Selasa, 03 Juli 2018

KEHIDUPAN YANG IDEAL


KEHIDUPAN YANG IDEAL

Oleh : Pdt. Erwan Musa


Tuhan Yesus berkata dalam Injil Matius 5:48 :
Karena itu haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di Sorga adalah sempurna
Pertanyaannya adalah, bagaimana kesempurnaan Bapa di Sorga ?

Surat Kolose 1:15 berkata :
KRISTUS adalah GAMBAR ALLAH, kata Gambar (yun) eikon = hakekat, bentuk, rupa Allah.

Dan di ayat 19 pada Surat Kolose 1, berkata bahwa pada Kristus berkenan diam seluruh KEPENUHAN ALLAH,
kata KEPENUHAN (yun) pleroma = Kesempurnaan BAPA

Dari ke dua ayat diatas (Kol. 1:15 ; 19) dapat disimpulkan bahwa di dalam diri Tuhan Yesus terdapat Kesempurnaan Bapa di Sorga.
Dengan kata lain Yesus menjadi prototype atau model yang harus diikuti atau diteladani oleh setiap orang percaya, karena Ia adalah gambar atau kesempurnaan Allah.
Kitab injil mencatat seluruh teladan hidup dan ajaran Tuhan Yesus.

Sebagai ayat referensi, Tuhan Yesus juga berkata kepada murid-muridNya. Di dalam injil Yohanes 14:7-9 :
~ Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku, Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.
~ Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa

Jadi Sempurna seperti Bapa di Sorga adalah sama dengan menjadi serupa sepert Kristus, yang merupakan kehidupan ideal yang harus dikenakan oleh setiap orang percaya.

Kehidupan yang ideal adalah kehidupan yang dibangun dan diarahkan terus hingga serupa seperti Kristus, dengan kata lain keserupaan dengan Kristus harus menjadi pencapaian hidup bagi setiap orang percaya.

Jadi kesimpulannya ialah, hal yang sungguh-sungguh harus kita pahami sebagai orang percaya adalah kita dipanggil untuk mengenakan kualitas hidup seperti yang Tuhan Yesus kenakan, yaitu hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa di Sorga.

Yohanes 4:34, Yesus berkata : "MakananKu ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya

Dengan demikian kita layak disebut sebagai orang Kristen atau pengikut Kristus yang sejati dan yang akan memerintah bersama Dia dalam KerajaanNya

Tuhan Memberkati

BERJAGA-JAGA


BERJAGA - JAGALAH

Oleh : Pdt. Erwan Musa


Ibrani 9:27 berkata, “ Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.”

=》 Pada ayat tersebut terdapat dua pemahaman penting, yaitu :
• Semua manusia pasti akan mengalami yang namanya kematian.
• Sesudah mati semua manusia pasti akan berhadapan dengan penghakiman.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa “Kematian” bukanlah akhir dari segalanya, karena setelah kematian akan ada penghakiman yang harus dihadapi oleh semua orang.
Oleh karena itu kita harus menyadari dan memahami bahwa setiap kita satu saat pasti akan mengalami yang namanya kematian, namun untuk saat dan waktunya tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.
Menanggapi hal tersebut di atas, untuk itu kita harus menggunakan kesempatan hidup yang Tuhan masih berikan ini dengan sebaik-baiknya dan mengisinya dengan hal-hal yang berguna dalam rangka membangun hidup yang berkenan kepada-Nya sebagai bentuk respon kita kepada anugerah yang Ia berikan.

Mari kita belajar dari sebuah tradisi pada zaman Romawi kuno :

Di mana jika seorang Jendral berhasil menang dalam peperangan dan menguasai daerah lain, ia akan disambut bagaikan seorang raja dan bahkan dewa. Kemudian secara tradisi pada saat itu, prajuritnya yang paling berjasa mendampinginya akan berjalan di belakangnya dan diminta untuk selalu mengucapkan satu kalimat dalam bahasa Latin yaitu "Memento Mori" yang artinya ingatlah kamu juga akan mati atau ingatlah akan hari kematianmu.

Jadi dimasa lalu, kalimat ini dipakai sebagai ucapan untuk mengingatkan orang agar tidak sombong atau lupa diri.

Memento mori mengajarkan kita agar kita selalu memberikan yang terbaik bagi sesama kita dan bagi Tuhan dalam hidup ini, khususnya pada waktu kita menjalani aktivitas kita sehari-hari supaya kita melakukan segala hal seakan-akan hari yang kita jalani itu merupakan hari terakhir kita.

Firman Tuhan berkata bahwa tidak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi hari esok.

Matius 24:42 berkata, “Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.”

