
Terjemahan KJV menggunakan kata "DESTROY".
Dalam teks Yunani memakai kata: καταλύω ; kataluo

Dalam artian leksikalnya antara lain :
- Menghancurkan
- Membubarkan
- Menceraiberaikan
- Menumbangkan
- Membuang
- Menghapuskan

● Lalu kata "MENGGENAPI", versi KJV menggunakan "FULFIL".
Yunani gunakan kata πληρόω <plēroō> yang bila diartikan secara leksikal/makna yang sesuai dengan kamus adalah sbb :
- Membuatnya lengkap.
- Menjadikan sempurna.
- Menyelesaikan.

● Kata "satu iota" maknanya : perwakilan tanda terkecil dari aksara Ibrani
ιωτα - iôta adalah huruf Ibrani "YOD" artinya "titik/ garis kecil" atau "QOTS", artinya "duri" atau "garis kecil."

● Pada ayat 18, kata "DITIADAKAN" dlm versi KJV : "PASS" (ASV : 'pass away').
Yunani memakai kata "παρέρχομαι" <parerchomai>, yang bila diterjemahkan :
- Berlalu/Lewat.
- Menjauh.
- Lenyap/menghilangkan

● Kemudian Kata "sebelum semuanya terjadi” => hampir semua versi Inggris dengan tepat memilih
terjemahan “sebelum segala sesuatu diselesaikan atau dicapai” (accomplished).
▪ Mengacu kepada pengorbanan atau penyaliban Kristus (tetelestai).

● Jadi dari pengertian etimologisnya dapatlah ditarik pemahaman logis Alkitabiah :
Bahwa Yesus Kristus datang (pada kali pertama) bukanlah untuk "membuang atau menghapuskan" PENERAPAN Taurat dari tengah-tengah bangsa Israel tetapi membuat Taurat itu menjadi LENGKAP atau SEMPURNA dalam pengajaran-Nya.
Dan Yesus MENYELESAIKAN pemahaman tentang Taurat dalam doktrin KASIH.



■ Beberapa bukti PENGAJARAN Yesus yang MENGGENAPI (MENYEMPURNAKAN) Hukum Taurat

= Taurat berkata :
5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.

=> Yesus memberikan pemahaman yang sempurna dari hukum tsb :
5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.


= Taurat berkata :
5:27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.

Yesus memberi pengertian yang lebih LENGKAP untuk hal tersebut :
5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.


= Taurat berkata :
5:33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.

Yesus MEMBATALKAN hukum sumpah dengan mengatakan :
5:34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
5:35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;
5:36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun.
5:37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.


= Taurat mencatat :
5:38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.

Yesus MEMBATALKAN hukum balas-dendam tersebut dengan mengajarkan :
5:39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.


= Taurat memerintahkan :
5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.

Yesus MELENGKAPI dan menjadikan SEMPURNA dalam pengajaran KASIH :
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.


● Jadi Semua bentuk PENGAJARAN Yesus yang MELENGKAPI & MENYEMPURNAKAN tersebut, TIDAK DIBUAT untuk DITERAPKAN pada Taurat Bangsa Israel (menambahkannya pada Hukum Taurat) tetapi menjadi suatu produk HUKUM BARU yang harus diterapkan dalam gereja TUHAN saat ini yaitu HUKUM KRISTUS.



■ Roma 10:4 :
Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.

▪ Kalimat ini adalah kunci penting bagi kehidupan iman orang percaya.
▪ Karena jika Yesus tidak “meniadakan” hukum Taurat, maka hukum Taurat masih dan tetap mengikat sampai saat ini (Rom 10:4 ; Gal 3:23-25 ; Ef 2:15).
▪ Dengan demikian, perintah seperti hari Sabat harus masih berlaku, bersama dengan banyak dasar lainnya dari Hukum Musa.
▪ Yesus justru berkata dengan sederhana menjelaskan tidak ada satu “iota atau titik” pun (perwakilan tanda terkecil dari aksara Ibrani) yang akan dihilangkan sampai semuanya digenapi.
▪ Oleh karena itu, tidak ada bagian dari hukum Taurat yang ditiadakan sampai seluruhnya benar-benar digenapi tujuannya.
▪ Jadi Yesus telah menggenapi seluruh hukum Taurat.