Arti kata berjaga-jaga yang Firman Tuhan ajarkan adalah kita harus bersungguh-sungguh mempersiapkan hidup kita, karena kita tidak tahu kapan saat semuanya akan tiba.



Tuhan Memberkati

Quote Rohani Kristen






Selasa, 26 Juni 2018

KONSEKUENSI HIDUP SEBAGAI ORANG PERCAYA


KONSEKUENSI HIDUP SEBAGAI ORANG PERCAYA

Oleh : Pdt. Erwan Musa

Kolose 2:6-7 :
2:6, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.”
2:7, “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”

■ Dari dua ayat di atas dapat disimpulkan bahwa, setelah seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat, ia harus terus membangun kesempurnaan hidup seperti Tuhan Yesus.

Kita akan mempelajari kata-kata penting pada kedua ayat di atas :

● Pada ayat 6, Rasul Paulus hendak menegaskan kepada semua orang percaya bahwa jika telah menerima Yesus sebagai Tuhan, selanjutnya ada hal yang harus di lakukan, karena pertumbuhan rohani sejatinya dimulai dari menerima dan menjadikan Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Kemudian ada hal yang harus kita lakukan yaitu dengan memahami kata-kata penting yang dimulai dari makna “karena itu”.

● Di samping merupakan kata sambung, kata "Karena itu" juga merupakan atau merujuk kepada konsekuensi hidup setiap orang percaya 

● Pada ayat 6 ini, Paulus juga katakan bahwa setelah seseorang menerima Yesus, ia juga harus hidup “ Tetap” di dalam Dia. 
Kata Tetap artinya ‘tidak berpindah, tidak berubah, tidak goyah, dan tetap konsisten’. 
Sebagai contoh sebuah pohon awalnya di tanam di satu tempat, selanjutnya ia harus hidup tetap dan berbuah di tempat itu juga. 
Artinya setiap tindakan apa saja yang kita lakukan, termasuk perkataan dan gerak-gerik hidup kita harus tetap di dalam Dia atau harus sesuai dengan ajaran dan gaya hidup yang sama seperti Tuhan Yesus. Bukan hal beragama, tetapi mengenakan kehidupan Yesus. 
Konsekuensi hidup sebagai orang percaya adalah mengenakan hidup tidak bercela. 

1 Korintus 10:31 menyatakan bahwa, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.


● Kemudian dilanjutkan di ayat 7 dikatakan bahwa kita harus “berakar” di dalam Dia. 
Kata “ hendaklah kamu berakar di dalam Dia” (yun) rhizoo ;/hrid-zo'-o artinya “berakar secara teguh.” 
Kata kerja dalam bahasa Yunani ini memiliki makna “berakar sekali untuk selamanya.” 
Artinya “terus-menerus, berusaha konsisten, seperti akar sebuah pohon tidak mungkin diam,” karena fungsi akar pada sebuah pohon ialah untuk menyokong dan memperkokoh berdirinya tumbuhan di tempat hidupnya, untuk menyerap air dan garam-garam mineral dari dalam tanah dan mengangkut air dan zat-zat makanan yang sudah diserap ke tempat-tempat pada tubuh tumbuhan yang memerlukannya. 
Jadi kekuatan sebuah pohon tidak ditentukan dari keindahannya, melainkan karena ditunjang oleh akar yang kuat, karena ketika sebuah pohon berakar dengan kuat, maka ia akan dapat bertahan, tidak mudah tumbang dan tetap kokoh berdiri.

Begitu pula di dalam hidup kita sebagai pengikut Kristus, kekristenan yang berkualitas tidak dinilai dari seberapa lamanya atau bagaimana tampilan luar menjadi orang percaya, sebab yang terpenting adalah, apakah kita sudah bertumbuh dan berakar di dalam Yesus. 
Tuhan sangat merindukan setiap umatNya untuk selalu bertumbuh semakin kuat dan menjadi dewasa di dalam Dia. 

Oleh karena itu, kita harus berusaha supaya kita berakar di dalam Kristus agar kehidupan kita tidak mudah goyah dan menjadi kuat didalam situasi apapun yang sedang kita hadapi. 


■ Untuk dapat berakar dalam Kristus, maka hidup kita harus dibangun di atas dasar Firman Tuhan yang benar. Karena ketika hidup kita berakar kuat maka kita dapat berbuah di dalam Dia. 

Matius 7:24-25 menegaskan bahwa hanya mereka yang mendengar firman, serta melakukannya yang dapat bertahan saat menghadapi segala persoalan, oleh sebab itu kita harus menghidupi setiap Firman yang Tuhan berikan. 

Mari kita mencermati kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus :

7:24 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 
7:25 “Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.”

Kata "mendengar" (Yun) akouo ;/ ak-oo'-o = mendengar dan memahami dengan utuh. 
Arti kata ini adalah bahwa setiap orang percaya harus mau berusaha untuk memahami dengan benar makna ajaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dengan arti yang sebenarnya.


Kata "melakukan" (Yun) poieo ;/ poy-eh'-o = bertindak dengan benar, menetapkan untuk menjadikan kebenaran sebagai patokan dalam bertindak setiap hari.


● Prinsip inilah yang Paulus maksudkan pada Surat Kolose 2:7 ...."dibangun di atas Dia" .... 
Ayat ini mengacu pada tradisi di Palestina yaitu jika seseorang akan membangun sebuah rumah, karena umumnya tanah di Palestina di atasnya di lapisi oleh pasir yang tebal, untuk itu sebelum mereka membangun, mereka harus menggali tanah tersebut terlebih dulu sampai menemukan batu yang keras yang akan dijadikan dasar bangunan rumah mereka, maka selanjutnya barulah mereka mulai membangun di atas batu tersebut. 
Tradisi ini sebenarnya sama dengan proses seseorang membangun kekristenan yang sesungguhnya, dimana seseorang harus membangun berdasarkan kebenaran yang benar, yang dihasilkan dari pemahanan firman Tuhan yang benar.

Perkataan Yesus di atas mengajarkan hal yang sangat penting, karena jika kita benar-benar memahami ajaran yang Tuhan Yesus ajarkan dan mau mengikuti cara hidup yang Ia peragakan selama Ia hidup dimuka bumi ini, maka kita pasti akan memiliki kehidupan yang kokoh dan berkualitas dalam menjalani hidup ini, sehingga kita tergolong menjadi orang-orang yang bijaksana (Yun) phronimos ; / fron'-ee-mos yaitu orang-orang yang berhati-hati dalam bertindak dan berpikiran sehat, sehingga hidup kita berkenan kepada Tuhan. 

Jadi ketika kita terus berusaha untuk berakar di dalam Dia, sekalipun kita mengalami goncangan dan pergumulan hidup yang berat, maka kita pasti akan tetap dapat berdiri dengan kokoh.


● Kemudian dikatakan bahwa kita harus berusaha untuk tetap dan bertambah teguh di dalam iman yang telah diajarkan. 
Kata “Teguh” berarti “kokoh, teguh juga berarti stabil” 
Jadi ada usaha yang kita lakukan untuk hidup bertambah teguh dalam ketaatan kita kepada semua ajaran yang telah kita terima atau pahami. 
Yang di maksud Paulus di sini adalah dalam kita membangun hidup kekristenan, kita tidak angin-anginan (kadang rohani, kadang duniawi). 
Kata “teguh” juga memiliki makna yang kedua yaitu “kita tidak mudah berkompromi.” 
Jika seseorang benar-benar memahami kebenaran itu bernilai kekal, maka orang tersebut tidak akan mudah berkompromi atau meninggalkan kebenaran. 
Jadi apapun yang kita alami kita harus tetap berusaha untuk mentaati ajaran atau kebenaran-Nya. Dan keteguhan iman seseorang terbukti ketika ia sedang mengalami pergumulan, kesusahan, pencobaan, dan ujian.

Kesimpulannya adalah ketika kita menjalani kekristenan atau kehidupan yang sesungguhnya sebagai orang percaya, maka kita akan mengalami terjadinya pertumbuhan “dua arah” yaitu “Berakar di dalam Dia” dan “dibangun di atas Dia,” dengan kata lain, kita akan mengalami petumbuhan ke bawah dan pertumbuhan ke atas, yang seluruhnya mengarah pada Kristus, sebagaimana halnya dengan kehidupan sebuah pohon.

Tuhan Memberkati !!!

Quote Rohani Kristen






Senin, 25 Juni 2018

MAKNA IBADAH YANG SEJATI DALAM KONTEKS SURAT ROMA 12:1-2

MAKNA IBADAH YANG SEJATI DALAM KONTEKS SURAT ROMA 12:1-2

Oleh : Pdt. Erwan Musa


Dalam Roma 12: 1-2 berkata :

12:1 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Dari kedua ayat di atas dapat dikatakan bahwa :

GAYA HIDUP SEBAGAI ORANG YANG MELAKUKAN IBADAH YANG SEJATI SETIAP HARI, MERUPAKAN GOAL YG HARUS DI KENAKAN OLEH SETIAP ORANG PERCAYA

Pertanyaannya bagi kita ialah, apakah makna Ibadah yang Sejati yang dimaksudkan pada ayat di atas?