■ Kalimat “Kristus adalah kegenapan hukum Taurat” bisa memiliki dua makna:
● Pertama, Tuhan Yesus datang mengajarkan kebenaran, yaitu hukum Taurat yang disempurnakan.

▪ Hukum Taurat Musa sebelum kedatangan Yesus bersifat lahiriah, yaitu dalam pelaksanaannya hukum tersebut terverifikasi secara lahiriah atau secara kelihatan seperti hukum-hukum dalam banyak agama.
▪Jadi, pelanggaran terhadap hukum, cukup dapat terverifikasi secara kelihatan atau secara lahiriah.
▪ Ini adalah hukum yang belum lengkap atau sempurna, sebab dosa hanya terverifikasi atau dalam pembuktiannya hanya cukup secara yang kelihatan atau secara lahiriah.
▪ Tetapi hukum Taurat yang disempurnakan bersifat batiniah yaitu dalam pelaksanaannya tidak bisa terverifikasi secara lahiriah atau kelihatan, sebab bersifat batiniah atau menekankan batiniah.

⊙ Sebagai perbandingan, antara hukum Taurat Musa dan hukum Taurat yang disempurnakan dapat dijelaskan sebagai berikut:
• Kalau dalam hukum Taurat Musa konsep atau pengertian membunuh adalah menghabisi nyawa seseorang; tetapi kalau zaman Perjanjian Baru, membenci sudah berkategori sebagai pembunuhan.
• Kalau dalam hukum Musa pengertian berzinah adalah melakukan hubungan badan secara lahiriah (terverifikasi secara lahiriah); tetapi dalam hukum Taurat yang disempurnakan memandang lawan jenis sampai pada ‘mengingini’ atau birahi, sudah terkategori sebagai perbuatan zinah.
• Dalam hukum Taurat Musa berlaku hukum mata ganti mata, gigi ganti gigi; tetapi hukum Taurat yang disempurnakan berlaku hukum harus mengasihi musuh dan berbuat baik bagi orang yang menganiaya.
Pada dasarnya hukum Taurat yang disempurnakan adalah cermin dari kesucian Allah sendiri.


● Kedua, pengertian “Kristus kegenapan hukum Taurat” adalah bahwa Yesus telah menjadi pelaku hukum Taurat secara sempurna atau tidak bercacat.
▪ Yesus bukan saja mampu melakukan hukum Taurat yang diberikan Musa, tetapi juga mampu melakukan dengan sempurna hukum Taurat yang telah disempurnakan.
▪ Hal ini tidak pernah bisa dilakukan oleh siapa pun di sepanjang sejarah kehidupan manusia sejak Adam.
▪ Semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, artinya bahwa tidak ada orang yang mampu melakukan kehendak Allah.
▪ Yesus adalah manusia pertama yang menemukan kemuliaan Allah yang hilang, artinya mampu melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.



▪ Firman Tuhan ini mengatakan: Kristus menjadi kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.

■ Apa maksud dari kalimat “sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang percaya”?
● Pertama, orang percaya menerima pembenaran oleh pengorbanan Yesus.
▪ Yesus yang tidak bersalah (dapat melakukan hukum Taurat dengan sempurna), tetapi harus memikul semua dosa akibat kesalahan manusia.
▪ Hanya “manusia yang tidak berdosa” yang dapat memikul dosa manusia lain.
▪ Dan ternyata hanya Yesus yang dapat mengambil tempat memikul hukuman dosa, dengan demikian manusia dapat dibebaskan dari segala hukuman sehingga orang percaya dapat dibenarkan.

● Kedua, di dalam anugerah Tuhan Yesus Kristus, orang percaya dapat memahami kebenaran yang lebih mendalam daripada pemahaman yang dimiliki orang-orang Yahudi pada zaman itu.
▪ Selain memahami kebenaran dari hukum Taurat yang disempurnakan yang adalah cermin kesucian Allah sendiri, kita juga dimampukan untuk melakukannya.
▪ Maknanya dalam hal ini manusia dimungkinkan untuk menemukan kemuliaan Allah.


■ KESIMPULAN :
▪ Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kehidupan orang percaya harus lebih berkualitas dibanding dengan orang-orang yang belum dan tidsk percaya pada Tuhan Yesus