Sebelum kita membahas 2 ayat tersebut di atas, kita harus pahami terlebih dahulu bahwa struktur Surat Roma dibagi menjadi 2 bagian yaitu:

▪Roma 1-11 berbicara tentang Doktrinal, yaitu Keselamatan dan hidup di dalam Yesus

▪Roma 12-16 berbicara tentang Praktikal, yaitu Praktik dari Doktrin yang di ajarkan pada pasal 1-11


Untuk kita dapat memahami makna Surat Roma 12:1-2 tersebut, mari kita mempelajari beberapa kata penting yang terdapat didalamnya :

● Kata “karena itu” pada ayat 1, merupakan kata sambung dari kata atau kalimat sebelumnya, dan kalimat ini sesungguhnya merupakan kalimat penting, dimana setelah Paulus menyampaikan doktrin keselamatan di dalam Kristus (psl. 1-11), dan puncak doktrinnya pada surat Roma 11:36 : “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.”
Maksudnya ialah Paulus menyadarkan bahwa hidup dan segala yang kita miliki semua dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia.
Selanjutnya ia menasihati sebagai bentuk respon yang harus kita lakukan yaitu mempersembahkan tubuh kita kepada Allah.

Kata “mempersembahkan” (Yun) Paristemi artinya “menyediakan, mengabdikan ...hidup dan segalanya...”
Kata ini biasa di gunakan di lingkungan Istana, untuk orang-orang bawahan Raja mengabdi kepada Rajanya.
Dan istilah tersebut mengacu kepada tradisi peribadatan umat Israel pada jaman dahulu dalam mempersembahkan korban kepada Allah di bait Allah di Yerusalem.
Jadi mempersembahkan di sini adalah penyerahan hidup yang total hanya kepada Tuhan dan tidak boleh kepada yang lain.
Orang percaya yang hidup di era Perjanjian Baru harus mempersembahkan ‘Tubuh’, sementara di era Perjanjian Lama adalah ‘Binatang’.

Kata " tubuh " yang Paulus maksudkan di sini adalah “ Seluruh pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Dengan kata lain seluruh kemampuan dan kegiatan kita harus dipersembahkan (diabdikan) hanya kepada Tuhan.
Kita temukan ayat-ayat paralelnya dalam :
▪1 Kor 10:31, “jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”
▪1 Kor 6:19-20,”Setelah kita menerima penebusan Kristus, tubuh kita milik Tuhan sepenuhnya, sehingga kita harus memuliakan Tuhan dengan tubuh kita.”
▪1 Kor. 6:13, “Tetapi tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan.
▪Kol.3:5 , “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi..”

Jadi kita harus melatih dan mengarahkan seluruh perbuatan tubuh kita setiap saat, supaya semua Yang kita lakukan sesuai dengan kebenaran, dan menjadi kebiasaan atau memiliki gaya hidup sebagai orang benar.
Bukan hal pemberian kita yang Tuhan kehendaki, tetapi Ia menghendaki diri kita sendiri.

Kata “Persembahan” di sini Paulus menyebutnya dengan “persembahan yang hidup”.
Jaman dulu persembahan hanya binatangnya saja, dan hanya imam yang melakukan, sementara orangnya tidak.
Jaman Perjanjian Baru orangnya yang terutama menjadi korban persembahan, dan segala yang ada padanya, “Karena segalanya dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia.”

Kata “hidup” di sini (yun)= ‘Zao’ ; ‘Dzah’-o artinya ‘hidup kembali.
Jadi mengacu kepada hewan kurban yang dipersembahkan pada zaman dulu di mana harus hewan hidup bukan hewan mati.
Memiliki arti yang sama seperti yang terdapat juga dalam :
▪ Roma 6:4 : .. 'kita akan hidup dalam hidup yang baru', dimana ayat ini biasanya digunakan sebagai dasar sakramen baptisan air.
▪ Roma 8:11 : Hidup yang baru, artinya hidup yang dibangkitkan oleh Roh Kudus. *
▪ Roma 6:11 : Dan karena orang percaya harus hidup bagi Allah, dan mereka 'telah mati bagi dosa'.

Jadi, 'persembahan yang hidup' artinya penyerahan diri kita kepada Tuhan dan selanjutnya berjuang membangun kehidupan baru yang menjauhi dosa dan menentang kuasa dosa.
Dosa artinya kemelesetan hidup (keluar dari kehendak Tuhan).

● Persembahan itu disebut juga “persembahan yang kudus” .
Korban persembahan yang dikehendaki Allah adalah persembahan yang kudus yang sama artinya dengan suci, bersih, terpisah dari kekotoran dan dikhususkan.
Kritera korban persembahan yang layak pada zaman dahulu adalah tidak boleh cacat sedikit pun. HARUS KOSHER : HALAL, LAYAK. (istilah bahasa ibrani)
Firman Tuhan berkata yang berkenan kepada Allah artinya layak, yang disukai, yang pantas, dan yang sesuai dengan kemauan Tuhan.

● Paulus juga menulis di ayat 1 bagian akhir sebagai konklusi ayat tersebut adalah “Ibadahmu yang sejati”.
Dalam terjemahan bahasa Yunani di pakai kata “ logike latreia”.

Kata ‘Ibadah’ (Yun) λατρεια - latreia, merupakan bentuk kata kerjanya berarti 'pengabdian', berbakti”
Kata ini hanya di pakai menunjuk pengabdian hanya kepada Tuhan.
Kata ‘berbakti’ dalam Mat.4:10 b juga memiliki pengertian yang sama.
Kata “yang sejati” (Yun) λογικος - logikos artinya 'sesuai akal budi atau kodrat yg sesungguhnya'

Jadi pemahaman ayat 1 ini dapat disimpulkan bahwa :

Kita sebagai orang-orang yang telah di tebus dan mendapatkan anugerah Tuhan, wajib mengabdikan seluruh hidup dan aktivitas kita setiap waktu atau segala kegiatan yang kita lakukan di abdikan hanya untuk Tuhan.
Sambil terus-menerus membangun kehidupan baru yang tidak bercacat di hadapan Tuhan, karena hal tersebut merupakan pengabdian yang dikehendaki Tuhan atau yang sesungguhnya dikodratkan untuk manusia rohani lakukan.
Arahnya ke manusia batiniah dan bukan lahirlah, seperti pada Perjanjian Lama persembahan korban hanya dengan binatang atau hewan saja.

● Selanjutnya pada ayat 2, untuk kita dapat mengabdi atau berbakti dengan standar atau kualitas yang ditetapkan Tuhan (ayat 1), maka pola dan gaya hidup kita harus berbeda dengan pola dan gaya hidup dunia.
Paulus berkata : “Jangan kamu menjadi serupa dengan dunia ini” Terjemahan secara harfiah berkata , 'jangan lagi biarkan dirimu menjadi sepola dengan dunia ini.
Kata “biarkan” menunjuk pada ‘proses perusakan yang berjalan terus dan otomatis, sehingga jika kita tidak beralih maka perusakan hidup kita akan lebih parah.
1 Yohanes 2:17 berkata, “ Dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya.”

Dan untuk tidak menjadi serupa atau tidak hidup sama dengan pola dunia ini, Paulus menasihati :
“ Tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu "..... (yun) : berubah oleh pembaharuan pikiran. Mengapa Pikiran .... ?
Karena Pikiran adalah pusat kehendak manusia, pusat pengambilan keputusan yang menentukan tindakan kita.
Pembaruan hidup dikerjakan oleh Roh Kudus ( Roma 7:6 ; 8:4).
Namun, Paulus tegaskan bahwa manusia itu sendiri harus berusaha juga membarui diri.
Artinya adalah kita harus brainwashing atau mencuci otak kita dengan kebenaran yang murni dan benar.
Brainwashing adalah upaya rekayasa yang lakukan untuk mengubah doktrin atau pemahaman. Menanam dotrin bagi orang kristen baru atau mengganti pemahaman yang salah dari orang kristen lama dengan pemahaman yang benar, dan sekaligus membentuk filter juga dalam diri kita.

Dan pada bagian akhir dari ayat Roma 12:2 tersebut menjadi tujuan yang diharapkan dari kalimat sebelumnya yaitu, supaya “kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah..”

Kata " membedakan " (Yun) dokimazein/bentuk kk, artinya : memeriksa, menguji ...
Kata ini maksudnya adalah untuk seseorang dapat mengerti kehendak Allah tidak dengan sendirinya mengerti (otomatis), karena dalam kehidupan sehari-hari setiap orang dihadapkan dengan berbagai macam keadaan, sehingga sering mengalami kesulitan baginya untuk menentukan sikapnya.


KESIMPULAN :
Dengan berusaha memperbarui pikiran setiap hari maka akan sangat menolong kita untuk “dapat membedakan mana kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Dengan demikian, kita memiliki gaya hidup setiap hari Sebagai orang yang melakukan ibadah yang sejati.

Tuhan Memberkati !!!